Apapun jika ini tulus, kita akan bertemu lagi di masa depan

Rabu, 24 September 2014

Menyesal? Tidak Ada

“Mereka-mereka sengaja sudah kulupakan, tapi mereka tetap mengingatku.”

Tidak peduli bagaimana omongan orang mengenai kehidupanku, bagaimanapun mereka tidak akan bertanggung jawab mengenai masa depanku, katanya.

Aku tetap diam terpaku ketika perempuan ini mengatakan hal tersebut tepat disamping telingaku. Aku hanya menganggapnya keterlaluan karena dia memilih berhenti dari jenjang sekolah yang baru saja ditempuhnya. Tapi tak jadi, memangnya apa aku ini, apa aku memberikan kehidupan untuknya? Tanpa sepengetahuanmu sebenarnya aku sedikit tidak menyukaimu, kau mencuri saudaraku dari tangan kami. Kau tahu sendiri aku sedikit pendendam.

Pribadimu hangat dan penuh kasih, tak apa setidaknya kau meninggalkan kenangan indah. Suara lembutmu menyeru “Kak… Kak… Kak..” bukan apa tapi hatiku mencair. Bagaimana kau mengatakan menyukai memiliki kakak, dengan sifat pendendamku tentu saja aku menyukaimu. Mungkin untuk orang lain arti pendendam kami erbeda. Begitulah. Tak mengapa karena aku juga tidak begitu tertarik dengan memiliki banyak teman dekat. Aku tidak percaya siapapun, sama sepertimu. Ah mungkin karena kita sama jadi kita bisa dekat semudah itu.

Kau menahan tangis karena bertengkar dengan ayahmu karena kau bertengkar dengan ibu tirimu yang memaki-maki ibumu. Menangislah jika ingin menangis, dan jangan balik memaki, adukan saja pada Tuhanmu. Bahkan perempuan itu mengadu agar semua yang ada di sekelilingnya melupakannya. Kau.. kau merasa beruntung karena tidak memiliki ingatan yang bagus.
“Aku bisa dengan cepat melupakan mereka. Melegakan. Bukan, sebenarnya karena aku bersikeras melupakan mereka dan kemauan kuatku menyelamatkanku.”
“Jika aku memiliki kehidupan lain di masa depan, aku mungkin akan tetap memilih jalan ini. Sama seperti matahari yang tidak bisa mengelilingi bulan, dan bulan yang tidak bisa memutari matahari, aku juga memiliki garis edarku sendiri. Tetap saja aku tidak akan menyesalinya.”

“Aku mungkin juga akan menentukan garis edarku sendiri, mungkin aku juga akan sengaja melupakan beberapa mereka dari kehidupanku. Bukan apa-apa, hanya saja aku tidak memiliki alasan untuk selalu mengingat mereka.”

Mlg, 25.09.2014 'PMDA-Tepat setelah mereka menertawakan bagaimana aku memilih garis edarku' 

Senin, 01 September 2014

Surat Balasan

Dear,
Hatimu Yang Tersesat

Sebelumnya aku minta maaf karena baru sekarang membalas suratmu. Akhir-akhir ini aku sedikit sibuk untuk menyelesaikan beberapa permintaan. Bagaimanapun aku akan tetap membalasnya, kau tahu itu kan? Karena kau pasti lelah menunggu aku akan sedikit menghiburmu, jika bisa.

‘Seberapa jauh kau tersesat?’ Ini kalimat pertama yang kutanyakan setelah membaca suratmu. Aku berharap kau tidak memunggungi arah begitu jengah. Untukmu yang selalu memercayai sebuah cinta, kau tidak hanya membayangkan kebahagiaan, kekuatan, dan kegembiraan kan? Rasa sakit, penderitaan, keputusasaan, dan luka juga bagian dari cinta. Namun kau harus percaya bahwa cinta juga memiliki kekuatan untuk mengahadapi rasa sakit, penderitaan, luka, dan keputusasaan.

Aku tahu bahwa apapun yang tidak sesuai dengan hatimu, maka rasa sakit yang akan menjawab. Tetapi aku tidak ingin kau merasa sakit terlalu lama. Lupakanlah cinta bodohmu itu. Kau sudah melenceng jauh dari jalan yang seharusnya. Ini bukan berarti bahwa yang memberi cinta lebih banyak adalah yang lemah. Kau akan menjadi lemah jika hatimu tidak bebas.

Hatimu yang tersesat pasti tidak tahu bagaimana hati yang bebas, karena nyatanya kau tidak menemukan celah untuk berkilah. Tidak mengharapkan cinta sebesar kau memberi dan tidak membalas rasa sakit yang kau ciptakan adalah hati yang bebas. Ini bukan berarti menganggap sebuah ketulusan adalah lelucon, tapi aku memintamu menyukai dengan tulus. Biarkan hatimu bebas agar cintamu tak berakhir dengan bodoh.

Terkadang kita sering berbeda pendapat juga sering berdebat hebat. Terlepas dari itu, hal yang perlu kau ketahui adalah aku selalu disampingmu. Jika kau merasa sakit, kembalilah padaku, kapanpun, dimanapun. Aku selalu menunggumu. Aku merupakan bagian dari cinta yang akan memberi kekuatan untuk kebahagiaanmu. Aku adalah peta untukmu. Di masa depan aku akan memberikan yang terbaik bagimu, aku berjanji.

Jangan balas suratku, terlebih jangan terbebani, tunjukkan saja bahwa hatimu telah bebas.

Penentu Arah,

Pikiranmu