Apapun jika ini tulus, kita akan bertemu lagi di masa depan

Senin, 13 Oktober 2014

Debar Jantung

Nyatanya aku tidak pandai dalam melupa, berbuat kejam mungkin aku akan mampu.

Kubilang aku suka sekali merasakan denyut nadiku berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Aku terpana takjub ketika kurebahkan tanganku pada jantung yang berdebar hebat seirama dengan langkah kakimu. Terasa panas dan berbeda. Berdesir bagai ular siap menerkam.

Selalu kukatakan, “Iya aku seperti lupa ingatan.” Nyatanya, “Iya kau selalu di ingatan.” lalu mereka hanya mengiyakan. Tetap saja jantungku berdebar hebat meski hanya melihat wajah dinginmu. Benar bukan aku tidak pandai dalam melupa? Aku pandai dalam berbohong. Ini hanya rahasia antara kita. Seseorang pernah berkata, “Yang terberat dari kebenaran adalah saat dia terungkap.” Ah aku tertangkap. Tak ada lagi lagi rahasia, karena rahasia hanya akan menjadi rahasia jika dia tetap terjaga.

Untuk pertama kalinya aku juga harus seperti itu, karena yang kuingat hanya jantungku yang berdebar, hanya aku yang tersenyum terlebih dahulu. Jadi aku tidak akan membiarkannya begitu saja. Memberikan reaksi terhadap aksi yang kau berikan adalah pilihan. Aku akan terus seperti itu, menyembunyikan debar jantungku dan merasakannya sendiri. Meskipun di balik punggungmu aku menyuruh mereka berhenti. “Mari berbalik, aku tidak dapat berkonsentrasi bekerja jika kulihat wajahnya.”

Bukan, yang kuceritakan padamu hanya semacam kebohongan. Sudah kubilang, aku pandai dalam berbohong.


Mlg.14.10.2014

Jumat, 10 Oktober 2014

With(out) Love

Sesuai perjanjian kita, segalanya harus dibicarakan, saling keterbukaan dan saling memahami.

Aku sengaja menulis surat ini, nomor teleponmu juga kuhapus meskipun aku sudah menghapalnya di luar kepala dan alamat rumahmu masih tertempel di otak. Terasa sia-sia? Tak mengapa, jika aku menghubungimu nanti, itu benar saja sedang terpikirkanmu. Duhai kekasihku, mari kita saling berjauhan untuk beberapa saat. Satu setengah tahun hubungan kita, sekarang ini aku berada pada puncak terjenuhkan. Cara tertawamu, perhatianmu, keposesifanmu, selera humormu, dan pesonamu terasa begitu memuakkan. Aku ingin mencoba atmosfir baru rasaku.

Jika saja hari ulang tahun atau hari jadi kita terlewatkan, aku tidak akan mengucapkan selamat. Jadi kau jangan mengharapkannya. Tetap saja aku berdoa semoga kau bahagia, pun aku. Malam akan berlalu seperti biasa. Jangan menatap layar handphone terlalu lama, namun berdoalah semoga aku merindukanmu. Tetap saja kau harus berdiri di tempatmu. Sembunyikan sifat angkuhmu dari yang lain karena itu pesonamu, dan juga sifat sombongmu yang menggemaskan. Sesekali jangan mencoba-coba untuk mengeluarkan sedikit senyuman pelitmu kepada yang lain; hal yang membuatku jatuh hati padamu, mungkin mereka akan terbuai akan damainya senyummu juga.

Coba saja jika berani menggoda perempuan lain. Pada akhirnya kau akan tahu, “Ah kekasihku masih yang terbaik” atau “Oh dia sempurna untukku”. Kau pasti mengerti kan kenapa aku melakukan ini? Inilah pesonamu. Aku hanya memberi waktu untuk kita saling merindu. Bekerja keraslah untuk kestabilan ekonomi di kehidupan kelak, jadi aku akan lebih terpesona olehmu. Sama, aku juga sedang bekerja keras. Bukankah gen ibu lebih berperan pada kecerdasan anak? Benar saja, aku sempurna untukmu.

Kala aku menghubungimu, langsung jawab panggilanku. Jangan terpikir untuk membuatku menunggu atau sengaja memperlama-lamakan panggilan. Apalagi akan menjadikanku berdiri sendiri di depan pintu musim dingin. Mereka biasa menyebutnya jual mahal. Itu benar-benar buruk. Kemudian ajak aku ke suatu tempat yang kau tahu seperti apa. Aku masih dengan emosional dan simpati yang tinggi. Ajak aku sekali saja untuk mengulurkan jari, setidaknya sedikit saja bisa menyalurkan empati. Setelah itu ajak aku ke Yogyakarta, tak perlu lama, hanya sehari saja. Aku ingin mendengar alunan angklung sepanjang hari penuh, dari pagi sampai malam jenuh. Kau masih sempurna untukku. Lalu kita menjalani hari seperti biasa, hari tanpa tahu dimana mati tiba.

Biarkan saja jika mereka menyebut kita gila, karena Tuhan membiarkan kita selalu jatuh cinta setiap sepasang mata bergerilya.


With(out) love,


Kekasih terbosankanmu

Mlg, 10.10.2014

Sabtu, 04 Oktober 2014

Apa yang Mesti Kita Bagi?

Sebab berbagi hanyalah mengenai keikhlasan

Kala senja menyapa birunya tahta, tak tersemai kata, tak ada lagi mata, pun sapa enggan menyapa. Karena sepasang mata memanja bertaburkan air mata. Kian jingga rona langit muka, gelap, hanya gulita. Karena kita tak lagi mengarti sua. Bagaimanapun kita tak ma(mp)u lagi bertatap suka, bukan?

Apa yang mesti kita cari? Tak jemu menunggumu di dermaga kala senja tiba atau kau yang berkelana tanpa rasa iba?

Kutukan-kutukan manis terumpat dari bibir mungilmu tentu tak mengapa, lantaran binar matamu mampu menggema, tak perlu lama, asal mampu membuat duduk setia. Hingga jika nanti senja tiba, hanya seutas senyum kan meraya.  Meski senja tiba, lantaran setia alih-alih serupa musabab, biarpun mata kian sembab, wewangian kenanga tertinggal kenangan. Sebab tangan-tangan lihaimu sudah barang tak sudi lagi menyentuh cantiknya pekarangan ataupun membuka gorden di pagi buta. Lihatlah, merah mawar yang kita tanam sebulan lalu di taman tak seberapa luas ini, tidak serekah kita yang dulu. Barang kali aku duri dan engkau kelopak atau sebaliknya? Siapa yang peduli? Bukankan mawar hanya akan menarik karena keberadaan duri? Tak elak, pulanglah kalau-kalau ingin melihat mereka merajuk melayu.

Apa yang mesti kita curi? Hangat mentari pagi bertabur nyeri atau perhatian hangat terlilit kesumat?

Menjelang petang kala senja riang datang diantara penantian lamaku sebab satu bulan selekas satu windu. Senja bilang, “Jangan menatapku selalu seolah-olah kita akan bertemu sedapat penantian panjangmu. Lelaplah sebelum malam gelap!”
Rindu mengangkuh tak karuan, “Bukankah menunggu hanya masalah waktu? Bagaimana jika dia datang ketika tak siapapun memandang? Padamulah senja kukanmeradang. Kuciptakan mendung biar-biar siluet membendung pesona jingga anggur merahmu. Kuciptakan derau-derau gemuruh di sore peluh jauh dari teduh.” Maka sabar membuncah tanpa gusar ataupun pudar. Sebab kenanga bermekaran lagi. Pagi hari kurawat mereka; kenanga, matahari, mawar, krisan, kamboja, kaktus, jaga-jaga kau kan pulang bersamaan sedap segar aroma tanah habis disiram. Sore hari kutemui senja lagi. Senja terdiam, merekam ingatan tentang kita, tentang kemarahan memakan keramahan atau tentang kau yang kabur bersama pria barumu.

Apa yang mesti kita cuci? Kesalahan tak termaafkan atau ingatan menjenuhkan?

Katamu bosan bertandang, termenung, lalu menyibak rajutan benang janji sehidup semati dan benang kasih sayang. Koyak tak tersisa, melebur bersatu ruwetnya problema. Jenuh serupa segelas susu penuh di atas meja, kian hari kian basi. Katamu aku salah, aku tanya kau berkilah. Entah. Kau suruh aku menerka-nerka. Bagimu kita serupa pinang dibelah dua, sama. Sama-sama membosankan. Teriakan tunggu ataupun diam di situ masih tak bisa menghalau derap lincah langkah kakimu keluar pintu. Melewati pekarangan, menggilas rerumputan, menendang selang air dan beberapa pot kosong, dan menerkam sebagian kaktus dengan heels tinggimu. Jangankan menetap, menatap pun segan.

Apa yang mesti kita caci? Penyesalan memati atau pengertian berhenti atau kekasihmu?

Kelepak-kelepak keraguan memuncak. Kesibukanmu melukis mampu melupakanku, katamu. Berang di tepi jurang, melenggang dari ruang. Apa kau tidak tahu apa yang kulukis? Wajah bangun tidurmu, wajah letihmu sehabis memasak, wajah marahmu saat aku lupa mandi, wajah cemberutmu saat bercerita dan aku merespon hanya dengan tersenyum, wajah malu-malu tersenyummu saat aku menggodamu, wajah takjubmu memandang bunga bermekeran, wajah segarmu menghirup pagi udara atau menyiram bunga-bunga pekarangan, wajah meringismu terkena duri mawar ataupun kaktus. Semua tentangmu. Kutinggalkan kanvas dan kuasku di gudang bawah tanah, lalu menunggu senja ditemani debur ombak, lagi, menunggumu termangu.

Apa yang mesti kita bagi?

Untukmu yang acap kali melupa kembali. Untukku yang kerap kali merasa berduri. Doa. Hanya doa. Ini tidak seperti kita bisa mengungkapkan rasa cinta kita dengan tubuh, perhatian, ataupun penantian. Kuberdoa, “Untukku lekas melupakanmu lebih cepat dari hatimu jatuh pada kekasihmu.” Kau berdoa, “Untukmu jangan menunggu senja tiba.”

Mlg. 04.10.2014

Yang kutakutkan kau hanya menyukai kenangannya, bukan orangnya. Bukan apa, tapi kau terlihat tidak menyayangi dirimu sendiri.

Jumat, 03 Oktober 2014

Emosi

Lantaran emosi yang berlebihan akan menjadi kenangan di masing-masing orang. Karena psikis manusia hanya mengingat kenangan yang dianggap paling membahagiakan ataupun kenangan yang dianggap paling menyedihkan.

Mereka bilang kalau orang banyak tingkah dan selalu ingin menjadi pusat perhatian adalah orang yang sering tidak mendapat perhatian. Bisa juga karena dia lelah bersikap acuh. Siapa yang tahu mengenai perjalanan hidup orang jika mereka tidak ingin mempublikasikannya?

Mereka juga bilang orang yang anti sosial adalah orang yang sering kesepian. Apa selalu begitu? Apakah mereka tidak pernah berpikir seperti ini, “Ah dia dulu memiliki sosial yang tinggi namun orang yang dipercayainya meninggalkannya dengan alasan yang begitu kekanakan semacam membawa kabur uang investasi.” Siapa lagi yang tahu jika orang itu hanya membisu tanpa bahasa?

Aku juga pernah dengar mereka mengatakan orang yang bermain-main dengan pasangannya adalah orang yang pernah setia namun sekalinya disakiti? Bukan apa tapi bisa jadi dia hanya mencari-mencari mana yang paling membahagiakan dibanding semuanya. Siapa yang akan tahu?

Emosi bukan hanya marah. Bahagia, sedih, ceria, sakit, kesal, senang, dan duka juga bagian dari emosi.   Jika bukan gen, lingkungan yang memengaruhi mereka.

Bagaimanapun anak kecil  yang menggenggam tangan kiriku dan mengatakan, “You’ll be okay. Don’t cry anymore. It’s better than last day.” lebih menenangkan dibandingan ucapan orang dewasa.


Mlg. 04.10.2014