Suara klakson dari motor dan mobil berbunyi bersahut-sahutan. Berpasang-pasang kaki melangkah menyeberangi jalan tanpa zebra cross karena jalan ini baru saja diperbaiki. Hari ini matahari bersinar terik, tanpa ada pohon yang menaungi di sekitar jalan Diponegoro. Apalagi asap-asap dari kendaraan yang semakin membuat penat pernafasan. Aku termangu di pinggir jalan menunggu jalanan benar-benar sepi karena aku tidak begitu berani untuk menyeberang. Lima menit, sepuluh menit aku masih menunggu. Kulihat jam yang terlililit dipergelangan tanganku sebelah kiri.
“Ah.. aku bisa telat. Kenapa tidak ada satpam yang biasa menyebrangkan?” Gumam Rini.
Namaku Rini, anak kelas XII di SMA Tirta Jaya. Rumahku jauh dari sekolah sehingga aku harus bangun pagi-pagi untuk naik bus agar tidak telat sampai sekolah. Untuk mengekos aku masih terlalu takut untuk tinggal sendirian dan jauh dari keluarga. Meskipun badan lelah harus bolak-balik sekolah-rumah, tapi kupikir itu tidak masalah, ya aku baik-baik saja.
Masih menunggu dan waktu juga berlalu maka kulangkahkan kakiku untuk berjalan dengan ragu. Tiba-tiba sebuah tangan menarik tanganku dan mengantarku untuk menyeberang jalanan yang begitu ricuh ini. Aku termangu menatap wajahnya dari samping. Aku merasa tanganku memanas. Ah bukan memanas, tapi mulai menjadi dingin seperti eskrim. Aku hanya terus menatap wajahnya tanpa berkata apapun. Hingga aku tersadar telah sampai diseberang jalan yang akan kutuju.
“Jangan seperti ini, aku bisa salah paham.” Ucapku dengan ketus sambil membanting tangannya yang sedari tadi memegang tanganku.
"Kau bisa terluka menyeberang seperti itu.” Jawab Rizky
“Bahkan ini tidak sebanding dengan luka yang kau beri.”