Apapun jika ini tulus, kita akan bertemu lagi di masa depan

Rabu, 27 Maret 2013

Hati Seseorang Berubah Setiap Saat


“Mereka membuat seolah-olah akulah orang yang paling jahat. Sampai akhir, kenanglah aku sebagai orang yang pernah jahat padamu.”
Dalam diri sesorang selalu ada sikap baik dan jahat. Selalu berbuat jahat membuat jiwa tak sehat, tetapi selalu berbuat baik tidak memungkinkan terkadang juga membosankan. Aku yakin, hati seseorang akan selalu berubah setiap saat.
Awal tahun lalu, saat aku masih memakai putih abu-abu, dan kamu yang sampai sekarang masih memakainya, bersama denganmu sebenarnya sangat menyenangkan. Aku menyukai nama depanmu, tapi aku tidak suka nama panggilan dari teman-temanmu. Kamu anak kecil yang terlalu baik, punya banyak teman, dari anak di bawah tingkat sampai di atas tingkatmu. Karena sikap baikmu itu , sampai-sampai kamu tidak bisa membedakan mana yang tulus dan mana yang berpura-pura.
Berawal dari celoteh seorang teman, sebenarnya kisah kita sudah ada yang mengatur, kamu aktornya dan aku aktris serta sutradaranya. Lambat laun drama itu tidak ber-ending, karena hati selalu berubah setiap saat.
Berakhir, tanpa alasan yang pasti. Aku memutuskan berlari. Saat itu aku tahu aku sudah benar-benar menyakitimu, tapi kamu masih memberi semangat untuk ujian terakhirku. Aku masih ingat ketika kelas kami berolahraga di lapangan tengah, aku tahu kamu memperhatikanku dari depan kelasmu, gedung atas. minuman yang kamu beri saat itu, sebenarnya aku sedikit sedih karena mereka menghabiskannya.
Teman-teman satu club bolamu, mereka benar-benar menjengkelkan. Cacian karena aku melakukan hal seperti ini kepada anak kecil sepertimu, aku tertekan. Yang mereka tahu, aku hanya bermain-main , mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, begitu juga kamu.
Saat itu aku memang tidak stabil, selalu lebih mendengar pendapat orang, memang seperti itulah. Aku orang yang jahat? Mungkin. Bahkan saat aku pergi, pintumu tetap terbuka lebar. Bulan lalu saat kita bertemu, disini masih berdebar. Berdebar karena bersalah. Kupikir, dengan kamu tidak mengetahui yang sebenarnya, kamu sakit, dan kamu akan lupa.
Tetaplah seperti ini. Sampai akhir, kenanglah aku sebagai orang jahat, agar tidak ada alasan lagi untuk mengingatku.

Sabtu, 23 Maret 2013

Aku Minta Maaf

"Kalau ingin berbohong lakukan dengan apik, kalau ini rahasia pastikan aku tidak akan mengetahuinya sampai aku mati."


Aku tidak tahu bagaimana bisa memulainya, tapi yang pasti ini adalah kesalahanku yang paling buruk. Melupakannya, atau menyembunyikannya membuat hati sesak. Namun kalau ini terbongkar, aku tidak akan baik-baik saja.

Teman macam apa aku ini? Meskipun tanganku tidak turut campur dalam pembentukan takdirmu, meskipun aku hanya penonton panggung sandiwara mereka, tapi aku tetaplah penonton yang menertawakan Hye Mi ketika temannya mulai menjauhinya.
Ini hampir dua tahun dan aku masih rapat-rapat meyembunyikannya, hanya saja aku tidak ingin kehilangan teman sepertimu. Rasa bersalah selalu mengejar ketika senyummu selalu tersungging saat bertemu. Karena anak kecil dalam diriku yang tidak tumbuh, aku melakukan hal kekanak-kanakan.
Aku hanya ingin minta maaf, tetapi tidak tahu dengan cara seperti apa dan apa yang perlu kukatakan saat meminta maaf. Karena selama ini aku berbohong dengan sangat rapi. Terkadang bebannya lebih berat dari sebongkah batu yang sering kita lihat di aliran sungai itu, jadi kurasa hanya ini tempat yang bisa untuk meminta maaf. Aku selalu berdoa untuk kebahagiaan dan kesehatanmu. Melihatmu yang sekarang bahagia, aku begitu tenang.
Aku pengecut, hanya saja aku tidak ingin dikenang sebagai teman jahatmu.

Senin, 18 Maret 2013

Aku Mengakhirinya Sebelum Duapertiga Maret

Katanya, "Mengagumi seseorang tidak akan lebih dari 4 bulan"
Baiklah, aku mengaku, aku hanya mengagumimu. Menjadikan harga diri terluka, itu sebenarnya bukan tipeku, karena harga diriku terlalu tinggi, untuk sesaat aku mengabaikannya. Menyesal? Pasti. Tapi hanya ini satu-satunya cara agar aku tidak mengagumimu lagi. Akhir November sampai sekarang, ini belum sampai 4 bulan, tapi aku benar-benar sudah berhenti. Aku tidak benar-benar berhenti, aku sengaja menghentikannya. Menekan perasaan, memulai dan mengakhirinya sendiri, ini hanya membutuhkan waktu untuk sembuh.
Ada beberapa alasan kenapa aku menyukaimu. Tempat ini terasa asing dan menyedihkan, bahkan aku sampai bingung, kau terlalu pendiam jadi aku memperhatikanmu. Kau bukan tipe idealku, tapi tidak ada alasan lain untuk merasa betah di kelas, selain memandangmu. Sejak itu aku mulai tergantung, jadi terimakasih karena kamu sudah menjadi lukisan bisu yang membantuku menyelesaikan setengah dari tingkat pertamaku.
Libur panjang, mungkin aku akan lupa, tapi sebaliknya. Perasaanku sudah tidak terkontrol lagi. Jadi aku membuka pintuku sendiri supaya aku bisa lari. Aku melukai pintu itu, sengaja. Sejak awal aku sudah tahu bahwa kau juga tidak sespesial seperti yang aku agung-agungkan selama ini. Sepertinya ada kesalahpahaman di sini. Aku tidak ada niat untuk membuka pintumu, bermain kata denganmu lebih mengasyikkan ketimbang berbicara hal romantis. Aku memiliki batas, bahwa peranku hanya membuka pintuku sendiri. Karena aku terluka, aku punya banyak alasan untuk melupakanmu.

"Aku memosting ini, ketika orang tahu, mereka akan menghentikanku saat sebelum aku akan berlari ke tempatmu. Jika aku berlari, hentikan aku, segera."