Apapun jika ini tulus, kita akan bertemu lagi di masa depan

Kamis, 19 September 2013

Bodoh

“Bagaimana bisa kau masih berada di sini?”
“Mereka tidak membiarkanku pergi.”
“Apa kau istimewa?”
“Mungkin, mereka selalu menahanku.”
“Benarkah? Berapa lama?”
“Sudah dua tahun ini.”
“Kau suka lingkungan ini?”
“Sama sekali.”
“Kenapa tidak kabur saja?”
“Di masa depan, aku membutuhkannya. Aku bisa apa?”
“Lalu belajar keras, selesaikanlah.”
“Pasti kau suka belajar?”
“Iya, aku menyukainya.”
“Ah... pasti kau menyukai lingkungan ini?”
“Tidak.”
“Bagaimana bisa?”
“Hanya saja tidak menyukainya.”
“Tapi kau suka belajar. Jangan bohong!”
“Apa kau tahu kenapa beberapa orang memiliki pikiran yang berbeda?”
“Karena mereka punya imajinasi masing-masing.”
“Benar, imajinasi mereka.”
“Lalu?”
“Imajinasi mereka berbeda, tapi mereka sama-sama melupakan hal yang menggelikan.”
“Bagaimana denganmu?”
“Aku?”
“Iya. Kau!”
“Bagaimana menurutmu?”
“Kau tidak menyukainya. Hanya saja tidak menyukainya.”
-------------
“Hei, bagaimana bisa kau tersenyum? Katakan saja.”
“Aku melakukannya supaya cepat keluar dari sini. Hanya karena aku suka belajar belum tentu aku menyukai lingkungan ini. Setiap orang punya jalan sendiri untuk menyelesaikannya.”
-------------
“Karena mereka menganggapmu istimewa, aku akan menganggapmu satu level lebih tinggi dari istimewa. Lakukan dengan benar, jangan sampai aku menyusulmu. Bahkan untuk sesaat aku mengabaikan harga diriku. Namun, kalau aku bisa menyusulmu dan keluar dari sini lebih dulu, aku akan tetap menunggumu, hanya jika kau sudah tidak bodoh lagi.”
**
“Kalau aku tidak punya sayap untuk terbang bagaimana?”
“Apa kau perlu sayap?”
“Iya, tapi bagaimana kalau aku tidak bisa terbang?”
“Lalu aku harus bagaimana?”
“Apa kau akan menungguku?”
“Tentu saja.”
“Benarkah?”
“Kau punya banyak uang untuk membeli pesawat, jadi untuk apa aku berlalu hanya karena kau tidak punya sayap.”
“Ambil saja uangnya.”
“Aku menyukaimu dengan uangmu, bukan uangmu tanpa dirimu. Jangan tetap bodoh. Ada saat tertentu yang harus indah.”

Kamis, 12 September 2013

Maaf


Hari ini aku begitu patuh

Lain hari aku mengaduh
Hari ini aku hormat
Lain hari aku laknat
Hari ini aku acuh
Lain hari aku tak acuh
Hari ini aku memandang
Lain hari aku membangkang
Hari ini aku sepihak
Lain hari aku berlagak
Hari ini aku mengasihi
Lain hari aku menyakiti
Hari ini aku mencintai
Lain hari aku membenci
Hari ini aku tidak menyesal
Lain hari aku tidak akan menyesal
Hari ini aku menyesal
Lain hari aku akan semakin menyesal


“Bahwasanya anak akan selalu durhaka.”

Aku tidak seperti anak-anak perempuan lain yang begitu dekat dengannya. Aku tidak begitu dekat tapi juga tidak terlalu jauh. Ketika dia sakit sehingga harus berobat ke luar kota, aku dengan patuh menggandeng anak laki-laki yang selalu menangis dan menggenggam erat kedua tanganku. Kami seperti seseorang yang melakukan perjalanan jauh.

Karena penyakitnya dia selalu membuat makanan yang terasa asing bagi orang lain. Rasanya aneh, hambar. Karena aku begitu senang dia kembali sehat aku tetap menyantap makanan yang dibuatnya. Semakin tua, aku bahkan tidak menyentuh masakannya. Terkadang aku juga mengomel tak tentu.

Dia memiliki pikiran yang berbeda dengan keluarga kami. Dia terlalu baik dengan semua orang. Membela yang lemah dan tidak suka kebohongan. Aku sangat khawatir melihat pemikirannya yang seperti itu. Pernah aku melihat di rumahnya, dia dibentak oleh wanita paruh baya yang tidak tahu malu. Saat itu aku benar-benar terluka melihatnya ketakutan karena tidak tahu apa-apa. Karena dia tidak tahu bagaimana memainkan permainan politik. Aku sudah bilang bahwa tidak perlu mengungkapkan semua yang dia ketahui.

Dia benar-benar baik kepada tetangga yang selalu tersenyum padanya. Dia bahkan tidak bisa mengerti arti kepura-puraan. Hingga suatu ketika orang-orang itu bahkan menyebutnya bukan manusia. Aku menangis mendengar itu. Aku tahu dia memiliki cara-cara yang berbeda untuk mengeluarkan amarahnya. Namun kupikir dia gampang dibodohi.

“Jangan percaya pada mereka. Bukan saudara ataupun teman dekat jadi jangan begitu baik. Bahkan tidak tahu mulut mereka berbicara apa di balik punggung kan? Hentikan saja sekarang. Di dunia siapa yang bisa dipercaya? Tidak ada orang seperti itu."

Aku ingin menyampaikannya. Persis seperti itu, tetapi jika dia tahu bagaimana orang-orang itu membencinya, dia akan hilang kendali. Jadi aku menyampaikannya dengan sedikit kasar, memancing supaya dia tahu dengan sendiri. Sebenarnya aku benar-benar di pihaknya, peduli, dan menghormatinya. Mana ada anak yang tidak seperti itu kepadanya?

Dia suka keadilan. Dia memberi perhatian, makan, dan pakaian kepada orang lain secara rata dengan kami. Waktu itu aku marah, memperlakukan mereka dengan spesial. Dia mengatakan bahwa yang diberikan sama rata. Aku membentaknya, "Iya aku marah karena sikap adil itu", karena sebenarnya aku iri.

Ada lebih dari sejuta alasan untuk membencinya, namun aku hanya perlu satu alasan untuk mencintainya; bahwa aku selalu menyesal ketika membencinya.
Benarkah Malin Kundang yang paling durhaka kepada ibu? Bukan, tapi AKU.

Maaf...Maaf....Maaf... Benar-benar maaf.