Teruntuk engkau yang selalu kucintai
Aku suka karena kau berbeda
Aku tahu hubungan kita tidak terlalu dekat seperti orang lain. Jika mereka menggunakan udara dan bertatapan mata sebagai media untuk berbicara dari hati ke hati, maka aku selalu berharap Tuhan menyampaikan rasaku padamu.
Seperti
yang pernah tante bilang, angka jawaku lebih tinggi dari angkamu, bila kita
bertengkar egoku akan lebih tinggi dari punyamu. Benar saja, bukankah kau yang
akhirnya menangis jika kita bertengkar? Masih ingat ketika aku marah lalu lebih
memilih tidur di rumah tante yang berjarak tiga rumah dari rumahmu? Pada
akhirnya kau sakit dan menjemputku dengan mengiming-imingi barang yang aku
sukai. Mengingat itu, aku tidak ingin beradu mulut lagi denganmu.
Aku
begitu sadar umurku sudah tidak pantas untuk bersifat kekanakan, jadi aku
berpikir ulang untuk merengek ini itu. Aku tidak lagi peduli engkau yang begitu
perhatian dengan keponakanmu. Kalau memang jiwa sosialmu begitu tinggi, apa yang
bisa kulakukan? Itu tidak begitu buruk, asal saja sambut aku saat aku pulang ke
rumah. Jangan seperti waktu itu, aku hanya pulang dua hari dan saat itu aku
benar-benar sakit. Kau bahkan tidak menyempatkan waktu hanya sekadar pulang ke
rumah? Sampai aku berpikir, ‘Ah aku bahkan hampir tidak bisa bergerak, dan dia
tidak peduli, apalagi sekarang yang kutakutkan?’
Tapi
yang masih membuatku tidak paham ialah kenapa kau begitu percaya dengan orang
lain? Jangan pernah lagi berurusan dengan politik, aku benar-benar ingin
menampar wanita tidak tahu malu yang datang ke rumah waktu itu. Aku sering
memanggilmu dan mengajak pulang jika engkau sudah berkumpul dengan
tetangga dengan alasan ayo menonton drama yang kita sukai. ‘Jangan terlalu lama
bergosip dengan hal yang tidak jelas, bahkan saat aku bersekolah di sekolah
dasar teman jahat akan selalu ada’. Dari berbagai sifatmu, kenapa aku hanya
mewarisi sifak keras dan pemarahmu? Aku bahkan begitu sulit untuk percaya
dengan orang lain. Aku penasaran, apakah semasa kecilku aku sering ditipu,
dibohongi, atau sejenisnya? Kenapa kepribadianku seperti ini? Aku terkadang
juga iri, kau lebih cantik dan lebih tinggi dariku, entah mengapa aku tidak
begitu ikhlas. Menakjubkan.
Kau
suka sekali memanggil anak-anak kecil ke rumah dengan memberikan kue-kue atau camilan lain, bahkan mereka bukan
kerabat, sedangkan aku tidak menyukainya karena mereka memberantakkan kamarku.
Engkau tahu kan aku pernah ujian dengan metode estafet? Kami berpacu pada wakttu,
tapi pensil seseorang disampingku jatuh di dekat kursiku. Hatiku sedikitpun
tidak bergerak untuk mengambilkannya. Mataku bahkan sama sekali tidak melirik
pensil itu. ‘Waktu satu detik begitu berarti, dan aku dalam posisi yang sama
hampir lebih tiga jam, aku lebih mengkhawatirkan ototku, dan dia orang asing
yang baru pertama kulihat’. Jika itu engkau, pasti akan kauambilkan kan?
Namun
suatu hari aku ingin mencoba berbuat baik. Pria di dalam bus yang duduk
disampingku kesusahan membuka botol minuman, jadi aku membantunya
membukakannya. Tanganku lengkap dan berfungsi dengan baik. Namun aku merasa
menyesal, dia begitu cerewet menanyakan kehidupanku. Aku tidak nyaman. Aku
hanya menjawab pertanyaannya dengan singkat tanpa tersenyum. Tapi dia begitu
menjengkelkan, terus saja bertanya. Sampai aku memakai maskerku sebagai
isyarat, ‘Diamlah, kau begitu berisik’, namun dia tetap saja mengoceh. Haruskah
aku memakai earphone? Hanya ada dua alasan, aku ingin mendengarkan musik atau
aku tidak ingin mendengar suaramu. Sampai-sampai aku pura-pura tidak mendengar
saat dia bertanya. Aku merasa takdir hidupku berubah saat aku berinteraksi
dengan orang lain. Jika takdir itu begitu menjengkelkan, aku menghindarinya. Sebenarnya
aku tidak membenci menjadi ramah, aku hanya sedikit tidak menyukai orang yang
tidak tahu batasannya. Apapun yang berlebihan sangat tidak bagus. Namun aku
melakukannya.
Ada
anak laki-laki yang begitu kusukai namun kita tidak memiliki rasa yang sama.
Kau pasti sedih kan mendengar cerita ini? Aku yang selalu mengutamakan harga
diriku, sekarang mengabaikannya. Tapi tenang saja, aku mulai sadar, sepertinya
aku kemarin sedikit gila. Dibanding itu semua, aku lebih menyukai saat aku
masih berteman dengannya. Memalukan akan lebih baik dari pada kekanakan.
Kupikir aku sedikit mewarisi sifatmu. Terimakasih karena sifat kerasmu dan
membiarkanku mandiri agar hidup memesona. Aku masih ingat ketika aku nakal,
kau mengunciku di luar rumah dengan ancaman tidak boleh tidur di rumah kalau
masih mengulangi. Benar saja, aku tidak pernah mengulanginya lagi. Saat Adikku
nakal, kau juga memerlakukan hal yang sama, aku hanya menatapnya dari jendela
depan rumah. ‘Bersabarlah, kau pasti akan merasa bersyukur saat besar nanti’.
Aku
masih ingat bagaimana aku bermain sembari selalu menggenggam lengan adikku dan
berjalan ke sana ke mari hanya berdua saja. Saat itu aku selalu memohon, cepat
sembuhlah dan pulang ke rumah. Tentu saja sekarang aku sangat bersyukur karena
kau begitu sehat dan tidak perlu lagi masuk ke rumah sakit. Sekarang pasti kau
merasa khawatir dengan keadaanku kan? Ah jangan khawatir, aku akan baik-baik
saja disini. Jarak bukanlah masalah untuk menjadi tidak sehat. Meskipun kata aku
menyayangimu jarang terucap, namun kuyakin Tuhan tahu aku selalu mencintai dan
merindukanmu, aku selalu mencintai dan merindukan kalian.
Mlg, 01.06.2014
“Jangan kelaparan, jangan telat makan, hanya karena jauh jangan coba-coba makan mie instan, selalu sediakan camilan, jangan minum es dulu, jangan minum kopi, teh sama cokelat boleh asal jangan terlalu sering, jangan kedinginan, jangan mandi air dingin, jangan terluka, jangan ada yang lecet, dan jangan naik speedboat lagi kalau belum bisa berenang.”
Mlg, 01.06.2014