Apapun jika ini tulus, kita akan bertemu lagi di masa depan

Minggu, 24 November 2013

Sampai Akhir, Mari hanya Diam-diam

Suara klakson dari motor dan mobil berbunyi bersahut-sahutan. Berpasang-pasang kaki melangkah menyeberangi jalan tanpa zebra cross karena jalan ini baru saja diperbaiki. Hari ini matahari bersinar terik, tanpa ada pohon yang menaungi di sekitar jalan Diponegoro. Apalagi asap-asap dari kendaraan yang semakin membuat penat pernafasan. Aku termangu di pinggir jalan menunggu jalanan benar-benar sepi karena aku tidak begitu berani untuk menyeberang. Lima menit, sepuluh menit aku masih menunggu. Kulihat jam yang terlililit dipergelangan tanganku sebelah kiri.
“Ah.. aku bisa telat. Kenapa tidak ada satpam yang biasa menyebrangkan?” Gumam Rini.
Namaku Rini, anak kelas XII di SMA Tirta Jaya. Rumahku jauh dari sekolah sehingga aku harus bangun pagi-pagi untuk naik bus agar tidak telat sampai sekolah. Untuk mengekos aku masih terlalu takut untuk tinggal sendirian dan jauh dari keluarga. Meskipun badan lelah harus bolak-balik sekolah-rumah, tapi kupikir itu tidak masalah, ya aku baik-baik saja.
Masih menunggu dan waktu juga berlalu maka kulangkahkan kakiku untuk berjalan dengan ragu. Tiba-tiba sebuah tangan menarik tanganku dan mengantarku untuk menyeberang jalanan yang begitu ricuh ini. Aku termangu menatap wajahnya dari samping. Aku merasa tanganku memanas. Ah bukan memanas, tapi mulai menjadi dingin seperti eskrim. Aku hanya terus menatap wajahnya tanpa berkata apapun. Hingga aku tersadar telah sampai diseberang jalan yang akan kutuju.
“Jangan seperti ini, aku bisa salah paham.” Ucapku dengan ketus sambil membanting tangannya yang sedari tadi memegang tanganku.
"Kau bisa terluka menyeberang seperti itu.” Jawab Rizky
“Bahkan ini tidak sebanding dengan luka yang kau beri.”

Jumat, 01 November 2013

Bayang Usang

Akulah bayang usang
Terlekang oleh ruang
Tak hanya malam, bahkan siang
Apalagi hujan datang

Aku menjadi bayang usang
Selalu gemar menari
Berlenggok diantara dua hati
Mencari hati yang berpenghuni

Aku ini bayang usang
Bergerilya mengorek celah
Harap-harap kan terjamah
Hatimu yang selalu meludah

Aku betul bayang usang
Berdiri dibalik cahaya
Terhalang oleh cahaya
Berusaha menantang sinarnya

Aku masih bayang usang
Tanpa harga diri mengaku padamu
Tanpa rendah hati berhadap padamu
Tanpa manusiawi ingin bertemu

Aku senantiasa bayang usang
Berjeda cahaya molek
Terpisah rasa decak
Terhadang dunia pelik

Aku selalu bayang usang
Merindu melulu hingga terbelenggu
Aku memohon, kau buang mukamu
Aku meracau, kau tutup mulutku

Aku kan bayang usang
Mampir tanpa panggilan
Hidup tanpa hirauan
Mati tanpa kenangan

Aku demikian bayang usang
Masih dengan hati yang lama
Menatap hati yang sama
Pun penolakan tak berbeda

Aku pun bayang usang
Menengadah iba mereka
Tatkala tak kupinta

Aku tetap bayang usang
Terselimut hitam kekal
Sekali-kali kan menyesal
Menyayangkan hatimu yang loyal

Aku sekali lagi bayang usang
Takut akan senja
Tak sebanding dengan cahaya

Aku berharap bukan bayang usang
Menanti kau datang
Sembari peluk dan riang

Namun...
Aku lah bayang usang atau kau bayang semu?

Mlg, 02.11.13