Pada Tuan kumengadu
Aku membencimu terlalu
Aku sekadar tumbuhan liar
penunggu. Tubuhku penuh duri menusuk apa saja didekatku. Aku sedikit pemalu.
Namun begitu, syarat bunga sebutku. Bunga (liar)ku merah muda penuh haru. Indah
katanya, meski lekat-lekat menatapku termangu hilang waktu. Orang-orang
menyebutku putri malu, karena aku memang pemalu.
Aku sensitif pada barang
apa seja lewat di dekatku. Rintik hujan dan semilir angin dan gugur daun dan
hentakan dan sekelebatan, aku akan menelungkupkan daun mukaku berbarengan tanpa
komando. Kerap kali anak-anak kecil akan sengaja menyentuhku dengan runcing kayu
hanya untuk melihatku menyembunyikan kepak daun lebarku atau sengaja
menjatuhiku dengan batu-batu besar tajam tanpa ampun. Tak mengapa karena aku
hanya tumbuhan diantara semak belukar dan mereka tidak berani memetikku. Sebab
duri tajamku melukai mereka, lalu menjauhiku cepat-cepat. Mereka sering
menyebutku penggangu, entah, padahal aku tidak pernah merusak tanaman hias yang
mereka rawat bak bayi lahir. Aku tidak akan muncul pada pekarangan ataupun
pot-pot cantik di depan rumah. Kata mereka aku tak sedap dipandang mata. Sebut
saja aku cukup tahu diri di mana aku harus berdiri.
Pagi itu sehabis embun
merajuk sebab mentari bersinar lebih terik dari biasanya, seperti biasa aku
melakukan rutinitasku. Menikmati semilir angin sambil sesekali meringkuk penuh
takut pada gerakan cepat tanpa intruksi. Hari ini berbeda, kudengar derap
gontai langkah kaki mendekati tubuhku. Tidak secepat itu aku menutup diri,
sebab irama langkahnya seperti kode bahwa iya akan tiba.
Tuan tampan pemegang
mawar
Aku tidak mengira, untuk
pertama kalinya daun, batang, duri, dan bungaku terjepit diantara tanah dan
kaki. Rasanya rempu redam menghujam. Duri-duriku menusuk pada kulit halus tepat
diatasku. Masih bisa kucium semerbak anyir darah yang merembes dari kaki itu.
“Astaga, bunga pertamaku mati
tanpa permisi.”
Kaki Tuan itu berlalu,
terlebih pergi. Tunggu dulu, aku baru tahu, warna darah serekah merah pekat
mawar yang dijatuhkannya pada sirip daun-daunku. Biasanya aku hanya melihat
setetes darah yang keluar dari jemari anak kecil yang merengek karena tak
sengaja tersentuh duriku. Tuan pemegang mawar kembali lagi, mengambil mawar.
Tak sengaja tangannya menyentuhku, aku menutup diri lagi. Terpaku.
Kubilang pada rerumputan
dan semak-semak dan ilalang, aku membenci Tuan pemegang mawar itu. Aku
akan-akan berantakan dengan bau yang ditinggalkan. Untung saja langit berada
dipihakku. Diturunkannya rintik-rintik hujan mengenai seluruh badanku. Menyapu segala
anyir menempel. Tak kupedulikan, aku akan mekar lebih segar dari hari ini.
Dengan daun lebih lebar dengan bunga lebih besar dan terang dari biasanya.
Esok hari wajahku sudah
merona berhias bola-bola merah muda diantara tingginya ilalang menjulang. Aku
siap menerpa hangat mentari ataupun kerikil-kerikil kecil menjahil.
Tak kusangka Tuan pemegang
mawar kembali lagi, pun dengan cara yang sama masih dengan sekuntum bunga.
Diinjaknya aku lagi, masih dengan kaki yang sama, masih dengan anyir yang sama,
masih dengan hancur daun dan bunga-bunga.
Ini sedikit keterlaluan. Aku akan menanyainya.
“Tuan, apa yang kau
lakukan dengan menginjakku yang rapuh ini?”
“Tuan, apa kau tidak
melihat aku ada disini?”
“Tuan, aku juga butuh
bernafas. Tidak bisakah kau tidak mencekik leherku?”
“Tuan, tidakkah kau
melihat pesonaku hanya bunga merah mudaku? Jika kau hancurkan, apalagi yang
kimiliki?”
“Tuan, kumohon…”
Aku berusaha sekuat tenaga
menelungkup melindungi diri. Ini lebih anyir dari sebelumnya, bagaimana bisa
Tuan itu tidak melepaskan cekikannya? Ilalang berteriak mengkhawatirkanku.
Semak belukar menarik menyelamatkanku. Sia-sia. Kubilang aku membenci Tuan tak
tahu diri ini.
Tuan pemegang mawar hanya
membisu tanpa nafsu, tak bergerak seinchi dari tempatnya untuk menepi.
“Aku membencimu Tuan.”
Diam lagi. Tik tok tik tok
tik tok..
Kurasakan air hujan
menetes di dedaunan dan bunga-bungaku. Ah langit berpihak lagi padaku, pikirku.
Bukan. Air ini, air hujan dari Tuan pemegang mawar. Dingin.
Pada Tuhan kumengadu
Aku terlalu malu untuk
mengaku aku tidak butuh waktu lama untuk menyukaimu
Kau satu-satunya yang mau
mendekatiku terlebih tak masalah dengan duri tajamku. Ini membuatku terasa
istimewa. Kujatuhkan hatiku padamu tanpa perlu satu alasan. Aku tidak berani
mengaku pada semak dan ilalang, sebab mereka akan mengejekku.
Pesona tampanmu, lebar
dahimu, dan lembut telapak kakimu, mungkin tak masalah jika kubagi indah bungaku
tanpa mahkota. Wajah risaumu tentu benar menggambarkan suasana hatimu. Aku tahu
dari awal. Kubiarkan kau menginjak sesukamu. Sakit yang kau rasa, berbagilah
denganku. Bagaimana bisa kau menginjakku tanpa alas kaki? Bagaimana bisa kau
melukai dirimu sendiri? Agar kita impas? Sudahlah.
Bahwa sesakitan yang
kurasa mungkin belum sebanding olehmu. Tetap saja aku mengharapkanmu kembali
lagi. Kupersiapkan bunga dan daun terbaik untukmu. Namun tetap saja masih belum
bisa menggantikan rasa sakitmu. Masih saja, hari ini kau lukai tubuhmu sendiri,
Tuan. Memang seberapa besar kau bersalah sampai kau membalasnya dengan
menyakiti dirimu sendiri? Ambillah duriku lebih banyak dan buanglah lukamu
lebih cepat mengalir bersama merah darah dan serekah kelopak-kelopak mawar.
Sehabis itu bersinarlah.
Air matamu yang dingin.
Bagaimana bisa sebegitu dingin bak air hujan?
Orang lain akan terasa hangat. Bahkan menangis saja sudah begitu
menyedihkan, bagaimana bisa air mata akan menghiburmu jika itu sebegitu dingin? Lalu sedingin apalagi hatimu?
Tanganmu tak sebanding
dengan telapak kakimu. Juga sama, sedingin air mata. Bagaimana bisa kau
menghangatkan air matamu dengan telapak yang dingin itu? Apa tercuri rekah
mawar?
Sebenarnya, selain duri
untuk membuang lukamu, tidak bisakah daun-daunku menghapus air matamu? Tidak
bisakah bunga-bungaku kau rangkai untuk menghiburmu? Tidak bisakah aku, si
Putri Malu ini mengganti Mawar Merah? Atau barang kali, tidak bisakah paling
tidak aku menyamai Mawar Merah?
Datanglah lagi esok hari,
lalu lusa, lalu kemudian hari selanjutnya dan selanjutnya. Biarkan terlebih
dulu kau mengenal duriku, Tuan, lalu batangku, lalu daunku, lalu bungaku, lalu
petik aku dan sempatkan aku berada disampingmu.
Selamanya, Tuan.
Mlg. 16.11.2014