Apapun jika ini tulus, kita akan bertemu lagi di masa depan

Minggu, 30 Juni 2013

Dimana Batas antara Kebaikan dan Kejahatan?

"Sepertinya pribadiku benar-benar bermasalah."

Terkadang aku begitu bodoh dalam memaknai sesuatu. Karena anak kecil di dalam diriku belum mau tumbuh dewasa. Jika ini atau itu adalah sebuah kalimat sindiran, lalu aku memaknainya dengan pikiran dingin mungkin emosiku akan sedikit stabil, iya hanya sedikit. Saat mencapai puncaknya, saat itu, mereka bilang aku jahat.

Apa definisi dari jahat? Apa definisi dari baik? Katanya 'mereka' saling berlawanan. Lalu bagaimana dengan berubah-ubah? Atau sesuatu yang konstan?

Kita bersahabat, sama dekat, kemanapun selalu melekat. Sayangnya kita menyukai orang yang sama. Ah, bukan sayagnya, bukankah ini bagus? Baiklah aku mengalah, ambil saja orang yang kamu suka itu. Namun, jika di pertengahan tali aku merasa goyah dan ingin terjatuh, bolehkah aku membawa lari kekasihmu, sahabatku? Aku tidak tahu lagi, tapi benar-benar boleh? Akan kulakukan, kalau seperti itu, apa panggilan yang bagus untukku? Baik? Jahat? Sebenarnya dimana batas antara kebaikan dan kejahatan? Tunjukkan padaku.

Kamu sangat menyayangi ibumu, suatu ketika ada tamu yang berkunjung tanpa maksud yang jelas dan membentak ibumu di hadapanmu. Ibumu ketakutan dan hampir menangis karena tidak begitu pandai dalam berpolitik. Jika seperti itu, apa yang harus kulakukan? Haruskah aku menampar pipi tamu itu lalu menjambak rambutnya kemudian mencakar wajahnya? Pada akhirnya aku akan dikenal sebagai anak yang tidak punya sopan santun; juga anak yang tak mampu melindungi. Ah, haruskah lapor polisi? Terlalu berlebihan, tapi mungkin kulakukan. Kalau seperti itu, apa predikat yang cocok untukku? Sebenarnya di mana batas antara kebaikan dan kejahatan? Tunjukkan padaku.

Hari ini musim tes untuk mencari sekolah baru. Karna kamu tinggal sendiri pada sebuah kamar yang cukup luas untuk seorang diri lalu kamu memberi tumpangan kepada teman seseorang yang tidak terlalu dekat. Padahal kamu tahu, kamu bukan tipe orang yang mudah tidur pada ranjang yang sempit. Kamu terjaga sampai pukul dua pagi, padahal besok ada ujian penting. Tidurmu tidak nyenyak dan mengantuk saat ujian. Kesehatanmu terganggu, orangtuamu tahu dan menjadi sedih. Apakah boleh jika aku mengusir orang yang bahkan tidak kamu kenal sama sekali? Itu terlalu menyakiti hatinya, atau aku meletakkan semua barang-barangnya di depan pintu rumah? Sepertinya ide yang bagus, namun bisa membuatnya malu. Seperti itu mungkin kulakukan, lalu apa sebutan yang pantas untukku? Sebenarnya di mana batas antara kebaikan dan kejahatan? Tunjukkan padaku.

Sebenarnya dimana batas antara kebaikan dan kejahatan? Ketika kamu jenuh untuk berbuat kebaikan? Atau ketika kenyamananmu terganggu dan orang lain menimbulkan kerugian untukmu? Atau apakah sebuah keikhlasan di dalam hatimu? Atau apa mungkin tidak ada batasnya? Aku benar-benar tidak tahu. Berikan jawaban untukku. Sebenarnya dimana batas antara kebaikan dan kejahatan? Tunjukkan saja padaku. Segera.

Minggu, 23 Juni 2013

Astaga, Aku Menggilaimu!

"Saat itu aku sepertinya masih mengutamakan perasaan. Tulisan ini kutulis hampir dua tahun yang lalu. Sebagai pengingat bahwa anak kecil di dalam diriku masih suka mengadu."
Ketika mereka terjepit dalam suatu pilihan, aku selalu bilang,
"Pergi saja, tak ada yang perlu dipertahankan."
Dan mereka akan selalu mengelak dengan berbagai cara karena mereka tahu mereka tak akan bisa terlepas semudah itu dari jaring-jaring yang memerangkap mereka selama bertahun-tahun ini; dan aku tak pernah ingin tahu itu.

Apa aku egois? Terlebih iya. Aku tahu aku egois tetapi di balik itu semua aku tak menghendaki jika kalian hidup bagai pecandu yang depresi karena tak bisa menghisap heroin. Hai, jauh di lubuk hatiku aku menyayangi kalian. Sekarang, mereka menghampiriku di palung lamunanku.
" Itu pembodohan seperti yang sering kamu ucapkan dulu kepadaku teman! Ayo lah.. Sadar o temanku tercinta.", ucap mereka.
Kalian tahu bagaimana usaha kerasku untuk mengutip kalimat tersebut. Pucat pasi, ya. Otakku dangkal, aku memang bodoh. Berucap memang mudah, seperti yang kulakukan dulu pada kalian, semudah aku melepaskan diri dari jaring-jaring beracun yang membelenggu. Tapi itu dulu teman, sekarang aku tak bisa. Aku tergerogoti oleh prinsip kehidupan yang kubuat sendiri. Aku tak bisa bangkit melawan pembodohan dan penindasan hati. Merapuh di antara gelak tawa kalian. Termenung di sela-sela canda ceria kalian. Sembari menatap kuku-kukuku yang kian memendek. Kalian pasti tahu sebabnya, tidak perlu kuceritakan di sini

Kita adalah bos dari apa yang ingin kita lakukan. Aku memegang kemudi atas kehendak langkahku. Dan aku lah yang telah memilih dan mempertahankannya. Aku selalu meyakinkan pada kalian,
"Dia baik untukku".
Namun terkadang aku berpikir, 'Iya kah dia memang benar-benar baik untukku?'. Dengan mantap hatiku menjawab,
"Tentu saja". Pembodohan!
Apa ini pantas disebut pembodohan? Kalau pun iya, ini lebih patut disebut kebodohan-ku. Hai, kenapa aku mengulang kesalahan yang sama?
"Karena ada sesuatu yang salah di dalam dirimu." ucapnya; aku mengingat setiap kata yang dia ucapkan.
Kosong, semua telah terhempas tapi tidak dengan jeratannya. Caranya yang unik masih menghipnotis otakku. Kini, aku benar-benar menjadi pecandu kasihnya, aku menggilainya.

Ngw,11.09.11

Kamis, 20 Juni 2013

Jangan Memulai Sesuatu yang Tidak Bisa Diakhiri

"Karena sebenarnya aku takut jika tidak bisa melepasmu."
Jika berada disampingku terasa sangat susah, lebih baik pergilah. Aku tahu kita memiliki rasa yang sama. Ah bukan, sepertinya aku hanya bermain-main dengan perasaan ini. Bukankah kamu tahu itu dari dulu?

Senyummu sangat manis, jadi gunakanlah untuk menebar kasih hangatmu. Jangan berdiam diri di sudut ruangan itu hanya untuk menungguku. Disitu benar-benar dingin. Kau paham betul aku tidak akan datang. Lihat, segelas susu diatas meja itu sudah basi. Bergegaslah, jangan sampai hatimu juga ikut mati. Hanya karena aku memintamu untuk menungguku, kau jangan terlalu patuh. Karena belum tentu aku akan menghampirimu.

Jika boleh merumpamakan, kamu itu seperti anak kucing di tengah hujan yang tidak tahu kemana jalan pulang. Ikutilah wanita ditengah hujan yang membawa payung itu. Dia akan meneduhkanmu, mungkin nantinya kau akan diberi segelas susu yang masih segar, bukan yang sudah basi. Tinggallah di situ, di rumah yang hangat. Sesekali wanita itu pasti akan mengajakmu berjalan-jalan di taman. Hiduplah dengan tenang dan jangan kembali untuk tersesat.

Mereka bilang mungkin kita pasangan serasi. Benarkah seperti itu? Mungkin iya, mungkin juga bohong. Kita bisa tertawa bersama untuk saat ini, namun untuk beberapa detik aku tersadar.
"Benarkah kita bisa melakukannya? Bisakah kisah ini ada akhirnya? Atau apakah kasih ini hanya akan menjadi kisah?"
Aku menerima kekurangan sikapmu, sifatmu, semuanya, begitupun yang kamu lakukan. Sepertinya benar kata mereka, bahwa kita akan menjadi pasangan yang serasi. Namun, bagaimana jika kita hidup di rumah yang sama dengan cara berdoa yang berbeda? Lalu bagaimana anak kita kelak? Bukankah dia akan kebingungan? Aku tahu kita tidak akan keluar dari zona masing-masing.

Aku ketakutan, ketika aku memulainya, aku takut tidak mampu mengakhirinya. Jadi mari kita saling berbatas.

Minggu, 09 Juni 2013

Jangan Lakukan Itu, Pada Akhirnya Hatimulah yang Akan Terluka

"Seperti yang aku katakan, murah senyum tapi hati menghujat, iya seperti itu juga ada."
Sebuah jalan lurus dengan bernaung pohon rindang, bukankah ini menyegarkan? Kenapa wajahmu begitu pucat Nona? Tidak biasanya Nona seperti itu. Tawa ceriamu seperti permainan yang terpause oleh anak sekolah karena seorang guru datang.
Hahaha matamu itu, jangan takut melihatku, jangan menghindar. Jangan mengabaikan bola mataku Nona. Apa karena aku berusaha mencuri kekasihmu kau begitu menghindar?
Bukankah harusnya wanita jalang ini yang takut karena berusaha mengambil milik orang lain. Kekasihmu meilihmu Nona, jadi jangan seolah-olah beku jika bertemu denganku. Ini terlalu tampak, jadi aku bertanya karena tidak yakin.
"Apa kau tidak percaya diri? Apa kau takut aku tetap berusaha dengan keras untuk mencuri kekasihmu? Dia memilihmu, jadi tataplah aku dengan pandangan sombong. 'Dia milikku.' Katakan seperti itu, jadi aku akan malu."
Baiklah, anggap saja wanita jalang ini tidak punya malu.

Membenci diam-diam terkadang seperti lelucon, berusaha tersenyum, tapi hati tertekan, seperti itu benci diam-diam. Bagi wanita jalang ini, ia memilih menyukai sepihak, karena hatinya tidak akan pernah tertekan. Benci, wanita jalang ini begitu peka, meskipun diam-diam, aku akan tetap tahu.

Membenci sepihak, hal yang perlu dikasihani, karena hatinya seperti di neraka. Jangan hanya diam-diam, jangan lakukan itu, pada akhirnya hatimulah yang akan terluka.

Jika benar-benar membenciku, katakanlah. Jadi Nona tidak perlu berjuang sendirian dalam membenci. Mungkin, setidaknya kita akan seimbang; sama-sama membenci. Jangan hanya diam-diam, jangan lakukan itu, pada akhirnya hatimulah yang akan terluka.
"Ya, wanita jalang, aku membencimu."
Benar, katakan seperti itu, setidaknya aku tahu dengan pasti bahwa kau membenciku. Aku tidak perlu menebak-nebak sesuatu yang belum pasti. Jangan hanya diam-diam, jangan lakukan itu, pada akhirnya hatimulah yang akan terluka.

Meskipun kau mengatakannya, hatiku akan tetap sama. Aku tidak akan membencimu. Kau tahu kenapa, Nona? Iya, supaya hatimu tetap terluka, supaya hatimu seperti di neraka. Jadi jangan lakukan itu, jangan membenciku, karena pada akhirnya hatimulah yang akan terluka, bukan hatiku.
"Tiba-tiba bersikap aneh. Kita bukan keluarga ataupun teman dekat, jadi aku tidak punya alasan untuk sedih hanya karena hatimu yang berbeda."
Hentikan sekarang, jangan lakukan lagi, pada akhirnya hatimulah yang akan terluka, Nona.

Sabtu, 08 Juni 2013

Ketakutan Tersirat

Aku hanya menulisnya, jadi jangan asal membacanya.
"Berusahalah sebaik mungkin, biarkan Tuhan yang menyelesaikan akhirnya."
Tidur 5 jam sehari atau 8 jam per hari bukan menjadi masalah. Menjadi masalah jika aku mengecewakan mereka yang menyayangiku, yang sangat berharap padaku. Hal yang paling membuat sedih ialah ketika kamu membuat kecewa orangtua, memutuskan harapan mereka bukan menggalau di jejaring sosisal karena tak punya pacar. Itu bukan sedih, hanya pencitraan atau mungkin mencari perhatian dari khalayak umum.
"Pulanglah nak meski sehari dua hari!"
"Nanti, biarkan aku membawa kabar baik dulu."
Jika aku berjalan, aku berharap ini bukanlah persimpangan yang aku belum tentu tahu mana arah yang benar atau jalan ini janganlah pemberhentian lampu merah atau terkena macet yang tiada berujung. Aku ingin berjalan pada sebuah jalan tol yang tidak ada persimpangan, lampu merah atau terjebak macet. Meskipun terdapat sedikit lubang itu tidak menjadi masalah aslakan jangan berhenti terlalu lama.
Seperti berusaha sebaik mungkin, terkadang keyakinan juga sedikit kendur. Jika diberi sebuah permintaan, jadikanlah aku orang yang selalu beruntung.
"Aku benar-benar takut."
Aku menulis ini ketika tidak ada lagi muka yang memandang, tak ada lagi telinga yang mendengar dan tidak ada lagi mulut yang merespon.