“Dalam hidupku, bintang jatuh yang dibicarakan orang-orang,
aku hanya melihatnya dua kali. Lalu aku dengan konyol memohon permintaan
seperti yang dijanjikan mereka. Namun, tidak ada yang terkabul.”
“Menyukaimu bagai lem yang melekat, terkadang begitu
melelahkan. Kau juga begitu risih kan? Aku tahu. Tapi bertahanlah sebentar.”
Mengatakan kalimat setulus hati sepercuma membuang garam
pada laut, selelah mencari ujung lingkaran. Kau seperti bintang jatuh yang
kutunggu saat kecil. Aku harus menengadahkan kepala, mendongak ke atas sampai
leherku benar-benar ngilu. Kemudian aku masuk rumah, tidak ada yang terlihat,
tidak ada yang jatuh. Namun, ketika beruntung aku bisa melihatnya, hanya
sedetik, hanya sekejap mata, lalu hilang, ditelan kecepatan. Kau juga sama,
seperti bintang jatuh; debu yang terbakar di atmosfer bumi akibat hujan meteor
dari komet, hanya sekejap lalu cepat menghilang.
Hubungan kita hanya sebatas makan bersama dan bertatapan
mata, tidak lebih. Hal yang menggangguku ialah satu menit bagiku adalah satu
jam untukmu. Ada hati lain di matamu, aku paham. Bukankah ini bagus? Kita
sama-sama menyukai sepihak. Aku menyukaimu dan kau menyukainya. Untungnya dia
memiliki kekasih, setidaknya kau tidak bisa bersamanya. Sama denganku, aku tidak
bisa bersamamu karena kita dipisahkan oleh rasa.
Kau tahu tidak, bagiku hal apa yang paling menjengkelkan?
Membenci sepihak; aku sekuat tenaga membenci mereka sampai hatiku seperti di neraka
tapi mereka dengan senyum ramah berkata
‘Mau kemana?’. Oleh karena itu aku tidak suka membenci orang, hanya karena
meraka membenciku. Meskipun dalam mahligaimu hanya ada dia. Aku tidak akan
membencimu. Aku masih menyukaimu, sangat banyak. Jika memang ingin memilikinya lagi, jangan
menunjukkan kau sedang terluka, mungkin dia akan berpikir, ‘Ah seperti ini dia
jika tidak ada aku’, lalu dia tertawa keras-keras, menang. Bukan-bukan, ini hanya pikiranku yang
kupaksakan padanya. Aku tahu hatinya tidak ‘sejahat’ hatiku. Aku akan berbisik
sekali saja, jadi dengarkan baik-baik.
“Sukseslah, buat dia
menyesal tidak memilihmu”. Semoga kau tidak mendengar dan tetap terluka.
Aku bukan tipe pribadi yang dengan tulus mengatakan, ‘Aku
rela terluka yang penting kau bahagia’, namun aku akan berkata ‘Aku suka kita
sama-sama terluka, kita impas’. Walaupun menyukaimu begitu banyak, aku juga
masih menggunakan otakku dengan baik. Mengatakan aku menyukaimu satu detik
lebih lama dari selamanya, aku juga belum berani. Mungkin kepribadianku sedikit
aneh, tapi tidak bisakah kau hanya menyebutnya berbeda. Hanya karena berbeda
bukan berarti aku monster kan? Karena bagiku mawar tidak lagi mempesona jika
sudah tidak memiliki duri.
Sukailah dia terus, selama yang kau mau, selama yang kau
bisa, selama kau akan terluka, karena aku juga merasakan itu. Ini terlihat
rapi, aku menyebutnya impas, jika tidak sama-sama bahagia, setidaknya kita
sama-sama terluka. Untungnya kita masih memiliki kata besama-sama, melegakan. Seperti
kata Hwi Kyung, “Ini mungkin terdengar egois, tapi tidak bisakah kau menyebutnya
cinta?”
Berpalinglah darinya. Ubah mahligaimu. Singgahlah, berurat
dan berakar dalam sanubari. “Mari sama-sama bahagia” atau “Mari sama-sama
terluka”.