Apapun jika ini tulus, kita akan bertemu lagi di masa depan

Kamis, 23 Mei 2013

Aku Kira Kita Bersatu, teryata Hati Kita Terpecah-Belah

Hal yang paling membuat tersiksa ialah ketika hatimu tidak mau menuruti apa kata otakmu. Bagaimana bisa aku mengais-ais sosok yang bahkan tak ingin kulihat? Bagaimana bisa hatiku begitu kecewa ketika tidak bertemu? Bagaimana bisa hatiku tetap berdebar padahal ia begitu menjijikkan?
Hai, Tuan macam apa yang tidak menepati janjinya? Aku masih disini, menunggu. Memaafkanmu? Bukan, aku tidak menunggu untuk memaafkanmu. Bukan menunggu untuk kembali padamu. Juga bukan menunggu untuk mengubah pikiranmu. Aku menagih janji yang seolah-olah kau sanggup menepatinya. Nyatanya, janji itu hanya sekadar janji tanpa entah tau dimana letak tepatnya.
Kita dipisahkan oleh rasa. Bagaimana mengubah asin dari garam atau mengubah manis dari gula? Seperti itu lah rasa kita, rasa dengan pendirian yang begitu kuat. Barang kali rasa kita seperti minyak dan air yang tidak bersatu dalam suatu wadah. Aku kira kita bersatu, ternyata hati kita terpecah belah.
Diam tak berucap, kelam tak menguap. Tuan, tidak bisakah kediamanmu pergi dari hatiku? Bukankah otakku selalu mengusirmu? Bahkan otakku bilang kau itu parasit Tuan. Enyahlah seperti buih, terbang lalu menghilang dan jangan kembali.

Sabtu, 18 Mei 2013

Jangan Sekali-kali Merindukan Orang yang Tidak Mengharapkan Kehadiranmu.

"Aku rindu kelas kita dulu."
"Aku sama sekali."
"Ih jahatnya,.... hahaha"
Hahaha, jika memungkinkan aku ingin mengatakan:
"Jangan sekali-kali merindukan mereka, bahkan mereka tidak ada yang mengharap kehadiranmu."
Aku tidak tahu kau menganggap dunia ini seperti dongeng atau drama, tapi yang kutahu, terkadang ada senyum di balik tangis, ada pula hujatan di balik senyum. Hanya beberapa, aku tidak menyebut semuanya. Iya, banyak sandiwara di sekeliling kita. Tipe melankolis biasanya peka terhadap sesuatu, terkadang aku juga ingin bertanya apa tipe dirimu? Bagaimana bisa tidak tahu sebenarnya mereka dibelakangmu?
Bila memungkinkan lagi aku juga ingin mengatakan:
"Tampar saja mulut mereka satu-satu, mereka bahkan pantas mendapatkan yang lebih dari itu."
Tidak apa-apa, mungkin aku hanya perhatian terhadapmu. Tapi yang pasti lebih perhatian mereka karena mencacimu setiap saat. Berbahagialah karena kau begitu populer di otak mereka. Jika kau ingin bertanyan apa kekuranganmu? Tanyakan saja pada mereka, karena mereka mengoreksi detail gerak-gerikmu.

Melangkah sendiri, sepertinya juga menyenangkan. Aku tidak perlu berjalan beriringan dengan seseorang yang membuat hatiku tertekan. Berjalan sendiri, makan sendiri, nonton sendiri, shopping sendiri, aku terbiasa melakukannya sejak kejadian itu. Bagaimanapun aku tetap merasa nyaman. Baiklah, temanku tidak banyak, pergaulanku tidak begitu baik, dan sepertinya  kepribadianku juga sedikit aneh.
"Natasha, beli buku sama siapa kemarin?"
"Sendiri.", jawabku sambil tersenyum lalu melangkah pergi.
Natasha, Namaku.