Apapun jika ini tulus, kita akan bertemu lagi di masa depan

Senin, 27 Januari 2014

Dia Memiliki Alasan untuk Merindukanku


Sepuluh tahun yang akan datang, meskipun menjadi wanita karier, pada dasarnya wanita akan menjadi ibu. Haha, tulisan ini hanya untuk mengingatkan untuk menjadi ibu yang seperti apa aku kelak.

Saat kecil, bayi akan dekat dengan ibunya, ketika itu aku akan sabar menghadapinya. Beranjak dewasa, anak akan  membangkang. Aku tahu itu, karena aku melakukannya. Dimulai dari hal sepele, meskipun kelak aku tidak pandai memasak, ataupun masakanku kurang enak, aku akan tetap memasak untuk mereka. Jadi mereka tidak punya alasan untuk makan diluar. Ah, mungkin masakan yang tidak enak bisa menjadi alasan, tapi aku yakin, ketika aku dengan tulus memasak untuk mereka, mereka akan tetap makan dirumah.
Hal yang menyakitkan ialah, ketika mereka makan di tempat saudara yang masakannya lebih enak, lalu mencela masakanku, aku tidak akan marah ataupun terluka. Aku tahu itu akan terjadi, karena aku melakukannya.

Aku hanya membimbingnya belajar sampai tingkat sekolah dasar, setelah itu aku akan menyerahkan semua tanggung jawab sekolahnya untuknya sendiri, karena dulu aku suka yang seperti itu. Jadi dia bisa sadar diri terhadap tanggung jawab. Untuk sesekali aku akan menanyakan, “Bagaimana tugasmu? Teman-temanmu seperti apa? Sekolahmu menyenangkan?” sehingga aku merasa tidak terlalu jauh darinya.

Meskipun sudah melepas mengenai urusan sekolah, aku harus mengotrol mengenai lingkungannya, jadi aku punya banyak bahasan yang diperbincangkan dengan mereka. Namun ketika dia membangkang dan tidak bisa menjaga sopan santunnya, aku akan menghukumnya sesuai yang dilakukannya. Bisa jadi mereka akan kuancam untuk dikunci diluar rumah.

Saat mereka ijin bermain sepeda dengan teman-temannya dengan lantang aku akan mengatakan, “Iya, jangan ada bagian tubuhmu yang terluka.”

Aku akan bersikap hangat meskipun musim hujan telah tiba. Sesekali kami akan berjalan menggunakan payung dan belanja bersama-sama. Aku tidak ingin hanya memberinya uang jajan lalu menyuruhnya membeli sendiri. Itu terlalu menyedihkan untuk membuatnya berjalan sendirian di pusat perbelanjaan.

Saat mereka kukirim belajar ke kota yang jauh, saat mereka sudah tidak ada di rumah, aku tidak akan menyentuh barang-barang dikamarnya. Aku hanya akan membersihkan kamar dan menatanya, tidak akan pernah mengotak-atik benda-benda yang sudah dikoleksinya. Seminggu sekali mungkin mereka akan menelponku, kita akan berbicara panjang lebar sampai tidak terasa bahwa hari sudah sore.  Aku akan bersikap seperti teman kepda mereka, karena itu menyenangkan.  Aku tidak akan membiarkan mereka menelpon hanya untuk mengatakan,
“ -Ibu sehat? Sedang apa?..........Bu aku tutup ya-.... Aku tidak tahu harus menanyakan apa lagi.”

Beberapa lama, mungkin saat itu aku sudah jarang memasak, karena dirumah juga sepi. Akan tetapi, saat mereka pulang ke rumah, aku akan memasak makanan yang mereka sukai. Saat aku terbiasa membeli makanan, dan tidak juga memasak saat mereka pulang, lalu tiba-tiba memasak di pagi buta saat saudara datang, mereka akan sedih, jadi aku tidak akan melakukannya.

Yang terpenting aku tidak akan membuat mereka merasa iri kepada perlakuanku terhadap orang lain atau saudara dekat. Aku tidak akan mengutamakan orang lain atau memberikan porsi yang lebih besar kepada keponakan dibanding kepada mereka. Aku tahu mereka akan membenciku saat aku tidak adil kepada mereka. Bahkan saat bersikap adil, aku tahu mereka juga akan tetap iri. Jadi, aku tidak akan bersikap adil antara anak dengan keponakanku. Bahwa mereka ialah yang utama, lalu mereka tidak pernah menangis dan bertanya-tanya, “Siapa yang sebenarnya anak kandung?”

Saat mereka sakit, dari mereka akan ada yang menyembunyikan, tujuannya hanya agar tidak membuat khawatir. Mereka tidak tahu bahwa seperti itu akan menjadikanku lebih khawatir lagi. Aku akan merawat dengan telaten. Sikap sabarku saat merawat mereka, tidak akan terbandingi dengan sikapku jika merawat anak lain. Jadi tersenyumlah.

Aku tidak ingin membuat mereka berpikir bahwa hidup di tempat lain yang jauh lebih menyenangkan. Akan kupastikan mereka tidak punya alasan untuk tidak merindukanku, ayah, dan rumah.