Apapun jika ini tulus, kita akan bertemu lagi di masa depan

Sabtu, 19 April 2014

Pendosa

“Kasihan sekali anak ini, bahkan umurnya belum mencapai 20-an.”
Dibandingkan mendengar kata itu, aku lebih suka kau mengatakan,
“Kau menyebalkan, aku membencimu.” Aku akan lebih mengerti.
“Ada cafe yang baru buka dipojok perempatan jalan itu, ayo pergi ke sana kalau sudah bisa.” Aku akan tersenyum padamu.
Sebenarnya banyak yang ingin kutulis, tapi tiba-tiba entah, hilang tak tersisa.
Ya Rabb, aku merasa ini tidak adil. Tapi aku takut jika berlari menjauhi jalanmu. Bimbing aku. Aku merasa marah.

“Karena Tuhan tahu kau satu level lebih kuat dari yang lain.” Aku merasa lemas, itu hanya penghiburan diri.

Sabtu, 05 April 2014

Aku Menyebutnya Impas

“Dalam hidupku, bintang jatuh yang dibicarakan orang-orang, aku hanya melihatnya dua kali. Lalu aku dengan konyol memohon permintaan seperti yang dijanjikan mereka. Namun, tidak ada yang terkabul.”

“Menyukaimu bagai lem yang melekat, terkadang begitu melelahkan. Kau juga begitu risih kan? Aku tahu. Tapi bertahanlah sebentar.”

Mengatakan kalimat setulus hati sepercuma membuang garam pada laut, selelah mencari ujung lingkaran. Kau seperti bintang jatuh yang kutunggu saat kecil. Aku harus menengadahkan kepala, mendongak ke atas sampai leherku benar-benar ngilu. Kemudian aku masuk rumah, tidak ada yang terlihat, tidak ada yang jatuh. Namun, ketika beruntung aku bisa melihatnya, hanya sedetik, hanya sekejap mata, lalu hilang, ditelan kecepatan. Kau juga sama, seperti bintang jatuh; debu yang terbakar di atmosfer bumi akibat hujan meteor dari komet, hanya sekejap lalu cepat menghilang.

Hubungan kita hanya sebatas makan bersama dan bertatapan mata, tidak lebih. Hal yang menggangguku ialah satu menit bagiku adalah satu jam untukmu. Ada hati lain di matamu, aku paham. Bukankah ini bagus? Kita sama-sama menyukai sepihak. Aku menyukaimu dan kau menyukainya. Untungnya dia memiliki kekasih, setidaknya kau tidak bisa bersamanya. Sama denganku, aku tidak bisa bersamamu karena kita dipisahkan oleh rasa.

Kau tahu tidak, bagiku hal apa yang paling menjengkelkan? Membenci sepihak; aku sekuat tenaga membenci mereka sampai hatiku seperti di neraka tapi mereka dengan  senyum ramah berkata ‘Mau kemana?’. Oleh karena itu aku tidak suka membenci orang, hanya karena meraka membenciku. Meskipun dalam mahligaimu hanya ada dia. Aku tidak akan membencimu. Aku masih menyukaimu, sangat banyak.  Jika memang ingin memilikinya lagi, jangan menunjukkan kau sedang terluka, mungkin dia akan berpikir, ‘Ah seperti ini dia jika tidak ada aku’, lalu dia tertawa keras-keras, menang.  Bukan-bukan, ini hanya pikiranku yang kupaksakan padanya. Aku tahu hatinya tidak ‘sejahat’ hatiku. Aku akan berbisik sekali saja, jadi dengarkan baik-baik.
 “Sukseslah, buat dia menyesal tidak memilihmu”. Semoga kau tidak mendengar dan tetap terluka.
Aku bukan tipe pribadi yang dengan tulus mengatakan, ‘Aku rela terluka yang penting kau bahagia’, namun aku akan berkata ‘Aku suka kita sama-sama terluka, kita impas’. Walaupun menyukaimu begitu banyak, aku juga masih menggunakan otakku dengan baik. Mengatakan aku menyukaimu satu detik lebih lama dari selamanya, aku juga belum berani. Mungkin kepribadianku sedikit aneh, tapi tidak bisakah kau hanya menyebutnya berbeda. Hanya karena berbeda bukan berarti aku monster kan? Karena bagiku mawar tidak lagi mempesona jika sudah tidak memiliki duri.

Sukailah dia terus, selama yang kau mau, selama yang kau bisa, selama kau akan terluka, karena aku juga merasakan itu. Ini terlihat rapi, aku menyebutnya impas, jika tidak sama-sama bahagia, setidaknya kita sama-sama terluka. Untungnya kita masih memiliki kata besama-sama, melegakan. Seperti kata Hwi Kyung, “Ini mungkin terdengar egois, tapi tidak bisakah kau menyebutnya cinta?

Berpalinglah darinya. Ubah mahligaimu. Singgahlah, berurat dan berakar dalam sanubari. “Mari sama-sama bahagia” atau “Mari sama-sama terluka”.