Apapun jika ini tulus, kita akan bertemu lagi di masa depan

Minggu, 11 September 2016

Anak Tangga

(Source: www.kaskus.co.id)

Aku hanya harus menahan selama sepuluh detik dari rasa nyeri yang menyeruak akibat sepatu sempit yang kupaksa untuk dimasuki kaki dengan ukuran lebih besar dari seharusnya. Jika tidak begitu, mungkin sekarang Cinderellalah yang berjalan dengan kereta kuda bersama pengawal menuju Istana.
*
Kausedang jatuh cinta. Memang seperti itu. Pada Lana, laki-laki pemilik bulu mata lentik seakan-akan memenuhi kepalamu dan menyelinap dalam rongga pikiranmu atau lebih tepatnya ia mengganggu rutinitasmu. Laporan untuk atasanmu yang biasanya bisa kaukerjakan dalam satu jam kini terbengkalai hingga tiga kali lipat lamanya. Meskipun masih tepat deadline, waktu istirahatmu terenggut sia-sia oleh pesan-pesan sialan yang membuatmu tersenyum. Ah, ini terlalu berlebihan untuk disebut sia-sia.
Ada kalanya kauakan membuat janji dengan Lana di sela-sela kesibukan kalian. Secangkir teh hangat di tangan kiri, sepiring kue bersama biskuit turut berhias diri, dan sinar hangat mentari, dan tawa renyah perbincanganmu dengan Lana menjadi musik pelengkap sore penuntun senja pergi. Kaumenyebutnya sebagai kenangan tentang kebahagiaan apa saja yang telah terlapis. Cangkir kosong, piring kosong, kursi kosong, dan apa-apa yang ada di sekitarmu telah merekam betapa bahagianya engkau sore itu.
Pernah suatu ketika kaumenangis sendirian di bawah langit biru siang hari di antara kerumunan banyak orang. Kauingat betul kejadiannya; terpaku pada kaca kafe yang menembus pemandangan kekasih-tiga-tahunmu bercengkrama dengan teman dekatmu. Kaumarah dan memaki mereka dan masih membekas bagaimana mereka tidak mengacuhkanmu.
Kauberjalan terhuyung keluar kafe lalu menghubungi Lana. Tak lama kemudian ia datang dan menenangkanmu. Membelikanmu es krim dan menemanimu berkeliling taman. Lana tak segan-segan membuat mimik muka konyol hanya untuk membuatmu tertawa. Dan benar saja. Kautertawa. Lana memang pria seperti itu; ada di saat waktu yang tepat.
Kauselalu menatap mata pria itu dengan tatapan teduh akan kenyamanan. Hanya menatapnya mampu menjadi alasan agar kautersenyum. Pernah sekali kauterhenyak mendapati Lana terbangun ketika dengan diam-diam kaumengelus bulu matanya saat dia tertidur di bangku taman. Terdiam dan takut akan kemarahan. Lana justru tersenyum padamu dan menawarkan untuk mengantarmu pulang.
*
Aku tahu benar Cinderella memiliki paras rupawan. Jadi kusuruh dia membersihkan rumah, mencuci pakaian, memasak dan mencuci piring sehingga ia tidak punya waktu untuk berdandan dan datang ke pesta. Aku bukanlah pemilik satu-satunya gaun pesta indah nan menawan dan sepatu kaca di antara tamu yang hadir. Dan siapa bilang pemeran utama ialah melulu mengenai pemilik gaun pesta dan sepatu kaca? Setiap tamu yang hadir pun bintang utama!
*
Kejadian di kafe bukanlah kali pertama kaumemergoki kekasihmu bermain-main dengan temanmu. Kausudah melihatnya dua bulan lalu dan kauhanya diam saja. Kautidak marah. Tidak pula terluka. Karena kausudah merasa hambar dengan hubungan yang kalian jalani. Bisa jadi karena kekasihmu menyukai orang lain dan tidak perhatian lagi denganmu. Mungkin saja karena kalian memang sudah sama-sama tidak saling menyukai satu sama lain. Dalam sebuah hubungan akan terasa sulit jika tidak ada lagi kesalingan. Tetap saja matamu menganak sungai mengalir mencapai dagu dan terjun bebas pada jalan tempat kakimu menapak menahan gemetar. Bagaimanapun mereka adalah laki-laki yang kaukencani dan teman yang mendengarkan keluh kesahmu.
Kehadiran Lana begitu menarik perhatianmu. Dia orang baru yang mencoba berteman dengan orang lain. Lana tahu mengenai kekasihmu karena sesekali kekasihmu menjemputmu di kantor; hanya sekadar tahu bahwa kau memiliki seorang kekasih. Kaubelum terlalu dekat dengannya dan hebatnya kaumengerti bahwa kaumenyukainya.
“Tolong temui aku. I’m not okay.”
Saat kaumelihat kejadian dua bulan lalu terulang kembali, kaumenangis dan sengaja menghubungi Lana. Kauberpikir bahwa mungkin itu adalah waktu yang tepat untuk membuat kalian menjadi lebih dekat. Dan berhasil. Riasan wajah luntur dan usahamu menangis telah membuahkan hasil. Karena diingatan Lana, engkau adalah perempuan yang terluka karena dicurangi kekasihmu.
*
Malam itu kekasihmu menjemputmu. Tidak seperti biasanya, sepanjang perjalanan kalian hanya terdiam di dalam mobil. Kautidak berani berbicara karena kautahu kaubersalah. Dan kekasihmu tidak secerewet biasanya. Hingga akhirnya kaumerasa waktu berhenti berdetik dan kenyataan menghantam kepalamu.
“Laki-laki itu, kamu menyukainya?”
Kauterpekik dalam hati dan tetap diam. Kekasihmu menghela nafas panjang. Dia menatapmu dan kepalamu tak bergerak barang satu mili untuk menatapnya. Kauhanya fokus ke jalanan dengan kediamanmu dan sesekali kaumelihat kekasihmu lewat ekor matamu.
“Caramu menatapnya seperti caramu menatapku dulu saat pertama kali bertemu. Aku . . masih mengingatnya. Kamu tidak pandai berbohong.”
Kautahu kekasihmu bertemu dengan teman dekatmu keesokan harinya – dua bulan lalu – mengenai kesedihannya atau lebih tepatnya mengenai bagaimana kauberpaling kepada laki-laki lain. Kauterdiam di balik pohon melihat matanya yang memerah dan sesekali kaumendengar suaranya yang berubah sedikit parau. Bagaimanapun kalian sudah merencanakan untuk melangsungkan pernikahan tahun depan.
Kaudatang karena temanmu sebelumnya telah menghubungimu dan mengatakan ada janji temu dengan kekasihmu. Secara jelas kautahu perihal kejadian hari itu. Tidak ada niatan sedikit pun untuk menjelaskan pertanyaan semalam dari kekasihmu. Dan sekarang pun kautidak ingin memeluknya dengan kebohongan rasa. Lalu pada pertemuan kedua kali kaumelihat mereka di kafe itu lagi, kaumarah dan memaki mereka sebagai jalan pintas untuk mengakhiri hubungan kalian. Namun kautetap saja menangis. Dan kakimu bergetar karena dalam pikiranmu kauhanya ingin mengingat bahwa kekasihmulah yangmenyakitimu; bahwa kaulah pemeran utama dalam skenario drama yang kaubuat sendiri.
*
Kereta kuda kunaiki dengan nyaman. Aku tak henti-hentinya tersenyum. Akulah Puteri negeri ini di masa mendatang. Sisa hidupku akan berakhir di Istana bersama Pangeran. Tak bisa kubayangkan bahwa hal-hal yang selama ini kuimpikan telah berada di depan mataku. Kereta kuda sampai di Istana. Kaki kuayunkan dengan anggun menuruni kereta.
*
Sisa hujan membekas pada jendela kaca. Dingin. Musim hujan telah tiba. Seorang pelayan mengantarkan pesanan teh kalian. Hari-harimu dipenuhi Lana. Seperti pertama kali jatuh cinta, hanya dia seorang yang ada dipikiranmu.
“Jadi bagaimana hubunganmu dengan mantan kekasihmu, Ara?”
“Baik. Kita masih berteman. Dan tetap berteman. Kenapa?”
“Tidak. Hanya sedikit khawatir kamu akan menangis lagi seperti itu,” ucap Lana sambil menambahkan gula batu pada secangkir tehnya.
“Tidak bisakah kamu berhenti khawatir dan menjadi kekasihku saja?” Ucapmu dengan memandang Lana. Dia berhenti mengaduk tehnya dan mendongak menatapmu.
“Tiara . . .”
“Jangan menjawabnya aku mungkin akan malu!”
“Kamu tahu Pangeran yang mencari pemilik sepatu kaca yang ditinggalkan saat pesta? Aku tahu Cinderella sengaja meninggalkannya agar dicari Pangeran. Dan Pangeran memberi kesempatan pada gadis di seluruh Desa untuk mencobanya. Aku . . .” Lana terdiam.
“Aku khawatir pada semua teman dekatku. Kamu tahu itu. And there is no special feeling to you. I am sorry.”
*
Sepuluh detik. Kukira aku hanya perlu sepuluh detik untuk menahannya. Aku terjatuh dan berteriak kesakitan. Aku melupakan sesuatu, bahwa sepatu ini tertinggal di anak tangga Istana. Dan kakiku tidak sanggup lagi menopang rasa sakit karena memaksanya melewati tanjakan tersebut dengan sepatu yang tidak pas. Kurasa sepatu kaca murka dan mengadu pada Ibu Peri.
*
Menyesap pagi pada secangkir kopi pahit di tangan kiri; tidak melulu mengenai teh manis hangat. Hanya ada engkau dan bangku kosong yang menemani. Kausesap sekali lagi bibir cangkir yang terpaut pada jemarimu dan kauhirup sedap aroma kopi. Kaududuk sendirian. Tidak lagi Lana atau siapapun berotasi pada pikiranmu. Senyum merekah dari bibirmu melihat lalu lalang kesibukan pagi hari. Ada hal yang perlu disadari. Jika ia ditetapkan bukan menjadi milikmu, maka ia tidak akan jatuh pada pangkuanmu.
Menjajaki lima per delapan anak tangga kehidupan kemudian jatuh terjengkang bukanlah akhir dari hari ini sebab kaumasih memiliki kesempatan untuk berjumpa pagi di lain hari. Menatap mentari hangat mampu menjadi peluruh perjalanan malam-malam temarammu yang tak sempat terkunyah rapi. Kauhanya perlu bangun lalu berdiri dan menghentak lagi tanjakan tangga pertama. Bahwasanya setiap pagi kauakan menapaki anak tangga kehidupan yang dikemas bersama secangkir kopi permasalahan dengan harap melaju kencang bak kaki seringan kapas.


Mlg, Oktober 2015