Apapun jika ini tulus, kita akan bertemu lagi di masa depan

Sabtu, 31 Mei 2014

Suratku Padamu

Teruntuk engkau yang selalu kucintai

Aku suka karena kau berbeda

Aku tahu hubungan kita tidak terlalu dekat seperti orang lain. Jika mereka menggunakan udara dan bertatapan mata sebagai media untuk berbicara dari hati ke hati, maka aku selalu berharap Tuhan menyampaikan rasaku padamu.

Seperti yang pernah tante bilang, angka jawaku lebih tinggi dari angkamu, bila kita bertengkar egoku akan lebih tinggi dari punyamu. Benar saja, bukankah kau yang akhirnya menangis jika kita bertengkar? Masih ingat ketika aku marah lalu lebih memilih tidur di rumah tante yang berjarak tiga rumah dari rumahmu? Pada akhirnya kau sakit dan menjemputku dengan mengiming-imingi barang yang aku sukai. Mengingat itu, aku tidak ingin beradu mulut lagi denganmu.


Aku begitu sadar umurku sudah tidak pantas untuk bersifat kekanakan, jadi aku berpikir ulang untuk merengek ini itu. Aku tidak lagi peduli engkau yang begitu perhatian dengan keponakanmu. Kalau memang jiwa sosialmu begitu tinggi, apa yang bisa kulakukan? Itu tidak begitu buruk, asal saja sambut aku saat aku pulang ke rumah. Jangan seperti waktu itu, aku hanya pulang dua hari dan saat itu aku benar-benar sakit. Kau bahkan tidak menyempatkan waktu hanya sekadar pulang ke rumah? Sampai aku berpikir, ‘Ah aku bahkan hampir tidak bisa bergerak, dan dia tidak peduli, apalagi sekarang yang kutakutkan?’

Tapi yang masih membuatku tidak paham ialah kenapa kau begitu percaya dengan orang lain? Jangan pernah lagi berurusan dengan politik, aku benar-benar ingin menampar wanita tidak tahu malu yang datang ke rumah waktu itu. Aku sering memanggilmu dan mengajak pulang jika engkau sudah berkumpul dengan tetangga dengan alasan ayo menonton drama yang kita sukai. ‘Jangan terlalu lama bergosip dengan hal yang tidak jelas, bahkan saat aku bersekolah di sekolah dasar teman jahat akan selalu ada’. Dari berbagai sifatmu, kenapa aku hanya mewarisi sifak keras dan pemarahmu? Aku bahkan begitu sulit untuk percaya dengan orang lain. Aku penasaran, apakah semasa kecilku aku sering ditipu, dibohongi, atau sejenisnya? Kenapa kepribadianku seperti ini? Aku terkadang juga iri, kau lebih cantik dan lebih tinggi dariku, entah mengapa aku tidak begitu ikhlas. Menakjubkan.

Kau suka sekali memanggil anak-anak kecil ke rumah dengan memberikan kue-kue  atau camilan lain, bahkan mereka bukan kerabat, sedangkan aku tidak menyukainya karena mereka memberantakkan kamarku. Engkau tahu kan aku pernah ujian dengan metode estafet? Kami berpacu pada wakttu, tapi pensil seseorang disampingku jatuh di dekat kursiku. Hatiku sedikitpun tidak bergerak untuk mengambilkannya. Mataku bahkan sama sekali tidak melirik pensil itu. ‘Waktu satu detik begitu berarti, dan aku dalam posisi yang sama hampir lebih tiga jam, aku lebih mengkhawatirkan ototku, dan dia orang asing yang baru pertama kulihat’. Jika itu engkau, pasti akan kauambilkan kan?

Namun suatu hari aku ingin mencoba berbuat baik. Pria di dalam bus yang duduk disampingku kesusahan membuka botol minuman, jadi aku membantunya membukakannya. Tanganku lengkap dan berfungsi dengan baik. Namun aku merasa menyesal, dia begitu cerewet menanyakan kehidupanku. Aku tidak nyaman. Aku hanya menjawab pertanyaannya dengan singkat tanpa tersenyum. Tapi dia begitu menjengkelkan, terus saja bertanya. Sampai aku memakai maskerku sebagai isyarat, ‘Diamlah, kau begitu berisik’, namun dia tetap saja mengoceh. Haruskah aku memakai earphone? Hanya ada dua alasan, aku ingin mendengarkan musik atau aku tidak ingin mendengar suaramu. Sampai-sampai aku pura-pura tidak mendengar saat dia bertanya. Aku merasa takdir hidupku berubah saat aku berinteraksi dengan orang lain. Jika takdir itu begitu menjengkelkan, aku menghindarinya. Sebenarnya aku tidak membenci menjadi ramah, aku hanya sedikit tidak menyukai orang yang tidak tahu batasannya. Apapun yang berlebihan sangat tidak bagus. Namun aku melakukannya.

Ada anak laki-laki yang begitu kusukai namun kita tidak memiliki rasa yang sama. Kau pasti sedih kan mendengar cerita ini? Aku yang selalu mengutamakan harga diriku, sekarang mengabaikannya. Tapi tenang saja, aku mulai sadar, sepertinya aku kemarin sedikit gila. Dibanding itu semua, aku lebih menyukai saat aku masih berteman dengannya. Memalukan akan lebih baik dari pada kekanakan. Kupikir aku sedikit mewarisi sifatmu. Terimakasih karena sifat kerasmu dan membiarkanku mandiri agar hidup memesona. Aku masih ingat ketika aku nakal, kau mengunciku di luar rumah dengan ancaman tidak boleh tidur di rumah kalau masih mengulangi. Benar saja, aku tidak pernah mengulanginya lagi. Saat Adikku nakal, kau juga memerlakukan hal yang sama, aku hanya menatapnya dari jendela depan rumah. ‘Bersabarlah, kau pasti akan merasa bersyukur saat besar nanti’.

Aku masih ingat bagaimana aku bermain sembari selalu menggenggam lengan adikku dan berjalan ke sana ke mari hanya berdua saja. Saat itu aku selalu memohon, cepat sembuhlah dan pulang ke rumah. Tentu saja sekarang aku sangat bersyukur karena kau begitu sehat dan tidak perlu lagi masuk ke rumah sakit. Sekarang pasti kau merasa khawatir dengan keadaanku kan? Ah jangan khawatir, aku akan baik-baik saja disini. Jarak bukanlah masalah untuk menjadi tidak sehat. Meskipun kata aku menyayangimu jarang terucap, namun kuyakin Tuhan tahu aku selalu mencintai dan merindukanmu, aku selalu mencintai dan merindukan kalian.


“Jangan kelaparan, jangan telat makan, hanya karena jauh jangan coba-coba makan mie instan, selalu sediakan camilan, jangan minum es dulu, jangan minum kopi, teh sama cokelat boleh asal jangan terlalu sering, jangan kedinginan, jangan mandi air dingin, jangan terluka, jangan ada yang lecet, dan jangan naik speedboat lagi kalau belum bisa berenang.”


Mlg, 01.06.2014

Jumat, 30 Mei 2014

Ah, Ketika Kau Pergi

Ketika kau pergi,
masih ada sayu mata menatap lama,
dari lebar bahu hangatmu, bulat sempurna dahimu, sampai rapi hitam rambutmu.
Biarpun rumbai lentik jari enggan bersentuh sapa.

Ketika kau pergi,
ada kecewa yang perlu dihenti,
ada sesak yang harus mati,
pula luka raksasa yang tak perlu lagi digali.
Tak mengapa, nanti juga tak ingat lagi.

Ketika kau pergi,
akan ada rindu membelai basah, hati berdegup gundah,
pun berdiri bernafas terasa jengah.
Tak masalah, waktu kan mematah.

Ketika kau pergi,
tinggalkan saja satu kenangan indah,
guna membuang resah keluh kesah. 
Kita bisa berjalan sembari bergenggaman tangan tanpa gusar, 
tak harus ada seikat tulip putih ataupun lilin berjajar, hanya tatap mata tanpa gentar.

Ketika kau pergi,
kenangan indah kan membentengi rekah luka parah,
lakukan saja itu, hanya satu.
Biar kau tak diingat sebagai si berengsek saat tak lagi bertemu.

Ah, ketika kau pergi,
jangan pernah kembali mudah,
agar kau mengerti ‘Yang sudah, biarlah sudah’.

Mlg, 30.05.2014

Rabu, 07 Mei 2014

Tentu Saja

“Tentu saja kita masih berteman. Hanya saja aku tidak punya alasan untuk tidak berteman denganmu. Aku tidak membencimu dan aku menyukaimu begitu banyak. Aku tahu aku kekanakan, meskipun aku sangat memalukan, tapi kupastikan aku tidak akan sekekanakan itu. Memandangmu begitu lama aku tidak akan melakukannya. Merengek agar mengantarku ke sana kemari, aku berusaha tidak lagi melakukannya. Memintamu melakukan ini itu, aku juga berusaha tidak akan lagi melakukannya, karena hati dan harga diriku sudah terluka. Kalau aku begitu manja dan tergantung, di mana lagi pesonaku?” 
“Tentu saja aku harus baik-baik saja. Mengubah canggung menjadi guncang, maupun sebaliknya, aku harus beradaptasi dengan apik. Tersenyum tulus padamu, itu memang benar-benar tulus. Aku bukan tipe pribadi yang pura-pura tersenyum. Jika aku tidak menyukainya, aku tidak akan tersenyum. Terlepas apakah nantinya tanganku bergetar, kakiku lemas, maupun jantungku berdegup kencang, apa lagi yang perlu dipedulikan? Kita tidak dalam hubungan untuk mengenal hati satu sama lain, katanya. Tentu saja kau tidak perlu merasa bersalah dan tentu saja aku tidak akan telihat lemah. Jika aku begitu lemah, di mana lagi pesonaku?”   
“Tentu saja aku juga tidak akan merasa bersalah. Ini tidak seperti aku memintamu untuk berbagi kartu keluarga atau menyuruhmu mengambil tanggung jawab terhadap kehidupanku di masa depan kelak. Terlepas apakah kau sebenarnya terganggu dan berpikir aku ini memuakkan, dengan bermuka tembok, tentu saja aku akan bersikap seolah tidak tahu malu. Kalau kepercayaan diriku tidak ada, di mana lagi pesonaku?”
“Tentu saja aku bukan protagonis yang menjadi peran utama. Menyebutkan namamu dalam setiap rapalan doaku, aku tidak melakukannya. Karena aku tidak mengingatmu. Tentu saja karena aku memiliki prioritas yang lebih utama atau lebih tepatnya kebahagiaanku yang pertama. Karena menyebut namamu terkadang sedikit menyakitkan. Tentu saja aku akan memalingkan mata dan menganggapmu hanya pada batas pertemanan. Jika aku tidak bangkit untuk membangun harga diriku, di mana lagi pesonaku?”
“Tentu saja, jika aku peduli, jika aku tidak mandiri, jika aku tidak berdiri, jika aku tidak pergi, di mana lagi pesonaku?”

Mlg, 07 Mei 2014