Apapun jika ini tulus, kita akan bertemu lagi di masa depan

Kamis, 25 Desember 2014

Eat

“To you who eat a lot of rice because you are lonely,
To you who sleep a lot because you are bored,
To you who cry a lot because you are sad,
I write this down.
Chew on your feelings that are cornerned like you would chewe on rice.
Anyway, life is something that you need to digest.” – Let’s Eat

Dalam kegamangan yang mengusik tidurmu di pertengahan malam, mengenai loncatan pikiran tak tentu arah yang kerap kali membuang waktu berhargamu. Bagaimanapun mentari akan tenggelam dan terbit lagi. Masih lagi kau pasungkan dalam ingatan, untukmu yang pernah tinggal dan tak pernah tanggal. Yang menjadi sebab pagi buta seakan terlelap.

Tak ada lagi senyuman pagi peneduh untuk sehari, yang terbiasa ada untuk hari berikutnya. Bibirmu sesedap aroma nasi selekas masak di pagi hari, percuma, tak dinanak lagi. Sepercuma semangkuk sayur mendampingi nasi. Tidak tahu lagi apa yang ada di balik tudung saji di atas meja, apakah sup hangat atau hanya tertinggal secawan pare? Setidaknya kau harus mau membukanya untuk memastikan. Mungkin kau juga harus mencoba kerang atau udang, biar tahu apakah lembut atau justru mendapat alergi. Sebab terkadang seseorang terlalu malas untuk memastikan, apakah ia terluka karena kehilangan atau tidak terbiasa untuk sendiri dalam perjalanan. Apakah menyukainya karena paras rupawan atau sekadar penasaran? Atau apakah kau bersedih karena makan sendirian atau sendiri mulai membosankan? Seperti kau pandai menentukan apakah ini pedas cabai atau merica, apakah ini sedap rempah atau hanya penyedap rasa. Kau hanya harus terbiasa memastikan.

Mereka yang enggan menyelusur lebih dalam ialah mereka yang takut akan rasa sakit kebenaran. Bahwa kebenaran itulah yang dianggap luka paling mengecewakan. Terkadang kau bisa takut bahwa ternyata kehadirannya hanya sebagai perisai kesepianmu dalam melewati keseharian dalam beberapa bulan.  Bisa juga kau takut karena baru menyadari bahwa kau menyukainya setelah dia kembali dengan enggan. Atau barang kali suka-tidak suka yang berlebihan, serasa terlalu banyak garam dan kunyit dalam nasi kuning, pahit benar. Mengunyah penyesalan yang memerangkapmu dalam kesendirian serupa terlanjur menuang banyak air dalam menanak nasi, biarpun menjadi bubur, bukankah kau hanya perlu memastikan bahwa bubur yang kau buat ialah bubur terlezat yang mudah dicerna dan menyembuhkan rasa sakit?


Mlg, 25.12.2014

Selasa, 23 Desember 2014

Melodi Hitam

Melodi
Serupa gaduh mengusik ketentraman
Sedepa nada mengusir lamunan
Seteratur pola irama menggetarkan
Menjalar dalam ingatan

Hitam
Seelegan tuxedo membaluti
Sepekat arang rindu terbakar harmoni
Serasa ampas teh pagi hari
Meringkuk ingin lari

Kesiap not-not rindu menjelma
Alunan cekik menjelajah udara
Darimu, melodi hitam menangga rasa
Tanpa maksud memetik jua

Sssttt…
Bisik angin bergidik
Dengarlah
Rasakanlah
Lewat dinding dan deret bangku
Melodi hitam mencekat

Diam tak
Teriak tak
Terbungkam jejeritan laknat

Maju tak
Mundur tak
Terhimpit fatamorgana hikmat

Pelan
Perlahan
Pelan
Menahan
Pelan
Sialan
Aku tertelan


Ngw, Mlg
2011-23.12.2014

Jumat, 12 Desember 2014

Jangan Beri Tahu

Untukmu pengaku keberuntungan;

Jangan beri tahu waktu
Tentang irisan-irisan detik denting menggebu
Mengenai tamparan-tamparan penunggu
Lihat saja, begitu mudahnya terheran-heran berlalu

Jangan beri tahu ragu
Tentang kediaman membisu tersumbat peluh
Mengenai cakar buasnya siap menuju jitu
Lihat saja, derap mantap langkahnya melaju

Jangan beri tahu rindu
Tentang debaran-debaran pemburu nafsu
Mengenai gejolak hati para pencipta pecandu
Lihat saja, mata di depannya bermuara syahdu

Sekali lagi, jangan beri tahu waktu meragu merindu
Tentangku,
Bagaimana bisa hanya untuk menyukaimu akan sesakit itu?

Mlg. 12.12.2014

Senin, 01 Desember 2014

Hujan Desember

Angin Desember berdesau menggelitik gelegak hatinya. Ialah ia yang memiliki ruang dan waktu yang sering manusia sebut sebagai penantian. Juga mengenai kebohongan dan sanggahan yang biasa mereka sebut sebagai penyesalan, kepadanya gadis bermata sayu tak sengaja bersirobok di tikungan kala hujan deras bersahutan, rentang hawa dingin tahun lalu. Beku hatinya, sebab hujan Desember menghujam tanpa kelu.

Kala kecil ia selalu mencibir awan hitam, dan jika rinai hujan jatuh ia akan mengutuk langit lalu mengunci pintu dan menutup gorden dan menarik selimut bersembunyi diri. Berbaring meringkuk seperti bayi dalam rahim menuntut kenyamanan dari kilat menjulur siap menyambar. Menyumbat telinga harap cemas tak mendengar petir berkelakar. Katanya ia membenci hujan. Tak bisa untuk sakadar bermain petak umpet atau bola kasti bersama kawan di lapangan dekat perempatan. Ia membenci genangan air kotor yang menciprat pada alas kaki dan baju yang dipakainya. Juga percikan dari tanah di teras rumah yang hanya bisa ia pandang dari balik jendela selekas hujan reda.

Tidakkah ia tahu bahwa ucap mereka, ialah sebanyak rintik pertama hujan terjatuh serupa keajaiban yang dihadiahkan kepada ia yang memohon? Dan kilat berupa senyuman para pemberi wahyu, sedang petir sebagai lonceng waktu berharapmu mulai di dengar.
Hujan Desember kian berlalu, makin ranum makin harum ia selalu. Sebab ia mulai tahu, karena hujan pemberi kehidupan. Ia menghidupkan apa saja yang hendak mati dan menyegarkan apa saja yang sedang layu. Menyedapkan aroma tanah kering sisa-sisa kemarau bulan lalu dan memenuhi solum demi kemarau tahun depan. Lagi  ia menyisakan titik-titik embun pada pucuk dedaunan dan genangan air sisa hujan semalam untuk mereka berkaca mengenai keserakahan di masa silam.

Ketika gemuruh petir mengaduh, ia berdoa, ‘Tuhan, aku rindu dan ingin bertemu dengannya, setidaknya sekali lagi’.


Mlg. 1.12.14