Apapun jika ini tulus, kita akan bertemu lagi di masa depan

Kamis, 25 Desember 2014

Eat

“To you who eat a lot of rice because you are lonely,
To you who sleep a lot because you are bored,
To you who cry a lot because you are sad,
I write this down.
Chew on your feelings that are cornerned like you would chewe on rice.
Anyway, life is something that you need to digest.” – Let’s Eat

Dalam kegamangan yang mengusik tidurmu di pertengahan malam, mengenai loncatan pikiran tak tentu arah yang kerap kali membuang waktu berhargamu. Bagaimanapun mentari akan tenggelam dan terbit lagi. Masih lagi kau pasungkan dalam ingatan, untukmu yang pernah tinggal dan tak pernah tanggal. Yang menjadi sebab pagi buta seakan terlelap.

Tak ada lagi senyuman pagi peneduh untuk sehari, yang terbiasa ada untuk hari berikutnya. Bibirmu sesedap aroma nasi selekas masak di pagi hari, percuma, tak dinanak lagi. Sepercuma semangkuk sayur mendampingi nasi. Tidak tahu lagi apa yang ada di balik tudung saji di atas meja, apakah sup hangat atau hanya tertinggal secawan pare? Setidaknya kau harus mau membukanya untuk memastikan. Mungkin kau juga harus mencoba kerang atau udang, biar tahu apakah lembut atau justru mendapat alergi. Sebab terkadang seseorang terlalu malas untuk memastikan, apakah ia terluka karena kehilangan atau tidak terbiasa untuk sendiri dalam perjalanan. Apakah menyukainya karena paras rupawan atau sekadar penasaran? Atau apakah kau bersedih karena makan sendirian atau sendiri mulai membosankan? Seperti kau pandai menentukan apakah ini pedas cabai atau merica, apakah ini sedap rempah atau hanya penyedap rasa. Kau hanya harus terbiasa memastikan.

Mereka yang enggan menyelusur lebih dalam ialah mereka yang takut akan rasa sakit kebenaran. Bahwa kebenaran itulah yang dianggap luka paling mengecewakan. Terkadang kau bisa takut bahwa ternyata kehadirannya hanya sebagai perisai kesepianmu dalam melewati keseharian dalam beberapa bulan.  Bisa juga kau takut karena baru menyadari bahwa kau menyukainya setelah dia kembali dengan enggan. Atau barang kali suka-tidak suka yang berlebihan, serasa terlalu banyak garam dan kunyit dalam nasi kuning, pahit benar. Mengunyah penyesalan yang memerangkapmu dalam kesendirian serupa terlanjur menuang banyak air dalam menanak nasi, biarpun menjadi bubur, bukankah kau hanya perlu memastikan bahwa bubur yang kau buat ialah bubur terlezat yang mudah dicerna dan menyembuhkan rasa sakit?


Mlg, 25.12.2014

Selasa, 23 Desember 2014

Melodi Hitam

Melodi
Serupa gaduh mengusik ketentraman
Sedepa nada mengusir lamunan
Seteratur pola irama menggetarkan
Menjalar dalam ingatan

Hitam
Seelegan tuxedo membaluti
Sepekat arang rindu terbakar harmoni
Serasa ampas teh pagi hari
Meringkuk ingin lari

Kesiap not-not rindu menjelma
Alunan cekik menjelajah udara
Darimu, melodi hitam menangga rasa
Tanpa maksud memetik jua

Sssttt…
Bisik angin bergidik
Dengarlah
Rasakanlah
Lewat dinding dan deret bangku
Melodi hitam mencekat

Diam tak
Teriak tak
Terbungkam jejeritan laknat

Maju tak
Mundur tak
Terhimpit fatamorgana hikmat

Pelan
Perlahan
Pelan
Menahan
Pelan
Sialan
Aku tertelan


Ngw, Mlg
2011-23.12.2014

Jumat, 12 Desember 2014

Jangan Beri Tahu

Untukmu pengaku keberuntungan;

Jangan beri tahu waktu
Tentang irisan-irisan detik denting menggebu
Mengenai tamparan-tamparan penunggu
Lihat saja, begitu mudahnya terheran-heran berlalu

Jangan beri tahu ragu
Tentang kediaman membisu tersumbat peluh
Mengenai cakar buasnya siap menuju jitu
Lihat saja, derap mantap langkahnya melaju

Jangan beri tahu rindu
Tentang debaran-debaran pemburu nafsu
Mengenai gejolak hati para pencipta pecandu
Lihat saja, mata di depannya bermuara syahdu

Sekali lagi, jangan beri tahu waktu meragu merindu
Tentangku,
Bagaimana bisa hanya untuk menyukaimu akan sesakit itu?

Mlg. 12.12.2014

Senin, 01 Desember 2014

Hujan Desember

Angin Desember berdesau menggelitik gelegak hatinya. Ialah ia yang memiliki ruang dan waktu yang sering manusia sebut sebagai penantian. Juga mengenai kebohongan dan sanggahan yang biasa mereka sebut sebagai penyesalan, kepadanya gadis bermata sayu tak sengaja bersirobok di tikungan kala hujan deras bersahutan, rentang hawa dingin tahun lalu. Beku hatinya, sebab hujan Desember menghujam tanpa kelu.

Kala kecil ia selalu mencibir awan hitam, dan jika rinai hujan jatuh ia akan mengutuk langit lalu mengunci pintu dan menutup gorden dan menarik selimut bersembunyi diri. Berbaring meringkuk seperti bayi dalam rahim menuntut kenyamanan dari kilat menjulur siap menyambar. Menyumbat telinga harap cemas tak mendengar petir berkelakar. Katanya ia membenci hujan. Tak bisa untuk sakadar bermain petak umpet atau bola kasti bersama kawan di lapangan dekat perempatan. Ia membenci genangan air kotor yang menciprat pada alas kaki dan baju yang dipakainya. Juga percikan dari tanah di teras rumah yang hanya bisa ia pandang dari balik jendela selekas hujan reda.

Tidakkah ia tahu bahwa ucap mereka, ialah sebanyak rintik pertama hujan terjatuh serupa keajaiban yang dihadiahkan kepada ia yang memohon? Dan kilat berupa senyuman para pemberi wahyu, sedang petir sebagai lonceng waktu berharapmu mulai di dengar.
Hujan Desember kian berlalu, makin ranum makin harum ia selalu. Sebab ia mulai tahu, karena hujan pemberi kehidupan. Ia menghidupkan apa saja yang hendak mati dan menyegarkan apa saja yang sedang layu. Menyedapkan aroma tanah kering sisa-sisa kemarau bulan lalu dan memenuhi solum demi kemarau tahun depan. Lagi  ia menyisakan titik-titik embun pada pucuk dedaunan dan genangan air sisa hujan semalam untuk mereka berkaca mengenai keserakahan di masa silam.

Ketika gemuruh petir mengaduh, ia berdoa, ‘Tuhan, aku rindu dan ingin bertemu dengannya, setidaknya sekali lagi’.


Mlg. 1.12.14

Jumat, 28 November 2014

Biru

Terpaku diantara bola-bola mata saling menghanyut
Menyayat hati menembus deburan ombak di hadap raga
menghantam palung rasa tanpa jeda tanpa dekap
Bahkan jika angin kencang menjerap, kaki-kaki kecilmu memilih melekat menghujam tajamnya karang peraduan
Sebab katamu kau masih menyukai biru. Dari biru langit dan biru laut dan biru balon dan biru kebiruan

Katamu laut itu indah. Biru berkelip menyihir tanpa berkedip. Memandang burung-burung bebas melayang tepat pada rupa air, dan perahu-perahu nelayan terombang-ambing ombak lepas juga tak lupa mengikis cemas. Tatkala barang sejenak memandang lurus, ia terlihat jauh tanpa batas. Di sanakah ujung dunia? Atau pintu surga barang kali?

Lalu seketika laut yang kau pandang serupa semerah darah dan tak ada lagi burung, hanya kalong berkeliaran hilang arah. Lalu masihkah kau menyukai laut? Atau apakah kau akan lebih bersedih dari drama bodoh yang kutonton?

Katamu juga kau menyukai biru langit. Bersih tanpa dalih. Seluas kerendahan hati hingga mata mengentas. Namun jika sore menjemput, langit kan semerah senja. Senja tanpa reda. Semerah anggur gundhi penuh ambisi kian mengusik malam tanpa berbisik pada sinar hangat mentari. Jika seperti itu masihkah kau menyukai langit? Bahkan tak jarang awan-awan kian bersekongkol melepas rindu. Saling merangkul dan menangis. Diciptakannya bulir-bulir air dan dijadikannya langit sebuah sebab. Lalu menurutmu apakah awan pantas sebagai pajangan? Masihkah kau menyukai langit? Atau apakah kau akan marah dan mengutuk hujan?

Bahkan jika tidak biru lagi, masihkah kau menyukai mereka? Lalu masihkah aku mengaku menyukaimu?


Mlg. 28.11.14

Jumat, 21 November 2014

Mau Bagaimana Lagi?

Sebab terkadang, seseorang menjalani garis edar karena terpaksa, sebab itu hanya satu-satunya jalan untuk bertahan.


Kuberitahu dulu, jika kamu tidak pernah seperti itu, berhentilah mengeja sampai di sini.

Ini mengenai tentangku. Bukan tentangmu, bukan tentangnya, bukan tentang mereka, apalagi tentang kita. Sebab kata-kata semangat atau tepukan pada bahu tidak berarti lagi, atau anggukan pasti dan senyuman tidak mampu terperikan, karena mereka semua tak ada apa-apanya dibandingkan ‘mau bagaimana lagi?’.

Pernah kukerjakan tugas dari pukul 08.00 pm sampai 01.30 am. Ini bukan mengenai kelalaian, akan tetapi mengenai kesombongan. Karena kukira laporan itu akan telah selesai hanya dengan waktu tiga jam. Nyatanya mereka memakan waktu  lebih banyak, jauh dari yang kuperkirakan. Ini mengenai kesombongan bukan? Aku kesulitan tidur dan merusak kesehatanku. Aku bangun dan tidur lagi. Lama, lalu terbangun pukul 07.40 am. Oh aku ada kelas 07.30 am. Mandi cepat dan melewatkan sarapan. Padahal biasanya aku tidak mau berangkat kalau belum sarapan, tapi mau bagaimana lagi? Kelas itu sudah kubayar dan hakku untuk datang.

Hidungku agak sensitif, penciumanku lebih tajam dari yang lain kurasa. Aku tidak tahan mencium sarung tangan atau benda asing yang masuk ke dalam mulutku dalam ruangan itu. Jadi mereka kesulitan memasukkan data dalam rekam medisku. Cara terakhir dilepaskannya sarung tangan itu. Tetap saja aku mual sampai mata berlinang. Terlebih Co-Ass itu kena marah atasannya, menyalahi prosedur. Katanya, lewati saja rekam medisnya, langsung saja ronsen. Kupikir aku sudah datang kemari dan terlewati begitu saja? Bahkan ini baru rekam medis, mau bagaimana lagi? Ditutupnya hidungku oleh temanku, kemudian diambil semua dataku. Tidak mudah, aku masih mual beberapa kali. Istirahat sebentar dan mulai lagi. Kutahan. Jika orang–orang disampingku berbaring dengan tenang, aku tidak. Aku kesulitan bernafas, karena aku tidak pandai bernafas dengan mulut dan air mataku tahu-tahu mengalir mencapai pipi.

Dalam ‘Playfull Kiss’ aku memaki Hani yang menangis karena tenggelam berusaha menolong adik temannya. Padahal hanya seperti itu, bagaimana bisa dia menangis di pelukan Sengjo? Jangan membuatku berpikir yang bukan-bukan tentangmu, Hani. Namun sekarang aku tahu, apa yang dirasakan Hani, apa yang dipikirkan Hani, apa yang ditakutkan Hani. Itu kali kedua aku merasa benar-benar ketakutan. Tidak bisa berenang dan bernafas. Mungkin hanya satu menit, tapi tidak ada lagi kata yang bisa menggambarkan bagaimana aku waktu itu. Untung saja aku masih hidup, menepi dan air mataku menetes. Tidak ada yang tahu, semua basah. Untunglah. Waktu itu aku ingin menangis, tidak tahu dimana dan seperti apa. Hanya marah. Jadi sewaktu sudah sampai depan pintu rumah aku menangis sejadi-jadinya. Berlebihan? Kau, tenggelamlah dulu dan sesak nafas, biar tahu rasanya jadi aku. Hingga ketika aku pertama melihat kolam setelah kejadian itu, perutku mual, kepalaku pusing dan lemas tidak mampu berdiri. Hanya terbayang bagaimana kakiku menjejak-jejak air dan mengacungkan tanganku dan meminta tolong dengan kesusahan. Ternyata benar bahwa trauma itu memang ada. Namun sepupuku bilang, “Jangan manja! Sebelum mengenai orang lain, setidaknya tolonglah dirimu sendiri”. Mau bagaimana lagi? Sebab aku memang bertekad untuk bisa, sebab menyentuh air satu-satunya jalan supaya aku bisa menolong diriku sendiri. Jadi selama tiga hari setiap sore aku berlatih. Sekarang belum pandai benar, tapi bisa.

Sekarang kamu tahu bagaimana takjubnya ‘mau bagaimana lagi?’. Seperti ini, karena aku mengingat kembali beberapa kenangan buruk, mau bagaimana lagi? Aku hanya ingin menangis dan terlelap tidur, malam ini.


Mlg. 21.11.14

Minggu, 16 November 2014

Putri Malu: Aku Membencimu, Tuan.

Pada Tuan kumengadu
Aku membencimu terlalu

Aku sekadar tumbuhan liar penunggu. Tubuhku penuh duri menusuk apa saja didekatku. Aku sedikit pemalu. Namun begitu, syarat bunga sebutku. Bunga (liar)ku merah muda penuh haru. Indah katanya, meski lekat-lekat menatapku termangu hilang waktu. Orang-orang menyebutku putri malu, karena aku memang pemalu.

Aku sensitif pada barang apa seja lewat di dekatku. Rintik hujan dan semilir angin dan gugur daun dan hentakan dan sekelebatan, aku akan menelungkupkan daun mukaku berbarengan tanpa komando. Kerap kali anak-anak kecil akan sengaja menyentuhku dengan runcing kayu hanya untuk melihatku menyembunyikan kepak daun lebarku atau sengaja menjatuhiku dengan batu-batu besar tajam tanpa ampun. Tak mengapa karena aku hanya tumbuhan diantara semak belukar dan mereka tidak berani memetikku. Sebab duri tajamku melukai mereka, lalu menjauhiku cepat-cepat. Mereka sering menyebutku penggangu, entah, padahal aku tidak pernah merusak tanaman hias yang mereka rawat bak bayi lahir. Aku tidak akan muncul pada pekarangan ataupun pot-pot cantik di depan rumah. Kata mereka aku tak sedap dipandang mata. Sebut saja aku cukup tahu diri di mana aku harus berdiri.

Pagi itu sehabis embun merajuk sebab mentari bersinar lebih terik dari biasanya, seperti biasa aku melakukan rutinitasku. Menikmati semilir angin sambil sesekali meringkuk penuh takut pada gerakan cepat tanpa intruksi. Hari ini berbeda, kudengar derap gontai langkah kaki mendekati tubuhku. Tidak secepat itu aku menutup diri, sebab irama langkahnya seperti kode bahwa iya akan tiba.

Tuan tampan pemegang mawar
Aku tidak mengira, untuk pertama kalinya daun, batang, duri, dan bungaku terjepit diantara tanah dan kaki. Rasanya rempu redam menghujam. Duri-duriku menusuk pada kulit halus tepat diatasku. Masih bisa kucium semerbak anyir darah yang merembes dari kaki itu.
“Astaga, bunga pertamaku mati tanpa permisi.”

Kaki Tuan itu berlalu, terlebih pergi. Tunggu dulu, aku baru tahu, warna darah serekah merah pekat mawar yang dijatuhkannya pada sirip daun-daunku. Biasanya aku hanya melihat setetes darah yang keluar dari jemari anak kecil yang merengek karena tak sengaja tersentuh duriku. Tuan pemegang mawar kembali lagi, mengambil mawar. Tak sengaja tangannya menyentuhku, aku menutup diri lagi. Terpaku.

Kubilang pada rerumputan dan semak-semak dan ilalang, aku membenci Tuan pemegang mawar itu. Aku akan-akan berantakan dengan bau yang ditinggalkan. Untung saja langit berada dipihakku. Diturunkannya rintik-rintik hujan mengenai seluruh badanku. Menyapu segala anyir menempel. Tak kupedulikan, aku akan mekar lebih segar dari hari ini. Dengan daun lebih lebar dengan bunga lebih besar dan terang dari biasanya.

Esok hari wajahku sudah merona berhias bola-bola merah muda diantara tingginya ilalang menjulang. Aku siap menerpa hangat mentari ataupun kerikil-kerikil kecil menjahil.

Tak kusangka Tuan pemegang mawar kembali lagi, pun dengan cara yang sama masih dengan sekuntum bunga. Diinjaknya aku lagi, masih dengan kaki yang sama, masih dengan anyir yang sama, masih dengan hancur daun dan bunga-bunga.  Ini sedikit keterlaluan. Aku akan menanyainya.
“Tuan, apa yang kau lakukan dengan menginjakku yang rapuh ini?”
“Tuan, apa kau tidak melihat aku ada disini?”
“Tuan, aku juga butuh bernafas. Tidak bisakah kau tidak mencekik leherku?”
“Tuan, tidakkah kau melihat pesonaku hanya bunga merah mudaku? Jika kau hancurkan, apalagi yang kimiliki?”
“Tuan, kumohon…”

Aku berusaha sekuat tenaga menelungkup melindungi diri. Ini lebih anyir dari sebelumnya, bagaimana bisa Tuan itu tidak melepaskan cekikannya? Ilalang berteriak mengkhawatirkanku. Semak belukar menarik menyelamatkanku. Sia-sia. Kubilang aku membenci Tuan tak tahu diri ini.

Tuan pemegang mawar hanya membisu tanpa nafsu, tak bergerak seinchi dari tempatnya untuk menepi.
“Aku membencimu Tuan.”

Diam lagi. Tik tok tik tok tik tok..
Kurasakan air hujan menetes di dedaunan dan bunga-bungaku. Ah langit berpihak lagi padaku, pikirku. Bukan. Air ini, air hujan dari Tuan pemegang mawar. Dingin.

Pada Tuhan kumengadu
Aku terlalu malu untuk mengaku aku tidak butuh waktu lama untuk menyukaimu

Kau satu-satunya yang mau mendekatiku terlebih tak masalah dengan duri tajamku. Ini membuatku terasa istimewa. Kujatuhkan hatiku padamu tanpa perlu satu alasan. Aku tidak berani mengaku pada semak dan ilalang, sebab mereka akan mengejekku.

Pesona tampanmu, lebar dahimu, dan lembut telapak kakimu, mungkin tak masalah jika kubagi indah bungaku tanpa mahkota. Wajah risaumu tentu benar menggambarkan suasana hatimu. Aku tahu dari awal. Kubiarkan kau menginjak sesukamu. Sakit yang kau rasa, berbagilah denganku. Bagaimana bisa kau menginjakku tanpa alas kaki? Bagaimana bisa kau melukai dirimu sendiri? Agar kita impas? Sudahlah.

Bahwa sesakitan yang kurasa mungkin belum sebanding olehmu. Tetap saja aku mengharapkanmu kembali lagi. Kupersiapkan bunga dan daun terbaik untukmu. Namun tetap saja masih belum bisa menggantikan rasa sakitmu. Masih saja, hari ini kau lukai tubuhmu sendiri, Tuan. Memang seberapa besar kau bersalah sampai kau membalasnya dengan menyakiti dirimu sendiri? Ambillah duriku lebih banyak dan buanglah lukamu lebih cepat mengalir bersama merah darah dan serekah kelopak-kelopak mawar. Sehabis itu bersinarlah.

Air matamu yang dingin. Bagaimana bisa sebegitu dingin bak air hujan?  Orang lain akan terasa hangat. Bahkan menangis saja sudah begitu menyedihkan, bagaimana bisa air mata akan menghiburmu jika itu sebegitu dingin? Lalu sedingin apalagi hatimu?

Tanganmu tak sebanding dengan telapak kakimu. Juga sama, sedingin air mata. Bagaimana bisa kau menghangatkan air matamu dengan telapak yang dingin itu? Apa tercuri rekah mawar?

Sebenarnya, selain duri untuk membuang lukamu, tidak bisakah daun-daunku menghapus air matamu? Tidak bisakah bunga-bungaku kau rangkai untuk menghiburmu? Tidak bisakah aku, si Putri Malu ini mengganti Mawar Merah? Atau barang kali, tidak bisakah paling tidak aku menyamai Mawar Merah?

Datanglah lagi esok hari, lalu lusa, lalu kemudian hari selanjutnya dan selanjutnya. Biarkan terlebih dulu kau mengenal duriku, Tuan, lalu batangku, lalu daunku, lalu bungaku, lalu petik aku dan sempatkan aku berada disampingmu.
Selamanya, Tuan.


Mlg. 16.11.2014

Rabu, 05 November 2014

Menunggu

Riak-riak rumbai rambutmu berkelebat tertepa sepoi angin malu-malu
Menyapu kenangan yang barang tentu tak ingin kau palu
Aku masih di sini, termenung di bangku panjang
Diantara hijau pepohonan di bawah rindang
dan sejuk merah mega
dan kicauan burung gereja mencari mangsa
dan keramaian hiruk pikuk
dan gemericik air mancur merasuk
Kuberitahu..
Aku sedang menunggu

Bagaimanapun, tercekik jejeritan gelisah dan rindu
Aling-aling penghibur ragu
Menyatu merajut kalbu
Sesegera menyingkap kepahitan sesendu
Merapal doa demi berbagai temu
Kuberitahu..
Aku sedang menunggu

Tak pelak, memintal asa penuh lembut
Bayang jemu tak kuasa merenggut
Sebab malarindu menjemawa melanjut
Masih dengan hati yang sama terpaut
Kuberitahu..
Aku sedang menunggu

Menatap lurus kolong langit lalu
Masih dengan senja melulu
Kian mentari berani beradu
Sebab hangat bisa juga menyengat menderu
Sebab menunggu hanya bertandang lalu ditinggalkan; hanya sebatas tamu
Kuberitahu..
Aku sedang (melupa) menunggu



Ngw. 5.11.2014

Senin, 13 Oktober 2014

Debar Jantung

Nyatanya aku tidak pandai dalam melupa, berbuat kejam mungkin aku akan mampu.

Kubilang aku suka sekali merasakan denyut nadiku berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Aku terpana takjub ketika kurebahkan tanganku pada jantung yang berdebar hebat seirama dengan langkah kakimu. Terasa panas dan berbeda. Berdesir bagai ular siap menerkam.

Selalu kukatakan, “Iya aku seperti lupa ingatan.” Nyatanya, “Iya kau selalu di ingatan.” lalu mereka hanya mengiyakan. Tetap saja jantungku berdebar hebat meski hanya melihat wajah dinginmu. Benar bukan aku tidak pandai dalam melupa? Aku pandai dalam berbohong. Ini hanya rahasia antara kita. Seseorang pernah berkata, “Yang terberat dari kebenaran adalah saat dia terungkap.” Ah aku tertangkap. Tak ada lagi lagi rahasia, karena rahasia hanya akan menjadi rahasia jika dia tetap terjaga.

Untuk pertama kalinya aku juga harus seperti itu, karena yang kuingat hanya jantungku yang berdebar, hanya aku yang tersenyum terlebih dahulu. Jadi aku tidak akan membiarkannya begitu saja. Memberikan reaksi terhadap aksi yang kau berikan adalah pilihan. Aku akan terus seperti itu, menyembunyikan debar jantungku dan merasakannya sendiri. Meskipun di balik punggungmu aku menyuruh mereka berhenti. “Mari berbalik, aku tidak dapat berkonsentrasi bekerja jika kulihat wajahnya.”

Bukan, yang kuceritakan padamu hanya semacam kebohongan. Sudah kubilang, aku pandai dalam berbohong.


Mlg.14.10.2014

Jumat, 10 Oktober 2014

With(out) Love

Sesuai perjanjian kita, segalanya harus dibicarakan, saling keterbukaan dan saling memahami.

Aku sengaja menulis surat ini, nomor teleponmu juga kuhapus meskipun aku sudah menghapalnya di luar kepala dan alamat rumahmu masih tertempel di otak. Terasa sia-sia? Tak mengapa, jika aku menghubungimu nanti, itu benar saja sedang terpikirkanmu. Duhai kekasihku, mari kita saling berjauhan untuk beberapa saat. Satu setengah tahun hubungan kita, sekarang ini aku berada pada puncak terjenuhkan. Cara tertawamu, perhatianmu, keposesifanmu, selera humormu, dan pesonamu terasa begitu memuakkan. Aku ingin mencoba atmosfir baru rasaku.

Jika saja hari ulang tahun atau hari jadi kita terlewatkan, aku tidak akan mengucapkan selamat. Jadi kau jangan mengharapkannya. Tetap saja aku berdoa semoga kau bahagia, pun aku. Malam akan berlalu seperti biasa. Jangan menatap layar handphone terlalu lama, namun berdoalah semoga aku merindukanmu. Tetap saja kau harus berdiri di tempatmu. Sembunyikan sifat angkuhmu dari yang lain karena itu pesonamu, dan juga sifat sombongmu yang menggemaskan. Sesekali jangan mencoba-coba untuk mengeluarkan sedikit senyuman pelitmu kepada yang lain; hal yang membuatku jatuh hati padamu, mungkin mereka akan terbuai akan damainya senyummu juga.

Coba saja jika berani menggoda perempuan lain. Pada akhirnya kau akan tahu, “Ah kekasihku masih yang terbaik” atau “Oh dia sempurna untukku”. Kau pasti mengerti kan kenapa aku melakukan ini? Inilah pesonamu. Aku hanya memberi waktu untuk kita saling merindu. Bekerja keraslah untuk kestabilan ekonomi di kehidupan kelak, jadi aku akan lebih terpesona olehmu. Sama, aku juga sedang bekerja keras. Bukankah gen ibu lebih berperan pada kecerdasan anak? Benar saja, aku sempurna untukmu.

Kala aku menghubungimu, langsung jawab panggilanku. Jangan terpikir untuk membuatku menunggu atau sengaja memperlama-lamakan panggilan. Apalagi akan menjadikanku berdiri sendiri di depan pintu musim dingin. Mereka biasa menyebutnya jual mahal. Itu benar-benar buruk. Kemudian ajak aku ke suatu tempat yang kau tahu seperti apa. Aku masih dengan emosional dan simpati yang tinggi. Ajak aku sekali saja untuk mengulurkan jari, setidaknya sedikit saja bisa menyalurkan empati. Setelah itu ajak aku ke Yogyakarta, tak perlu lama, hanya sehari saja. Aku ingin mendengar alunan angklung sepanjang hari penuh, dari pagi sampai malam jenuh. Kau masih sempurna untukku. Lalu kita menjalani hari seperti biasa, hari tanpa tahu dimana mati tiba.

Biarkan saja jika mereka menyebut kita gila, karena Tuhan membiarkan kita selalu jatuh cinta setiap sepasang mata bergerilya.


With(out) love,


Kekasih terbosankanmu

Mlg, 10.10.2014

Sabtu, 04 Oktober 2014

Apa yang Mesti Kita Bagi?

Sebab berbagi hanyalah mengenai keikhlasan

Kala senja menyapa birunya tahta, tak tersemai kata, tak ada lagi mata, pun sapa enggan menyapa. Karena sepasang mata memanja bertaburkan air mata. Kian jingga rona langit muka, gelap, hanya gulita. Karena kita tak lagi mengarti sua. Bagaimanapun kita tak ma(mp)u lagi bertatap suka, bukan?

Apa yang mesti kita cari? Tak jemu menunggumu di dermaga kala senja tiba atau kau yang berkelana tanpa rasa iba?

Kutukan-kutukan manis terumpat dari bibir mungilmu tentu tak mengapa, lantaran binar matamu mampu menggema, tak perlu lama, asal mampu membuat duduk setia. Hingga jika nanti senja tiba, hanya seutas senyum kan meraya.  Meski senja tiba, lantaran setia alih-alih serupa musabab, biarpun mata kian sembab, wewangian kenanga tertinggal kenangan. Sebab tangan-tangan lihaimu sudah barang tak sudi lagi menyentuh cantiknya pekarangan ataupun membuka gorden di pagi buta. Lihatlah, merah mawar yang kita tanam sebulan lalu di taman tak seberapa luas ini, tidak serekah kita yang dulu. Barang kali aku duri dan engkau kelopak atau sebaliknya? Siapa yang peduli? Bukankan mawar hanya akan menarik karena keberadaan duri? Tak elak, pulanglah kalau-kalau ingin melihat mereka merajuk melayu.

Apa yang mesti kita curi? Hangat mentari pagi bertabur nyeri atau perhatian hangat terlilit kesumat?

Menjelang petang kala senja riang datang diantara penantian lamaku sebab satu bulan selekas satu windu. Senja bilang, “Jangan menatapku selalu seolah-olah kita akan bertemu sedapat penantian panjangmu. Lelaplah sebelum malam gelap!”
Rindu mengangkuh tak karuan, “Bukankah menunggu hanya masalah waktu? Bagaimana jika dia datang ketika tak siapapun memandang? Padamulah senja kukanmeradang. Kuciptakan mendung biar-biar siluet membendung pesona jingga anggur merahmu. Kuciptakan derau-derau gemuruh di sore peluh jauh dari teduh.” Maka sabar membuncah tanpa gusar ataupun pudar. Sebab kenanga bermekaran lagi. Pagi hari kurawat mereka; kenanga, matahari, mawar, krisan, kamboja, kaktus, jaga-jaga kau kan pulang bersamaan sedap segar aroma tanah habis disiram. Sore hari kutemui senja lagi. Senja terdiam, merekam ingatan tentang kita, tentang kemarahan memakan keramahan atau tentang kau yang kabur bersama pria barumu.

Apa yang mesti kita cuci? Kesalahan tak termaafkan atau ingatan menjenuhkan?

Katamu bosan bertandang, termenung, lalu menyibak rajutan benang janji sehidup semati dan benang kasih sayang. Koyak tak tersisa, melebur bersatu ruwetnya problema. Jenuh serupa segelas susu penuh di atas meja, kian hari kian basi. Katamu aku salah, aku tanya kau berkilah. Entah. Kau suruh aku menerka-nerka. Bagimu kita serupa pinang dibelah dua, sama. Sama-sama membosankan. Teriakan tunggu ataupun diam di situ masih tak bisa menghalau derap lincah langkah kakimu keluar pintu. Melewati pekarangan, menggilas rerumputan, menendang selang air dan beberapa pot kosong, dan menerkam sebagian kaktus dengan heels tinggimu. Jangankan menetap, menatap pun segan.

Apa yang mesti kita caci? Penyesalan memati atau pengertian berhenti atau kekasihmu?

Kelepak-kelepak keraguan memuncak. Kesibukanmu melukis mampu melupakanku, katamu. Berang di tepi jurang, melenggang dari ruang. Apa kau tidak tahu apa yang kulukis? Wajah bangun tidurmu, wajah letihmu sehabis memasak, wajah marahmu saat aku lupa mandi, wajah cemberutmu saat bercerita dan aku merespon hanya dengan tersenyum, wajah malu-malu tersenyummu saat aku menggodamu, wajah takjubmu memandang bunga bermekeran, wajah segarmu menghirup pagi udara atau menyiram bunga-bunga pekarangan, wajah meringismu terkena duri mawar ataupun kaktus. Semua tentangmu. Kutinggalkan kanvas dan kuasku di gudang bawah tanah, lalu menunggu senja ditemani debur ombak, lagi, menunggumu termangu.

Apa yang mesti kita bagi?

Untukmu yang acap kali melupa kembali. Untukku yang kerap kali merasa berduri. Doa. Hanya doa. Ini tidak seperti kita bisa mengungkapkan rasa cinta kita dengan tubuh, perhatian, ataupun penantian. Kuberdoa, “Untukku lekas melupakanmu lebih cepat dari hatimu jatuh pada kekasihmu.” Kau berdoa, “Untukmu jangan menunggu senja tiba.”

Mlg. 04.10.2014

Yang kutakutkan kau hanya menyukai kenangannya, bukan orangnya. Bukan apa, tapi kau terlihat tidak menyayangi dirimu sendiri.

Jumat, 03 Oktober 2014

Emosi

Lantaran emosi yang berlebihan akan menjadi kenangan di masing-masing orang. Karena psikis manusia hanya mengingat kenangan yang dianggap paling membahagiakan ataupun kenangan yang dianggap paling menyedihkan.

Mereka bilang kalau orang banyak tingkah dan selalu ingin menjadi pusat perhatian adalah orang yang sering tidak mendapat perhatian. Bisa juga karena dia lelah bersikap acuh. Siapa yang tahu mengenai perjalanan hidup orang jika mereka tidak ingin mempublikasikannya?

Mereka juga bilang orang yang anti sosial adalah orang yang sering kesepian. Apa selalu begitu? Apakah mereka tidak pernah berpikir seperti ini, “Ah dia dulu memiliki sosial yang tinggi namun orang yang dipercayainya meninggalkannya dengan alasan yang begitu kekanakan semacam membawa kabur uang investasi.” Siapa lagi yang tahu jika orang itu hanya membisu tanpa bahasa?

Aku juga pernah dengar mereka mengatakan orang yang bermain-main dengan pasangannya adalah orang yang pernah setia namun sekalinya disakiti? Bukan apa tapi bisa jadi dia hanya mencari-mencari mana yang paling membahagiakan dibanding semuanya. Siapa yang akan tahu?

Emosi bukan hanya marah. Bahagia, sedih, ceria, sakit, kesal, senang, dan duka juga bagian dari emosi.   Jika bukan gen, lingkungan yang memengaruhi mereka.

Bagaimanapun anak kecil  yang menggenggam tangan kiriku dan mengatakan, “You’ll be okay. Don’t cry anymore. It’s better than last day.” lebih menenangkan dibandingan ucapan orang dewasa.


Mlg. 04.10.2014

Rabu, 24 September 2014

Menyesal? Tidak Ada

“Mereka-mereka sengaja sudah kulupakan, tapi mereka tetap mengingatku.”

Tidak peduli bagaimana omongan orang mengenai kehidupanku, bagaimanapun mereka tidak akan bertanggung jawab mengenai masa depanku, katanya.

Aku tetap diam terpaku ketika perempuan ini mengatakan hal tersebut tepat disamping telingaku. Aku hanya menganggapnya keterlaluan karena dia memilih berhenti dari jenjang sekolah yang baru saja ditempuhnya. Tapi tak jadi, memangnya apa aku ini, apa aku memberikan kehidupan untuknya? Tanpa sepengetahuanmu sebenarnya aku sedikit tidak menyukaimu, kau mencuri saudaraku dari tangan kami. Kau tahu sendiri aku sedikit pendendam.

Pribadimu hangat dan penuh kasih, tak apa setidaknya kau meninggalkan kenangan indah. Suara lembutmu menyeru “Kak… Kak… Kak..” bukan apa tapi hatiku mencair. Bagaimana kau mengatakan menyukai memiliki kakak, dengan sifat pendendamku tentu saja aku menyukaimu. Mungkin untuk orang lain arti pendendam kami erbeda. Begitulah. Tak mengapa karena aku juga tidak begitu tertarik dengan memiliki banyak teman dekat. Aku tidak percaya siapapun, sama sepertimu. Ah mungkin karena kita sama jadi kita bisa dekat semudah itu.

Kau menahan tangis karena bertengkar dengan ayahmu karena kau bertengkar dengan ibu tirimu yang memaki-maki ibumu. Menangislah jika ingin menangis, dan jangan balik memaki, adukan saja pada Tuhanmu. Bahkan perempuan itu mengadu agar semua yang ada di sekelilingnya melupakannya. Kau.. kau merasa beruntung karena tidak memiliki ingatan yang bagus.
“Aku bisa dengan cepat melupakan mereka. Melegakan. Bukan, sebenarnya karena aku bersikeras melupakan mereka dan kemauan kuatku menyelamatkanku.”
“Jika aku memiliki kehidupan lain di masa depan, aku mungkin akan tetap memilih jalan ini. Sama seperti matahari yang tidak bisa mengelilingi bulan, dan bulan yang tidak bisa memutari matahari, aku juga memiliki garis edarku sendiri. Tetap saja aku tidak akan menyesalinya.”

“Aku mungkin juga akan menentukan garis edarku sendiri, mungkin aku juga akan sengaja melupakan beberapa mereka dari kehidupanku. Bukan apa-apa, hanya saja aku tidak memiliki alasan untuk selalu mengingat mereka.”

Mlg, 25.09.2014 'PMDA-Tepat setelah mereka menertawakan bagaimana aku memilih garis edarku' 

Senin, 01 September 2014

Surat Balasan

Dear,
Hatimu Yang Tersesat

Sebelumnya aku minta maaf karena baru sekarang membalas suratmu. Akhir-akhir ini aku sedikit sibuk untuk menyelesaikan beberapa permintaan. Bagaimanapun aku akan tetap membalasnya, kau tahu itu kan? Karena kau pasti lelah menunggu aku akan sedikit menghiburmu, jika bisa.

‘Seberapa jauh kau tersesat?’ Ini kalimat pertama yang kutanyakan setelah membaca suratmu. Aku berharap kau tidak memunggungi arah begitu jengah. Untukmu yang selalu memercayai sebuah cinta, kau tidak hanya membayangkan kebahagiaan, kekuatan, dan kegembiraan kan? Rasa sakit, penderitaan, keputusasaan, dan luka juga bagian dari cinta. Namun kau harus percaya bahwa cinta juga memiliki kekuatan untuk mengahadapi rasa sakit, penderitaan, luka, dan keputusasaan.

Aku tahu bahwa apapun yang tidak sesuai dengan hatimu, maka rasa sakit yang akan menjawab. Tetapi aku tidak ingin kau merasa sakit terlalu lama. Lupakanlah cinta bodohmu itu. Kau sudah melenceng jauh dari jalan yang seharusnya. Ini bukan berarti bahwa yang memberi cinta lebih banyak adalah yang lemah. Kau akan menjadi lemah jika hatimu tidak bebas.

Hatimu yang tersesat pasti tidak tahu bagaimana hati yang bebas, karena nyatanya kau tidak menemukan celah untuk berkilah. Tidak mengharapkan cinta sebesar kau memberi dan tidak membalas rasa sakit yang kau ciptakan adalah hati yang bebas. Ini bukan berarti menganggap sebuah ketulusan adalah lelucon, tapi aku memintamu menyukai dengan tulus. Biarkan hatimu bebas agar cintamu tak berakhir dengan bodoh.

Terkadang kita sering berbeda pendapat juga sering berdebat hebat. Terlepas dari itu, hal yang perlu kau ketahui adalah aku selalu disampingmu. Jika kau merasa sakit, kembalilah padaku, kapanpun, dimanapun. Aku selalu menunggumu. Aku merupakan bagian dari cinta yang akan memberi kekuatan untuk kebahagiaanmu. Aku adalah peta untukmu. Di masa depan aku akan memberikan yang terbaik bagimu, aku berjanji.

Jangan balas suratku, terlebih jangan terbebani, tunjukkan saja bahwa hatimu telah bebas.

Penentu Arah,

Pikiranmu

Jumat, 13 Juni 2014

Ketidakadilan

Hari ini purnama. Jika kita keluar rumah, akankah kita melihat langit yang sama? Meski jarak menjadi penghalang, walau hujan tak bertandang, akankah kita melihat samanya bulat bulan? Jika aku duduk di bangku panjang tersenyum manja, akankah kau melihat mungilnya bibirku? Akankan purnama memantulkan senyumku dan kau mampu menangkapnya? Atau kau memang tak mau?

Anehnya aku tidak menangkap seri wajahmu, apakah kau tidak tersenyum atau apakah kau berdiri mematung sembari menangis? Aku tidak tahu. Sebenarnya apa yang aku tahu? Sebenarnya apa yang kau tahu? Sebenarnya apa yang kita tahu? Selain memandang langit dan bulan yang sama, apalagi yang kita tahu? Yang terpenting, apakah kita saling menjamah hati sama lain? Apakah kita saling berharap satu sama lain? Adakah kata saling dalam hubungan kita? Jika tidak, maka sayang sekali. Jika tidak, bukankah kita seharusnya berhenti di sini? Ah bukan kita, aku. Aku seharusnya berhenti saat purnama. Aku berhenti melempar kata.

Mlg, 14.06.2014

Ketika aku percaya bahwa cinta sepihak hanyalah sebuah ketidakadilan

Sabtu, 31 Mei 2014

Suratku Padamu

Teruntuk engkau yang selalu kucintai

Aku suka karena kau berbeda

Aku tahu hubungan kita tidak terlalu dekat seperti orang lain. Jika mereka menggunakan udara dan bertatapan mata sebagai media untuk berbicara dari hati ke hati, maka aku selalu berharap Tuhan menyampaikan rasaku padamu.

Seperti yang pernah tante bilang, angka jawaku lebih tinggi dari angkamu, bila kita bertengkar egoku akan lebih tinggi dari punyamu. Benar saja, bukankah kau yang akhirnya menangis jika kita bertengkar? Masih ingat ketika aku marah lalu lebih memilih tidur di rumah tante yang berjarak tiga rumah dari rumahmu? Pada akhirnya kau sakit dan menjemputku dengan mengiming-imingi barang yang aku sukai. Mengingat itu, aku tidak ingin beradu mulut lagi denganmu.


Aku begitu sadar umurku sudah tidak pantas untuk bersifat kekanakan, jadi aku berpikir ulang untuk merengek ini itu. Aku tidak lagi peduli engkau yang begitu perhatian dengan keponakanmu. Kalau memang jiwa sosialmu begitu tinggi, apa yang bisa kulakukan? Itu tidak begitu buruk, asal saja sambut aku saat aku pulang ke rumah. Jangan seperti waktu itu, aku hanya pulang dua hari dan saat itu aku benar-benar sakit. Kau bahkan tidak menyempatkan waktu hanya sekadar pulang ke rumah? Sampai aku berpikir, ‘Ah aku bahkan hampir tidak bisa bergerak, dan dia tidak peduli, apalagi sekarang yang kutakutkan?’

Tapi yang masih membuatku tidak paham ialah kenapa kau begitu percaya dengan orang lain? Jangan pernah lagi berurusan dengan politik, aku benar-benar ingin menampar wanita tidak tahu malu yang datang ke rumah waktu itu. Aku sering memanggilmu dan mengajak pulang jika engkau sudah berkumpul dengan tetangga dengan alasan ayo menonton drama yang kita sukai. ‘Jangan terlalu lama bergosip dengan hal yang tidak jelas, bahkan saat aku bersekolah di sekolah dasar teman jahat akan selalu ada’. Dari berbagai sifatmu, kenapa aku hanya mewarisi sifak keras dan pemarahmu? Aku bahkan begitu sulit untuk percaya dengan orang lain. Aku penasaran, apakah semasa kecilku aku sering ditipu, dibohongi, atau sejenisnya? Kenapa kepribadianku seperti ini? Aku terkadang juga iri, kau lebih cantik dan lebih tinggi dariku, entah mengapa aku tidak begitu ikhlas. Menakjubkan.

Kau suka sekali memanggil anak-anak kecil ke rumah dengan memberikan kue-kue  atau camilan lain, bahkan mereka bukan kerabat, sedangkan aku tidak menyukainya karena mereka memberantakkan kamarku. Engkau tahu kan aku pernah ujian dengan metode estafet? Kami berpacu pada wakttu, tapi pensil seseorang disampingku jatuh di dekat kursiku. Hatiku sedikitpun tidak bergerak untuk mengambilkannya. Mataku bahkan sama sekali tidak melirik pensil itu. ‘Waktu satu detik begitu berarti, dan aku dalam posisi yang sama hampir lebih tiga jam, aku lebih mengkhawatirkan ototku, dan dia orang asing yang baru pertama kulihat’. Jika itu engkau, pasti akan kauambilkan kan?

Namun suatu hari aku ingin mencoba berbuat baik. Pria di dalam bus yang duduk disampingku kesusahan membuka botol minuman, jadi aku membantunya membukakannya. Tanganku lengkap dan berfungsi dengan baik. Namun aku merasa menyesal, dia begitu cerewet menanyakan kehidupanku. Aku tidak nyaman. Aku hanya menjawab pertanyaannya dengan singkat tanpa tersenyum. Tapi dia begitu menjengkelkan, terus saja bertanya. Sampai aku memakai maskerku sebagai isyarat, ‘Diamlah, kau begitu berisik’, namun dia tetap saja mengoceh. Haruskah aku memakai earphone? Hanya ada dua alasan, aku ingin mendengarkan musik atau aku tidak ingin mendengar suaramu. Sampai-sampai aku pura-pura tidak mendengar saat dia bertanya. Aku merasa takdir hidupku berubah saat aku berinteraksi dengan orang lain. Jika takdir itu begitu menjengkelkan, aku menghindarinya. Sebenarnya aku tidak membenci menjadi ramah, aku hanya sedikit tidak menyukai orang yang tidak tahu batasannya. Apapun yang berlebihan sangat tidak bagus. Namun aku melakukannya.

Ada anak laki-laki yang begitu kusukai namun kita tidak memiliki rasa yang sama. Kau pasti sedih kan mendengar cerita ini? Aku yang selalu mengutamakan harga diriku, sekarang mengabaikannya. Tapi tenang saja, aku mulai sadar, sepertinya aku kemarin sedikit gila. Dibanding itu semua, aku lebih menyukai saat aku masih berteman dengannya. Memalukan akan lebih baik dari pada kekanakan. Kupikir aku sedikit mewarisi sifatmu. Terimakasih karena sifat kerasmu dan membiarkanku mandiri agar hidup memesona. Aku masih ingat ketika aku nakal, kau mengunciku di luar rumah dengan ancaman tidak boleh tidur di rumah kalau masih mengulangi. Benar saja, aku tidak pernah mengulanginya lagi. Saat Adikku nakal, kau juga memerlakukan hal yang sama, aku hanya menatapnya dari jendela depan rumah. ‘Bersabarlah, kau pasti akan merasa bersyukur saat besar nanti’.

Aku masih ingat bagaimana aku bermain sembari selalu menggenggam lengan adikku dan berjalan ke sana ke mari hanya berdua saja. Saat itu aku selalu memohon, cepat sembuhlah dan pulang ke rumah. Tentu saja sekarang aku sangat bersyukur karena kau begitu sehat dan tidak perlu lagi masuk ke rumah sakit. Sekarang pasti kau merasa khawatir dengan keadaanku kan? Ah jangan khawatir, aku akan baik-baik saja disini. Jarak bukanlah masalah untuk menjadi tidak sehat. Meskipun kata aku menyayangimu jarang terucap, namun kuyakin Tuhan tahu aku selalu mencintai dan merindukanmu, aku selalu mencintai dan merindukan kalian.


“Jangan kelaparan, jangan telat makan, hanya karena jauh jangan coba-coba makan mie instan, selalu sediakan camilan, jangan minum es dulu, jangan minum kopi, teh sama cokelat boleh asal jangan terlalu sering, jangan kedinginan, jangan mandi air dingin, jangan terluka, jangan ada yang lecet, dan jangan naik speedboat lagi kalau belum bisa berenang.”


Mlg, 01.06.2014

Jumat, 30 Mei 2014

Ah, Ketika Kau Pergi

Ketika kau pergi,
masih ada sayu mata menatap lama,
dari lebar bahu hangatmu, bulat sempurna dahimu, sampai rapi hitam rambutmu.
Biarpun rumbai lentik jari enggan bersentuh sapa.

Ketika kau pergi,
ada kecewa yang perlu dihenti,
ada sesak yang harus mati,
pula luka raksasa yang tak perlu lagi digali.
Tak mengapa, nanti juga tak ingat lagi.

Ketika kau pergi,
akan ada rindu membelai basah, hati berdegup gundah,
pun berdiri bernafas terasa jengah.
Tak masalah, waktu kan mematah.

Ketika kau pergi,
tinggalkan saja satu kenangan indah,
guna membuang resah keluh kesah. 
Kita bisa berjalan sembari bergenggaman tangan tanpa gusar, 
tak harus ada seikat tulip putih ataupun lilin berjajar, hanya tatap mata tanpa gentar.

Ketika kau pergi,
kenangan indah kan membentengi rekah luka parah,
lakukan saja itu, hanya satu.
Biar kau tak diingat sebagai si berengsek saat tak lagi bertemu.

Ah, ketika kau pergi,
jangan pernah kembali mudah,
agar kau mengerti ‘Yang sudah, biarlah sudah’.

Mlg, 30.05.2014

Rabu, 07 Mei 2014

Tentu Saja

“Tentu saja kita masih berteman. Hanya saja aku tidak punya alasan untuk tidak berteman denganmu. Aku tidak membencimu dan aku menyukaimu begitu banyak. Aku tahu aku kekanakan, meskipun aku sangat memalukan, tapi kupastikan aku tidak akan sekekanakan itu. Memandangmu begitu lama aku tidak akan melakukannya. Merengek agar mengantarku ke sana kemari, aku berusaha tidak lagi melakukannya. Memintamu melakukan ini itu, aku juga berusaha tidak akan lagi melakukannya, karena hati dan harga diriku sudah terluka. Kalau aku begitu manja dan tergantung, di mana lagi pesonaku?” 
“Tentu saja aku harus baik-baik saja. Mengubah canggung menjadi guncang, maupun sebaliknya, aku harus beradaptasi dengan apik. Tersenyum tulus padamu, itu memang benar-benar tulus. Aku bukan tipe pribadi yang pura-pura tersenyum. Jika aku tidak menyukainya, aku tidak akan tersenyum. Terlepas apakah nantinya tanganku bergetar, kakiku lemas, maupun jantungku berdegup kencang, apa lagi yang perlu dipedulikan? Kita tidak dalam hubungan untuk mengenal hati satu sama lain, katanya. Tentu saja kau tidak perlu merasa bersalah dan tentu saja aku tidak akan telihat lemah. Jika aku begitu lemah, di mana lagi pesonaku?”   
“Tentu saja aku juga tidak akan merasa bersalah. Ini tidak seperti aku memintamu untuk berbagi kartu keluarga atau menyuruhmu mengambil tanggung jawab terhadap kehidupanku di masa depan kelak. Terlepas apakah kau sebenarnya terganggu dan berpikir aku ini memuakkan, dengan bermuka tembok, tentu saja aku akan bersikap seolah tidak tahu malu. Kalau kepercayaan diriku tidak ada, di mana lagi pesonaku?”
“Tentu saja aku bukan protagonis yang menjadi peran utama. Menyebutkan namamu dalam setiap rapalan doaku, aku tidak melakukannya. Karena aku tidak mengingatmu. Tentu saja karena aku memiliki prioritas yang lebih utama atau lebih tepatnya kebahagiaanku yang pertama. Karena menyebut namamu terkadang sedikit menyakitkan. Tentu saja aku akan memalingkan mata dan menganggapmu hanya pada batas pertemanan. Jika aku tidak bangkit untuk membangun harga diriku, di mana lagi pesonaku?”
“Tentu saja, jika aku peduli, jika aku tidak mandiri, jika aku tidak berdiri, jika aku tidak pergi, di mana lagi pesonaku?”

Mlg, 07 Mei 2014

Sabtu, 19 April 2014

Pendosa

“Kasihan sekali anak ini, bahkan umurnya belum mencapai 20-an.”
Dibandingkan mendengar kata itu, aku lebih suka kau mengatakan,
“Kau menyebalkan, aku membencimu.” Aku akan lebih mengerti.
“Ada cafe yang baru buka dipojok perempatan jalan itu, ayo pergi ke sana kalau sudah bisa.” Aku akan tersenyum padamu.
Sebenarnya banyak yang ingin kutulis, tapi tiba-tiba entah, hilang tak tersisa.
Ya Rabb, aku merasa ini tidak adil. Tapi aku takut jika berlari menjauhi jalanmu. Bimbing aku. Aku merasa marah.

“Karena Tuhan tahu kau satu level lebih kuat dari yang lain.” Aku merasa lemas, itu hanya penghiburan diri.