Apapun jika ini tulus, kita akan bertemu lagi di masa depan

Kamis, 20 Februari 2014

Tidak Lagi Berselera

Aku menulis ini bukan karena aku peduli atau kau begitu berarti, namun sadarlah aku ingin kau tahu bahwa aku menginginkan ini.

Hanya karena kita bisa bertemu setiap hari bukan berarti aku harus berdekatan denganmu. Terlepas apakah aku ini orang baik atau orang jahat maupun apakah kau orang baik atau jahat aku tidak terlalu mempedulikan. Ini hanya masalah selera bagaimana aku ingin hidup. Jadi ketika aku tidak lagi menegur sapa, ya aku memang ingin seperti itu.
Memicingkan mata, menggebrak meja, ataupun membanting pintu, lakukan saja, namun aku tidak akan mengikuti cara seperti itu. Otot mataku bisa sakit hanya untuk mengakomodasikan mata secara berlebihan. Tanganku bisa terluka untuk menggebrak meja, dan telingaku bisa mendengung untuk mendengar pintu yang terbanting, selain itu meja dan kursi juga bisa rusak. Kau tidak tahu kalau kesehatanku lebih penting daripada menyikapi perilakumu?
Kita tidak berada dalam usia anak-anak lagi. Jika marah lakukanlah dengan elegan, jangan merusak dan membuang barang orang yang tidak kau sukai. Melampiaskan marah melalui barang orang yang kau benci bukannya memuakkan? Bagaimana rasanya memaki orang namun orang yang kau maki tidak merespon? Kau tidak merasa ada yang salah dengan otakmu? Aku tahu kau kekanakan, tapi aku tidak mengira kau sekekanakan itu. Aku hanya menganggapmu tidak ada, jadi berhenti memicingkan mata, menggebrak meja, atau membanting pintu, hanya lakukan seperti yang aku lakukan. Menganggap tidak ada dan kita nantinya akan memiliki kekuatan yang sama.
Aku hanya memperkirakan kau marah karena teman yang kau anggap baik sudah meninggalkanmu, dan mereka tidak ingin kembali di sisimu. Menyebar rumor bahwa kau adalah satu-satunya korban, aku tidak suka gaya itu. Jangan hanya menempatkan aku menjadi orang yang paling jahat, tapi berpikirlah apa sebabnya menjadi seperti ini. Di sini akulah yang anak kecil, sebab kau selalu mengclaim bahwa dirimulah yang paling dewasa; yang harusnya lebih paham.

Sikap marahmu yang aneh, tingkah kasarmu untuk mencari perhatian, aku tahu, tapi aku tidak lagi tertarik terhadapmu. Untungnya aku bukan orang dengan banyak selera, aku hanya selektif dalam menentukan dengan siapa aku ingin bercerita. Tentu saja, kita hanya dipisahkan oleh selera. Selera bahwa aku tidak ingin berdekatan lagi denganmu. Sudahlah, mari bersikap baik dengan menjalani hidup masing-masing untuk selamanya.

Minggu, 09 Februari 2014

Aku Mulai Hidup

Pertama kalinya dalam perantauan aku merasa sedih saat akan meninggalkan rumah. Aku merasa tidak nyaman ketika akan pulang ke rumah esok hari usai ujian berlangsung.

Aku pulang satu semester sekali dengan jasa travel. Hari itu sopir travel sudah menunggu lama karena travel tersebut tiba setengah jam lebih cepat dari yang dijanjikan. Baru berjalan sebentar aku sudah mual. Aku meminum air mineral yang kubawa. Bahkan air mataku menetes karena mual yang berlebihan.
Aku memilih kursi tepat dibelakang sopir, ini menyenangkan dan kakiku bisa berselonjor. Aku menyamankan diri senyaman mungkin. Aku memang tidak menyukai perjalanan dari tempat perantauan menuju rumah, oleh karena itu aku jarang pulang.
Di travel ini sudah ada lima penumpang termasuk aku. Travel sudah memasuki rute pegunungan dimana jalan berkelok tajam. Ini bahkan belum keluar dari kabupaten tempatku merantau. Mualku tidak tertahan jadi aku meminta plastik pada sopir travel. Karena plastik habis, pak sopir berhenti di warung, dan pada saat itu aku sekalian membeli minuman rasa buah. Aku tidak menyukai minuman bersoda, untuk minuman rasa buah aku juga selektif. Setelah muntah, untuk membuang rasa mual aku meminum minuman tadi. Ini pertama kalinya aku muntah saat perjalanan pulang. Baru beberapa detik aku merasa kakiku kesemutan. Kupikir ini hal biasa karena aku terlalu lama duduk di dalam travel.
Lama-kelamaan kesemutan  tersebut menjalar di sekitar tanganku sampai tanganku menelungkup sendiri dan kaku. Tidak mau digerakkan seperti orang lumpuh. Aku meminta tolong orang disampingku untuk memijat tanganku. Sebenarnya dalam hati aku merasa ‘ah, bagaimana bisa aku merepotkan orang lain, menyedihkan!’. Karena orang disampingku juga merasa tidak sehat, aku memberitahu pak sopir kalau ada yang salah denganku. Pak sopir langsung memberhentikan travel di pinggir jalan lalu memijat tanganku dengan sebelumnya meminta ijin. Aku ketakutan.
Aku disuruh menggerakkan tangan dan kakiku supaya tidak kaku. Sudah membaik dan travel melaju melanjutkan perjalanan. Akan tetapi kesemutan tadi muncul lagi bahkan sampai ke perut dan lidahku juga merasa kesemutan tapi tidak sehebat di bagian kaki, tangan, ataupun perut. Sambil menangis aku meminta pak sopir untuk memberhentikan di rumah sakit ataupun puskesmas terdekat. Lucunya aku menangis sekeras mungkin tapi tidak ada air mataku yang keluar. Untungnya ada puskesmas di kiri jalan, langsung saja aku dilarikan ke tempat tersebut.
“Aku tidak bisa turun, aku tidak bisa menggerakkan badanku.”, teriakku sambil menangis. Akhirnya aku diangkat dan masuk dalam UGD menggunakan kursi roda. Saat itu yang aku pikirkan adalah ‘Bagaimana jika aku seperti ini sampai akhir? Bagaimana aku menajalani kuliah? Bagaimana nanti aku kerja? Apa yang bisa kukerjakan? Lalu siapa nanti yang mau jadi suamiku?’ Bagaimana aku?’
Pak sopir megatakan kepada dokter kalau memang tidak bisa meneruskan perjalanan maka tinggal saja disini tapi jika bisa travel akan menunggu.
‘Aku harus sembuh. Mana boleh aku merepotkaan orangtuaku. Mereka bahkan tidak pernah menjuputku. Apalagi harus menyuruh mereka menjemput di luar kota.’
Setelah diperiksa dan diberi penanganan tangan dan kakiku tidak kesemutan lagi tapi masih bergerak sendiri seperti tidak terkontrol dan mataku sudah bisa mengeluarkan air mata.

“Ah aku mulai hidup.”