Aku menulis ini bukan karena aku peduli atau kau begitu berarti, namun sadarlah aku ingin kau tahu bahwa aku menginginkan ini.
Hanya karena kita bisa bertemu setiap hari bukan berarti aku harus
berdekatan denganmu. Terlepas apakah aku ini orang baik atau orang jahat maupun
apakah kau orang baik atau jahat aku tidak terlalu mempedulikan. Ini hanya
masalah selera bagaimana aku ingin hidup. Jadi ketika aku tidak lagi menegur
sapa, ya aku memang ingin seperti itu.
Memicingkan mata, menggebrak meja, ataupun membanting pintu, lakukan
saja, namun aku tidak akan mengikuti cara seperti itu. Otot mataku bisa sakit
hanya untuk mengakomodasikan mata secara berlebihan. Tanganku bisa terluka
untuk menggebrak meja, dan telingaku bisa mendengung untuk mendengar pintu yang
terbanting, selain itu meja dan kursi juga bisa rusak. Kau tidak tahu kalau
kesehatanku lebih penting daripada menyikapi perilakumu?
Kita tidak berada dalam usia anak-anak lagi. Jika marah lakukanlah
dengan elegan, jangan merusak dan membuang barang orang yang tidak kau sukai.
Melampiaskan marah melalui barang orang yang kau benci bukannya memuakkan?
Bagaimana rasanya memaki orang namun orang yang kau maki tidak merespon? Kau
tidak merasa ada yang salah dengan otakmu? Aku tahu kau kekanakan, tapi aku
tidak mengira kau sekekanakan itu. Aku hanya menganggapmu tidak ada, jadi
berhenti memicingkan mata, menggebrak meja, atau membanting pintu, hanya
lakukan seperti yang aku lakukan. Menganggap tidak ada dan kita nantinya akan
memiliki kekuatan yang sama.
Aku hanya memperkirakan kau marah karena teman yang kau anggap baik
sudah meninggalkanmu, dan mereka tidak ingin kembali di sisimu. Menyebar rumor
bahwa kau adalah satu-satunya korban, aku tidak suka gaya itu. Jangan hanya
menempatkan aku menjadi orang yang paling jahat, tapi berpikirlah apa sebabnya
menjadi seperti ini. Di sini akulah yang anak kecil, sebab kau selalu mengclaim
bahwa dirimulah yang paling dewasa; yang harusnya lebih paham.
Sikap marahmu yang aneh, tingkah kasarmu untuk mencari perhatian, aku
tahu, tapi aku tidak lagi tertarik terhadapmu. Untungnya aku bukan orang dengan
banyak selera, aku hanya selektif dalam menentukan dengan siapa aku ingin
bercerita. Tentu saja, kita hanya dipisahkan oleh selera. Selera bahwa aku
tidak ingin berdekatan lagi denganmu. Sudahlah, mari bersikap baik dengan
menjalani hidup masing-masing untuk selamanya.