Apapun jika ini tulus, kita akan bertemu lagi di masa depan

Rabu, 18 Desember 2013

Terganggu, Masih Ada?

 “Untuk beberapa alasan, aku melupakan bahwa kata terganggu itu masih ada.”
Aku pernah membaca tulisan seorang teman yang tertulis seperti ini,
“Memandangmu dari zona nyamanku, sekitar 5 meter tiap kali kita bertemu di tempat ini. 5 meter ini zona amanku, paling tidak aku masih bisa melihat paras indahmu, senyum manismu, bahkan gelak tawamu terkadang masih bisa kudengar”

Jika sebuah zona diartikan nyaman dan aman ketika tidak ketahuan dalam menyukai seseorang, bukankah itu hanya memperhatikan perasaan secara sepihak? Menggelikan memang, tapi aku melakukannya. Dalam waktu yang lama, memandang secara diam-diam memang menyenangkan. Namun aku melupakan bagaimana perasaan seseorang yang selalu diamati secara diam-diam.


Aku tahu, bahkan sepandai apapun seseorang memandang secara diam-diam, seseorang itu akan merasa bahwa dirinya sedang diintai. “Apakah dia senang? Apakah dia lebih percaya diri? Apakah dia akan berpura-pura tidak peduli? Apakah dia merasa tidak nyaman? Atau apakah dia akan merasa terganggu dan risih? Apakah dia muak dan sesak?” Aku melupakan bagaimana perasaan seseorang yang dipandang secara diam-diam. Bahkan ketika ketahuan, bukankah aku harusnya sadar diri? Jika tidak ada respon bukankah seharusnya aku berpikir, “Ah.. dia merasa terganggu dan mulai risih” lalu aku menyingkir dari hadapannya, bukankah seperti itu?

Ketika hatiku selalu mengatakan, berhentilah sekarang bahkan hati dan harga dirimu sudah terluka. Aku mampu berhenti. Tapi respon dari tubuhku selalu menolak. Aku masih bahagia ketika memandangnya. Bahkan radar untuk mencarinya masih kuat.
“Kalau aku menyukainya aku bisa apa? Bahwa rasa suka juga bukan pilihanku. Ini hanya pemberian yang aku hanya bisa mensyukurinya.” elakku dalam hati.
Kemarin saat langit mendung, saat memandang matanya yang penuh kejengkelan. Ah bukan memandang, bahkan untuk saling mempertemukan mata aku tidak berani. Sebenarnya untuk sesekali aku ingin melihat apa yang ada dalam matanya. Karena kejujuran akan terlihat. Terkadang aku benar-benar penasaran, sikap perhatiannya yang kutangkap dengan salah membuat imajinasiku meliar. Tetap saja aku ingin tahu, tidakkah ada  sepercik aku dalam matamu? Aku ingin tahu.
“Jika belum mampu membahagiakan orang lain, setidaknya jangan membuatnya sedih.”
Aku sadar bahwa kata terganggu masih ada. Mari buang radarnya. Mari jangan mamandangnya secara berlebihan. Mari jangan bahagia hanya melihatnya. Merasa bersalahlah ketika radarmu aktif, ketika memandangnya, ketika bahagia melihatnya, karena orang yang kau pandang akan terganggu lalu merasa risih dan sesak.

Berhenti dari zona nyaman dan aman. Meskipun merindukannya sampai merasa ingin pingsan, tetaplah merasa bersalah karena mengusik kehidupan orang lain, dengan begitu rasa suka sepihak akan berhenti.


Mlg, 18 Des 2013

Selasa, 17 Desember 2013

Cintaku tak Hebat

Seberapa  lama bumi berotasi
Aku lupa
Seberapa lama bunga dalam vas itu layu
Aku pilu

Bahwa cintaku padamu tak hebat
Aku paham
Pun cintaku tak juara
Aku rasa

Hatiku, hatinya, hati kalian
Lalu hatiku diantaranya
Bukankah aneh, Sayang?

Menopang dagu, datang mengganggu
Bahu hangat untukmu bersandar
Hanya jika hatinya memudar

Ingat bunga yang kau beri padaku?
Dandelion, terhembus angin padang rumput
Bertebaran, lalu kau lari kalang kabut
Bahu ini tak lagi berpenghuni
Hatimu hatinya tertali, hatiku sunyi

Bangku kosong di tepi danau, apa kau melupakannya, Sayang?
Mata kita saling bertemu
Tangannya menggenggam jemarimu

Bahwa cintaku padamu tak hebat
Aku paham
Pun cintaku tak juara
Aku rasa

Mata pingpong, aku tak punya
Senyum manis, aku tak bisa
Memikatmu, bukan keahlianku
Bunga dalam vas membusuk, itu sebabku

Rindu ini semakin meliar, meski menyendiri
Anggap saja..
Cintaku padamu tak hebat
Pun cintaku tak juara
"Not because you didn’t love me, but my love to you is not great enough"

Sabtu, 07 Desember 2013

Lara Suatu Hati, Siapa yang Bisa Menyembuhkan?

Terluka lalu merengek-rengek, balas dendam, kemudian terluka lagi, dan dia akan menangis untuk kesekian kali.
“Bagaimana lenganmu?” 
“Masih sama." 
“Belum sembuh? Apa kau masih membencinya?”
“Tentu saja. Apa kami dalam hubungan untuk saling memaafkan?” 
“Berhentilah, dan coba maafkan dia.” 
“Itu pasti, tapi tidak sekarang.” 
“Lalu kapan lagi? Bukankah akan terlihat canggung?” 
“Manusia seperti apa yang meletakkan sendok panas hingga membuat lengan seseorang terkelupas dan meninggalkan bekas?” 
“Aku minta maaf..” 
“Hanya karena kau temanku dan dia kekasihmu, aku akan tetap membencinya sampai bekas ini benar-benar hilang. Berhentilah merasa bersalah di saat kekasihmu  tidak merasa” 
Bagaimanapun sebuah lara akan berbekas. Hanya karena diam bukan berarti dia akan melupakannya. Dia selalu berharap hatinya seperti orang lain yang begitu baik, namun ketika dia terluka, dia menangis lalu membencinya.

Menjadi berbeda dan aneh, tidak berarti dia adalah monster. Jika kehidupan dikatakan seimbang, ketika orang lain menyakiti maka akan ada orang lain  balik menyakitinya. Dia berpikir, “Ah, setidaknya biar aku yang melakukannya. Karena aku tahu seberapa porsi dia melukaiku. Aku selalu siap orang lain menyakiti lalu aku akan membencinya.”

Meminta ini meminta itu, dia akan dikatai serakah. Biarkan orang lain menilainya seperti apa, karena mereka menyebutnya gadis jahat. Dia selalu mengaku, “Akulah gadis jahat dan sombong, lalu mereka meninggalkanku. Orang yang dipercaya? Tidak ada seperti itu. Tunggulah sampai kita sama-sama tenggelam, kau akan baru mengetahui siapa sebenarnya yang berada dipihakmu.”

Minggu, 24 November 2013

Sampai Akhir, Mari hanya Diam-diam

Suara klakson dari motor dan mobil berbunyi bersahut-sahutan. Berpasang-pasang kaki melangkah menyeberangi jalan tanpa zebra cross karena jalan ini baru saja diperbaiki. Hari ini matahari bersinar terik, tanpa ada pohon yang menaungi di sekitar jalan Diponegoro. Apalagi asap-asap dari kendaraan yang semakin membuat penat pernafasan. Aku termangu di pinggir jalan menunggu jalanan benar-benar sepi karena aku tidak begitu berani untuk menyeberang. Lima menit, sepuluh menit aku masih menunggu. Kulihat jam yang terlililit dipergelangan tanganku sebelah kiri.
“Ah.. aku bisa telat. Kenapa tidak ada satpam yang biasa menyebrangkan?” Gumam Rini.
Namaku Rini, anak kelas XII di SMA Tirta Jaya. Rumahku jauh dari sekolah sehingga aku harus bangun pagi-pagi untuk naik bus agar tidak telat sampai sekolah. Untuk mengekos aku masih terlalu takut untuk tinggal sendirian dan jauh dari keluarga. Meskipun badan lelah harus bolak-balik sekolah-rumah, tapi kupikir itu tidak masalah, ya aku baik-baik saja.
Masih menunggu dan waktu juga berlalu maka kulangkahkan kakiku untuk berjalan dengan ragu. Tiba-tiba sebuah tangan menarik tanganku dan mengantarku untuk menyeberang jalanan yang begitu ricuh ini. Aku termangu menatap wajahnya dari samping. Aku merasa tanganku memanas. Ah bukan memanas, tapi mulai menjadi dingin seperti eskrim. Aku hanya terus menatap wajahnya tanpa berkata apapun. Hingga aku tersadar telah sampai diseberang jalan yang akan kutuju.
“Jangan seperti ini, aku bisa salah paham.” Ucapku dengan ketus sambil membanting tangannya yang sedari tadi memegang tanganku.
"Kau bisa terluka menyeberang seperti itu.” Jawab Rizky
“Bahkan ini tidak sebanding dengan luka yang kau beri.”

Jumat, 01 November 2013

Bayang Usang

Akulah bayang usang
Terlekang oleh ruang
Tak hanya malam, bahkan siang
Apalagi hujan datang

Aku menjadi bayang usang
Selalu gemar menari
Berlenggok diantara dua hati
Mencari hati yang berpenghuni

Aku ini bayang usang
Bergerilya mengorek celah
Harap-harap kan terjamah
Hatimu yang selalu meludah

Aku betul bayang usang
Berdiri dibalik cahaya
Terhalang oleh cahaya
Berusaha menantang sinarnya

Aku masih bayang usang
Tanpa harga diri mengaku padamu
Tanpa rendah hati berhadap padamu
Tanpa manusiawi ingin bertemu

Aku senantiasa bayang usang
Berjeda cahaya molek
Terpisah rasa decak
Terhadang dunia pelik

Aku selalu bayang usang
Merindu melulu hingga terbelenggu
Aku memohon, kau buang mukamu
Aku meracau, kau tutup mulutku

Aku kan bayang usang
Mampir tanpa panggilan
Hidup tanpa hirauan
Mati tanpa kenangan

Aku demikian bayang usang
Masih dengan hati yang lama
Menatap hati yang sama
Pun penolakan tak berbeda

Aku pun bayang usang
Menengadah iba mereka
Tatkala tak kupinta

Aku tetap bayang usang
Terselimut hitam kekal
Sekali-kali kan menyesal
Menyayangkan hatimu yang loyal

Aku sekali lagi bayang usang
Takut akan senja
Tak sebanding dengan cahaya

Aku berharap bukan bayang usang
Menanti kau datang
Sembari peluk dan riang

Namun...
Aku lah bayang usang atau kau bayang semu?

Mlg, 02.11.13

Jumat, 11 Oktober 2013

Aku Benalu tanpa Harga Diri

Untuk beberapa saat kita akan saling menggedor pintu di pagi buta. Kemudian kita akan begadang sampai adzan subuh berkumandang. Karena ketika itu, kita baru merasa aman. Aku berbeda dengan kita, meskipun aku bagian dari kita. Mengenai ini atau itu aku tidak suka bergabung dengan kita.

Aku tahu, kita akan terpacah menjadi aku, kamu, atau, mereka. Saat ini musim panas sedang berlangsung. Aku memakai untaian bunga dileherku dengan selendang biru tipis melilit badanku. Kemudian aku berjalan di pinggir pantai, menyusuri deburan manja ombak-ombak, begitu pula denganmu atau dengan mereka.

Aku tertidur lalu bangun dan berada di musim dingin. Begitu dingin sampai menggigil, bahkan tak sanggup memanggil. Aku yang terbiasa di musim panas tiba-tiba berada di tempat ini. Tidak ada yang kukenal kemudian aku menangis sesenggukan. Aku tersadar, untuk beberapa alasan aku harus bertahan.

"Bukankah setidaknya kau harus meninggalkan satu saja kenangan indah supaya aku bisa memaafkanmu?" Menempellah padaku sesekali, apa bagusnya punya harga diri?"

"Seperti yang kita tahu, kalau kita beda selera, kalau kau sudah berbicara seperti itu, apa lagi yang bisa kulakukan?"
"Mari kita berkencan, makan di restoran, lalu berjalan-jalan di taman sambil berpegangan tangan. Hanya sekali, jika suatu ketika kau lari, jadi aku tidak akan menyesal."
"Lakukan saja sesukamu. Tetap saja, aku tidak akan membiarkanmu memaafkanku."

Tempat yang dingin ini, dengan selendang biru yang tipis, aku terserang hipotermia. Beberapa kali aku menjadi pengemis, meminta bantuan sambil mengais. Aku butuh penghangat agar sehat kemudian aku menjadi benalu dan menempel. Seperti biasa, saat aku harus berpura-pura baik agar tidak terlibat 'hutang', hatiku terluka. Ketika orang lain datang memanfaatkan lalu pergi sesuka hati, aku merasa dipecundangi. Lalu bagaimana aku bisa menempel padamu?

Musim panas dengan pancaran sinar matahari, ketika waktu kita sebelum menjadi aku, kamu, atau mereka, aku terluka melewatkannya. Saat aku dengan leluasa memancarkan sinar pada bola matamu, aku terluka mengabaikannya. Saat aku dengan bebas menempel seperti benalu dalam hatimu, aku terluka menjatuhkannya. Saat aku bisa menggenggam erat kedua tanganmu, aku terluka mencampakkannya.

Jadi jemputlah aku sekarang, jangan hanya menunggu. Karena aku meninggalkan kenangan buruk, aku tahu, hatimu akan terluka dan tidak memafkanku. Saat itu, bukan hanya di hatimu, tetapi di otakmu akan hanya ada aku. Bawa aku ke tempat yang hangat dan aku akan menjadi benalu tanpa harga diri.


"Meskipun kau berlari, meskipun aku tidak akan menyesal, tapi aku akan tetap menangkapmu."

Kamis, 19 September 2013

Bodoh

“Bagaimana bisa kau masih berada di sini?”
“Mereka tidak membiarkanku pergi.”
“Apa kau istimewa?”
“Mungkin, mereka selalu menahanku.”
“Benarkah? Berapa lama?”
“Sudah dua tahun ini.”
“Kau suka lingkungan ini?”
“Sama sekali.”
“Kenapa tidak kabur saja?”
“Di masa depan, aku membutuhkannya. Aku bisa apa?”
“Lalu belajar keras, selesaikanlah.”
“Pasti kau suka belajar?”
“Iya, aku menyukainya.”
“Ah... pasti kau menyukai lingkungan ini?”
“Tidak.”
“Bagaimana bisa?”
“Hanya saja tidak menyukainya.”
“Tapi kau suka belajar. Jangan bohong!”
“Apa kau tahu kenapa beberapa orang memiliki pikiran yang berbeda?”
“Karena mereka punya imajinasi masing-masing.”
“Benar, imajinasi mereka.”
“Lalu?”
“Imajinasi mereka berbeda, tapi mereka sama-sama melupakan hal yang menggelikan.”
“Bagaimana denganmu?”
“Aku?”
“Iya. Kau!”
“Bagaimana menurutmu?”
“Kau tidak menyukainya. Hanya saja tidak menyukainya.”
-------------
“Hei, bagaimana bisa kau tersenyum? Katakan saja.”
“Aku melakukannya supaya cepat keluar dari sini. Hanya karena aku suka belajar belum tentu aku menyukai lingkungan ini. Setiap orang punya jalan sendiri untuk menyelesaikannya.”
-------------
“Karena mereka menganggapmu istimewa, aku akan menganggapmu satu level lebih tinggi dari istimewa. Lakukan dengan benar, jangan sampai aku menyusulmu. Bahkan untuk sesaat aku mengabaikan harga diriku. Namun, kalau aku bisa menyusulmu dan keluar dari sini lebih dulu, aku akan tetap menunggumu, hanya jika kau sudah tidak bodoh lagi.”
**
“Kalau aku tidak punya sayap untuk terbang bagaimana?”
“Apa kau perlu sayap?”
“Iya, tapi bagaimana kalau aku tidak bisa terbang?”
“Lalu aku harus bagaimana?”
“Apa kau akan menungguku?”
“Tentu saja.”
“Benarkah?”
“Kau punya banyak uang untuk membeli pesawat, jadi untuk apa aku berlalu hanya karena kau tidak punya sayap.”
“Ambil saja uangnya.”
“Aku menyukaimu dengan uangmu, bukan uangmu tanpa dirimu. Jangan tetap bodoh. Ada saat tertentu yang harus indah.”

Kamis, 12 September 2013

Maaf


Hari ini aku begitu patuh

Lain hari aku mengaduh
Hari ini aku hormat
Lain hari aku laknat
Hari ini aku acuh
Lain hari aku tak acuh
Hari ini aku memandang
Lain hari aku membangkang
Hari ini aku sepihak
Lain hari aku berlagak
Hari ini aku mengasihi
Lain hari aku menyakiti
Hari ini aku mencintai
Lain hari aku membenci
Hari ini aku tidak menyesal
Lain hari aku tidak akan menyesal
Hari ini aku menyesal
Lain hari aku akan semakin menyesal


“Bahwasanya anak akan selalu durhaka.”

Aku tidak seperti anak-anak perempuan lain yang begitu dekat dengannya. Aku tidak begitu dekat tapi juga tidak terlalu jauh. Ketika dia sakit sehingga harus berobat ke luar kota, aku dengan patuh menggandeng anak laki-laki yang selalu menangis dan menggenggam erat kedua tanganku. Kami seperti seseorang yang melakukan perjalanan jauh.

Karena penyakitnya dia selalu membuat makanan yang terasa asing bagi orang lain. Rasanya aneh, hambar. Karena aku begitu senang dia kembali sehat aku tetap menyantap makanan yang dibuatnya. Semakin tua, aku bahkan tidak menyentuh masakannya. Terkadang aku juga mengomel tak tentu.

Dia memiliki pikiran yang berbeda dengan keluarga kami. Dia terlalu baik dengan semua orang. Membela yang lemah dan tidak suka kebohongan. Aku sangat khawatir melihat pemikirannya yang seperti itu. Pernah aku melihat di rumahnya, dia dibentak oleh wanita paruh baya yang tidak tahu malu. Saat itu aku benar-benar terluka melihatnya ketakutan karena tidak tahu apa-apa. Karena dia tidak tahu bagaimana memainkan permainan politik. Aku sudah bilang bahwa tidak perlu mengungkapkan semua yang dia ketahui.

Dia benar-benar baik kepada tetangga yang selalu tersenyum padanya. Dia bahkan tidak bisa mengerti arti kepura-puraan. Hingga suatu ketika orang-orang itu bahkan menyebutnya bukan manusia. Aku menangis mendengar itu. Aku tahu dia memiliki cara-cara yang berbeda untuk mengeluarkan amarahnya. Namun kupikir dia gampang dibodohi.

“Jangan percaya pada mereka. Bukan saudara ataupun teman dekat jadi jangan begitu baik. Bahkan tidak tahu mulut mereka berbicara apa di balik punggung kan? Hentikan saja sekarang. Di dunia siapa yang bisa dipercaya? Tidak ada orang seperti itu."

Aku ingin menyampaikannya. Persis seperti itu, tetapi jika dia tahu bagaimana orang-orang itu membencinya, dia akan hilang kendali. Jadi aku menyampaikannya dengan sedikit kasar, memancing supaya dia tahu dengan sendiri. Sebenarnya aku benar-benar di pihaknya, peduli, dan menghormatinya. Mana ada anak yang tidak seperti itu kepadanya?

Dia suka keadilan. Dia memberi perhatian, makan, dan pakaian kepada orang lain secara rata dengan kami. Waktu itu aku marah, memperlakukan mereka dengan spesial. Dia mengatakan bahwa yang diberikan sama rata. Aku membentaknya, "Iya aku marah karena sikap adil itu", karena sebenarnya aku iri.

Ada lebih dari sejuta alasan untuk membencinya, namun aku hanya perlu satu alasan untuk mencintainya; bahwa aku selalu menyesal ketika membencinya.
Benarkah Malin Kundang yang paling durhaka kepada ibu? Bukan, tapi AKU.

Maaf...Maaf....Maaf... Benar-benar maaf.

Minggu, 30 Juni 2013

Dimana Batas antara Kebaikan dan Kejahatan?

"Sepertinya pribadiku benar-benar bermasalah."

Terkadang aku begitu bodoh dalam memaknai sesuatu. Karena anak kecil di dalam diriku belum mau tumbuh dewasa. Jika ini atau itu adalah sebuah kalimat sindiran, lalu aku memaknainya dengan pikiran dingin mungkin emosiku akan sedikit stabil, iya hanya sedikit. Saat mencapai puncaknya, saat itu, mereka bilang aku jahat.

Apa definisi dari jahat? Apa definisi dari baik? Katanya 'mereka' saling berlawanan. Lalu bagaimana dengan berubah-ubah? Atau sesuatu yang konstan?

Kita bersahabat, sama dekat, kemanapun selalu melekat. Sayangnya kita menyukai orang yang sama. Ah, bukan sayagnya, bukankah ini bagus? Baiklah aku mengalah, ambil saja orang yang kamu suka itu. Namun, jika di pertengahan tali aku merasa goyah dan ingin terjatuh, bolehkah aku membawa lari kekasihmu, sahabatku? Aku tidak tahu lagi, tapi benar-benar boleh? Akan kulakukan, kalau seperti itu, apa panggilan yang bagus untukku? Baik? Jahat? Sebenarnya dimana batas antara kebaikan dan kejahatan? Tunjukkan padaku.

Kamu sangat menyayangi ibumu, suatu ketika ada tamu yang berkunjung tanpa maksud yang jelas dan membentak ibumu di hadapanmu. Ibumu ketakutan dan hampir menangis karena tidak begitu pandai dalam berpolitik. Jika seperti itu, apa yang harus kulakukan? Haruskah aku menampar pipi tamu itu lalu menjambak rambutnya kemudian mencakar wajahnya? Pada akhirnya aku akan dikenal sebagai anak yang tidak punya sopan santun; juga anak yang tak mampu melindungi. Ah, haruskah lapor polisi? Terlalu berlebihan, tapi mungkin kulakukan. Kalau seperti itu, apa predikat yang cocok untukku? Sebenarnya di mana batas antara kebaikan dan kejahatan? Tunjukkan padaku.

Hari ini musim tes untuk mencari sekolah baru. Karna kamu tinggal sendiri pada sebuah kamar yang cukup luas untuk seorang diri lalu kamu memberi tumpangan kepada teman seseorang yang tidak terlalu dekat. Padahal kamu tahu, kamu bukan tipe orang yang mudah tidur pada ranjang yang sempit. Kamu terjaga sampai pukul dua pagi, padahal besok ada ujian penting. Tidurmu tidak nyenyak dan mengantuk saat ujian. Kesehatanmu terganggu, orangtuamu tahu dan menjadi sedih. Apakah boleh jika aku mengusir orang yang bahkan tidak kamu kenal sama sekali? Itu terlalu menyakiti hatinya, atau aku meletakkan semua barang-barangnya di depan pintu rumah? Sepertinya ide yang bagus, namun bisa membuatnya malu. Seperti itu mungkin kulakukan, lalu apa sebutan yang pantas untukku? Sebenarnya di mana batas antara kebaikan dan kejahatan? Tunjukkan padaku.

Sebenarnya dimana batas antara kebaikan dan kejahatan? Ketika kamu jenuh untuk berbuat kebaikan? Atau ketika kenyamananmu terganggu dan orang lain menimbulkan kerugian untukmu? Atau apakah sebuah keikhlasan di dalam hatimu? Atau apa mungkin tidak ada batasnya? Aku benar-benar tidak tahu. Berikan jawaban untukku. Sebenarnya dimana batas antara kebaikan dan kejahatan? Tunjukkan saja padaku. Segera.

Minggu, 23 Juni 2013

Astaga, Aku Menggilaimu!

"Saat itu aku sepertinya masih mengutamakan perasaan. Tulisan ini kutulis hampir dua tahun yang lalu. Sebagai pengingat bahwa anak kecil di dalam diriku masih suka mengadu."
Ketika mereka terjepit dalam suatu pilihan, aku selalu bilang,
"Pergi saja, tak ada yang perlu dipertahankan."
Dan mereka akan selalu mengelak dengan berbagai cara karena mereka tahu mereka tak akan bisa terlepas semudah itu dari jaring-jaring yang memerangkap mereka selama bertahun-tahun ini; dan aku tak pernah ingin tahu itu.

Apa aku egois? Terlebih iya. Aku tahu aku egois tetapi di balik itu semua aku tak menghendaki jika kalian hidup bagai pecandu yang depresi karena tak bisa menghisap heroin. Hai, jauh di lubuk hatiku aku menyayangi kalian. Sekarang, mereka menghampiriku di palung lamunanku.
" Itu pembodohan seperti yang sering kamu ucapkan dulu kepadaku teman! Ayo lah.. Sadar o temanku tercinta.", ucap mereka.
Kalian tahu bagaimana usaha kerasku untuk mengutip kalimat tersebut. Pucat pasi, ya. Otakku dangkal, aku memang bodoh. Berucap memang mudah, seperti yang kulakukan dulu pada kalian, semudah aku melepaskan diri dari jaring-jaring beracun yang membelenggu. Tapi itu dulu teman, sekarang aku tak bisa. Aku tergerogoti oleh prinsip kehidupan yang kubuat sendiri. Aku tak bisa bangkit melawan pembodohan dan penindasan hati. Merapuh di antara gelak tawa kalian. Termenung di sela-sela canda ceria kalian. Sembari menatap kuku-kukuku yang kian memendek. Kalian pasti tahu sebabnya, tidak perlu kuceritakan di sini

Kita adalah bos dari apa yang ingin kita lakukan. Aku memegang kemudi atas kehendak langkahku. Dan aku lah yang telah memilih dan mempertahankannya. Aku selalu meyakinkan pada kalian,
"Dia baik untukku".
Namun terkadang aku berpikir, 'Iya kah dia memang benar-benar baik untukku?'. Dengan mantap hatiku menjawab,
"Tentu saja". Pembodohan!
Apa ini pantas disebut pembodohan? Kalau pun iya, ini lebih patut disebut kebodohan-ku. Hai, kenapa aku mengulang kesalahan yang sama?
"Karena ada sesuatu yang salah di dalam dirimu." ucapnya; aku mengingat setiap kata yang dia ucapkan.
Kosong, semua telah terhempas tapi tidak dengan jeratannya. Caranya yang unik masih menghipnotis otakku. Kini, aku benar-benar menjadi pecandu kasihnya, aku menggilainya.

Ngw,11.09.11

Kamis, 20 Juni 2013

Jangan Memulai Sesuatu yang Tidak Bisa Diakhiri

"Karena sebenarnya aku takut jika tidak bisa melepasmu."
Jika berada disampingku terasa sangat susah, lebih baik pergilah. Aku tahu kita memiliki rasa yang sama. Ah bukan, sepertinya aku hanya bermain-main dengan perasaan ini. Bukankah kamu tahu itu dari dulu?

Senyummu sangat manis, jadi gunakanlah untuk menebar kasih hangatmu. Jangan berdiam diri di sudut ruangan itu hanya untuk menungguku. Disitu benar-benar dingin. Kau paham betul aku tidak akan datang. Lihat, segelas susu diatas meja itu sudah basi. Bergegaslah, jangan sampai hatimu juga ikut mati. Hanya karena aku memintamu untuk menungguku, kau jangan terlalu patuh. Karena belum tentu aku akan menghampirimu.

Jika boleh merumpamakan, kamu itu seperti anak kucing di tengah hujan yang tidak tahu kemana jalan pulang. Ikutilah wanita ditengah hujan yang membawa payung itu. Dia akan meneduhkanmu, mungkin nantinya kau akan diberi segelas susu yang masih segar, bukan yang sudah basi. Tinggallah di situ, di rumah yang hangat. Sesekali wanita itu pasti akan mengajakmu berjalan-jalan di taman. Hiduplah dengan tenang dan jangan kembali untuk tersesat.

Mereka bilang mungkin kita pasangan serasi. Benarkah seperti itu? Mungkin iya, mungkin juga bohong. Kita bisa tertawa bersama untuk saat ini, namun untuk beberapa detik aku tersadar.
"Benarkah kita bisa melakukannya? Bisakah kisah ini ada akhirnya? Atau apakah kasih ini hanya akan menjadi kisah?"
Aku menerima kekurangan sikapmu, sifatmu, semuanya, begitupun yang kamu lakukan. Sepertinya benar kata mereka, bahwa kita akan menjadi pasangan yang serasi. Namun, bagaimana jika kita hidup di rumah yang sama dengan cara berdoa yang berbeda? Lalu bagaimana anak kita kelak? Bukankah dia akan kebingungan? Aku tahu kita tidak akan keluar dari zona masing-masing.

Aku ketakutan, ketika aku memulainya, aku takut tidak mampu mengakhirinya. Jadi mari kita saling berbatas.

Minggu, 09 Juni 2013

Jangan Lakukan Itu, Pada Akhirnya Hatimulah yang Akan Terluka

"Seperti yang aku katakan, murah senyum tapi hati menghujat, iya seperti itu juga ada."
Sebuah jalan lurus dengan bernaung pohon rindang, bukankah ini menyegarkan? Kenapa wajahmu begitu pucat Nona? Tidak biasanya Nona seperti itu. Tawa ceriamu seperti permainan yang terpause oleh anak sekolah karena seorang guru datang.
Hahaha matamu itu, jangan takut melihatku, jangan menghindar. Jangan mengabaikan bola mataku Nona. Apa karena aku berusaha mencuri kekasihmu kau begitu menghindar?
Bukankah harusnya wanita jalang ini yang takut karena berusaha mengambil milik orang lain. Kekasihmu meilihmu Nona, jadi jangan seolah-olah beku jika bertemu denganku. Ini terlalu tampak, jadi aku bertanya karena tidak yakin.
"Apa kau tidak percaya diri? Apa kau takut aku tetap berusaha dengan keras untuk mencuri kekasihmu? Dia memilihmu, jadi tataplah aku dengan pandangan sombong. 'Dia milikku.' Katakan seperti itu, jadi aku akan malu."
Baiklah, anggap saja wanita jalang ini tidak punya malu.

Membenci diam-diam terkadang seperti lelucon, berusaha tersenyum, tapi hati tertekan, seperti itu benci diam-diam. Bagi wanita jalang ini, ia memilih menyukai sepihak, karena hatinya tidak akan pernah tertekan. Benci, wanita jalang ini begitu peka, meskipun diam-diam, aku akan tetap tahu.

Membenci sepihak, hal yang perlu dikasihani, karena hatinya seperti di neraka. Jangan hanya diam-diam, jangan lakukan itu, pada akhirnya hatimulah yang akan terluka.

Jika benar-benar membenciku, katakanlah. Jadi Nona tidak perlu berjuang sendirian dalam membenci. Mungkin, setidaknya kita akan seimbang; sama-sama membenci. Jangan hanya diam-diam, jangan lakukan itu, pada akhirnya hatimulah yang akan terluka.
"Ya, wanita jalang, aku membencimu."
Benar, katakan seperti itu, setidaknya aku tahu dengan pasti bahwa kau membenciku. Aku tidak perlu menebak-nebak sesuatu yang belum pasti. Jangan hanya diam-diam, jangan lakukan itu, pada akhirnya hatimulah yang akan terluka.

Meskipun kau mengatakannya, hatiku akan tetap sama. Aku tidak akan membencimu. Kau tahu kenapa, Nona? Iya, supaya hatimu tetap terluka, supaya hatimu seperti di neraka. Jadi jangan lakukan itu, jangan membenciku, karena pada akhirnya hatimulah yang akan terluka, bukan hatiku.
"Tiba-tiba bersikap aneh. Kita bukan keluarga ataupun teman dekat, jadi aku tidak punya alasan untuk sedih hanya karena hatimu yang berbeda."
Hentikan sekarang, jangan lakukan lagi, pada akhirnya hatimulah yang akan terluka, Nona.

Sabtu, 08 Juni 2013

Ketakutan Tersirat

Aku hanya menulisnya, jadi jangan asal membacanya.
"Berusahalah sebaik mungkin, biarkan Tuhan yang menyelesaikan akhirnya."
Tidur 5 jam sehari atau 8 jam per hari bukan menjadi masalah. Menjadi masalah jika aku mengecewakan mereka yang menyayangiku, yang sangat berharap padaku. Hal yang paling membuat sedih ialah ketika kamu membuat kecewa orangtua, memutuskan harapan mereka bukan menggalau di jejaring sosisal karena tak punya pacar. Itu bukan sedih, hanya pencitraan atau mungkin mencari perhatian dari khalayak umum.
"Pulanglah nak meski sehari dua hari!"
"Nanti, biarkan aku membawa kabar baik dulu."
Jika aku berjalan, aku berharap ini bukanlah persimpangan yang aku belum tentu tahu mana arah yang benar atau jalan ini janganlah pemberhentian lampu merah atau terkena macet yang tiada berujung. Aku ingin berjalan pada sebuah jalan tol yang tidak ada persimpangan, lampu merah atau terjebak macet. Meskipun terdapat sedikit lubang itu tidak menjadi masalah aslakan jangan berhenti terlalu lama.
Seperti berusaha sebaik mungkin, terkadang keyakinan juga sedikit kendur. Jika diberi sebuah permintaan, jadikanlah aku orang yang selalu beruntung.
"Aku benar-benar takut."
Aku menulis ini ketika tidak ada lagi muka yang memandang, tak ada lagi telinga yang mendengar dan tidak ada lagi mulut yang merespon.

Kamis, 23 Mei 2013

Aku Kira Kita Bersatu, teryata Hati Kita Terpecah-Belah

Hal yang paling membuat tersiksa ialah ketika hatimu tidak mau menuruti apa kata otakmu. Bagaimana bisa aku mengais-ais sosok yang bahkan tak ingin kulihat? Bagaimana bisa hatiku begitu kecewa ketika tidak bertemu? Bagaimana bisa hatiku tetap berdebar padahal ia begitu menjijikkan?
Hai, Tuan macam apa yang tidak menepati janjinya? Aku masih disini, menunggu. Memaafkanmu? Bukan, aku tidak menunggu untuk memaafkanmu. Bukan menunggu untuk kembali padamu. Juga bukan menunggu untuk mengubah pikiranmu. Aku menagih janji yang seolah-olah kau sanggup menepatinya. Nyatanya, janji itu hanya sekadar janji tanpa entah tau dimana letak tepatnya.
Kita dipisahkan oleh rasa. Bagaimana mengubah asin dari garam atau mengubah manis dari gula? Seperti itu lah rasa kita, rasa dengan pendirian yang begitu kuat. Barang kali rasa kita seperti minyak dan air yang tidak bersatu dalam suatu wadah. Aku kira kita bersatu, ternyata hati kita terpecah belah.
Diam tak berucap, kelam tak menguap. Tuan, tidak bisakah kediamanmu pergi dari hatiku? Bukankah otakku selalu mengusirmu? Bahkan otakku bilang kau itu parasit Tuan. Enyahlah seperti buih, terbang lalu menghilang dan jangan kembali.

Sabtu, 18 Mei 2013

Jangan Sekali-kali Merindukan Orang yang Tidak Mengharapkan Kehadiranmu.

"Aku rindu kelas kita dulu."
"Aku sama sekali."
"Ih jahatnya,.... hahaha"
Hahaha, jika memungkinkan aku ingin mengatakan:
"Jangan sekali-kali merindukan mereka, bahkan mereka tidak ada yang mengharap kehadiranmu."
Aku tidak tahu kau menganggap dunia ini seperti dongeng atau drama, tapi yang kutahu, terkadang ada senyum di balik tangis, ada pula hujatan di balik senyum. Hanya beberapa, aku tidak menyebut semuanya. Iya, banyak sandiwara di sekeliling kita. Tipe melankolis biasanya peka terhadap sesuatu, terkadang aku juga ingin bertanya apa tipe dirimu? Bagaimana bisa tidak tahu sebenarnya mereka dibelakangmu?
Bila memungkinkan lagi aku juga ingin mengatakan:
"Tampar saja mulut mereka satu-satu, mereka bahkan pantas mendapatkan yang lebih dari itu."
Tidak apa-apa, mungkin aku hanya perhatian terhadapmu. Tapi yang pasti lebih perhatian mereka karena mencacimu setiap saat. Berbahagialah karena kau begitu populer di otak mereka. Jika kau ingin bertanyan apa kekuranganmu? Tanyakan saja pada mereka, karena mereka mengoreksi detail gerak-gerikmu.

Melangkah sendiri, sepertinya juga menyenangkan. Aku tidak perlu berjalan beriringan dengan seseorang yang membuat hatiku tertekan. Berjalan sendiri, makan sendiri, nonton sendiri, shopping sendiri, aku terbiasa melakukannya sejak kejadian itu. Bagaimanapun aku tetap merasa nyaman. Baiklah, temanku tidak banyak, pergaulanku tidak begitu baik, dan sepertinya  kepribadianku juga sedikit aneh.
"Natasha, beli buku sama siapa kemarin?"
"Sendiri.", jawabku sambil tersenyum lalu melangkah pergi.
Natasha, Namaku. 

Sabtu, 27 April 2013

Sepertinya Kamu Tumbuh Dewasa.


Saat ini aku benar-benar ingin kabur dari tempat ini dan tidak kembali.

Hampir sebulan aku ingin menulis, tapi hatiku selalu bertanya, Jika kamu punya waktu untuk menulis, kenapa tidak kamu gunakan untuk merehatkan mata? Atau jika kamu punya waktu untuk menulis, kenapa tidak kamu gunakan untuk fokus pada ujianmu?
Tapi saat ini, detik ini, hatiku tidak melarang, karena mataku sembab. Terkadang juga ingin menyerah di tengah jalan. Mengingat keadaan rumah, di ruang tengah, di meja kerja mereka, saat itu tengah malam, mereka masih mati2an berkutat dengan dokumen itu. Jadi aku selalu mengingatkan pada diri sendiri.
"YA Nisa! Hal seberat apa yang sudah kamu jalani sampai ingin menyerah di tengah jalan? Ha? Kamu tahu betul bahwa yang kamu jalani sekarang belum seberapa, kamu belum punya tanggungan untuk menghidupi siapapun, jadi tidak ada alasan untuk menyerah, sedih ataupun bermalas-malasan. Apapun, sekarang ini jalani saja. Tidak ada masalah yang besar, bukankah kamu punya Tuhan yang Maha Besar? Jangan mengeluh, tidak ada alasan untuk mengeluh. Ketika hampir jatuh, tanyakanlah adakah alasan yang kuat untuk jatuh dan tanyakan kenapa kamu bertahan sampai sekarang ini?"
Terimakasih atas percakapan ringan dari kalian yang benar-benar membuka pikiranku. Wahyu Indriana, Alvionita Arum, Adam Firmansyah, aku tidak tahu tapi aku benar-benar senang punya teman seperti kalian.
Keluargaku yang selalu hangat, aku merindukan kalian sampai dadaku terasa sesak.
"Jalani saja yang ada, kerjakan yang bisa, percayalah keberuntunganmu akan tiba. Jangan lupa istirahat."

Rabu, 27 Maret 2013

Hati Seseorang Berubah Setiap Saat


“Mereka membuat seolah-olah akulah orang yang paling jahat. Sampai akhir, kenanglah aku sebagai orang yang pernah jahat padamu.”
Dalam diri sesorang selalu ada sikap baik dan jahat. Selalu berbuat jahat membuat jiwa tak sehat, tetapi selalu berbuat baik tidak memungkinkan terkadang juga membosankan. Aku yakin, hati seseorang akan selalu berubah setiap saat.
Awal tahun lalu, saat aku masih memakai putih abu-abu, dan kamu yang sampai sekarang masih memakainya, bersama denganmu sebenarnya sangat menyenangkan. Aku menyukai nama depanmu, tapi aku tidak suka nama panggilan dari teman-temanmu. Kamu anak kecil yang terlalu baik, punya banyak teman, dari anak di bawah tingkat sampai di atas tingkatmu. Karena sikap baikmu itu , sampai-sampai kamu tidak bisa membedakan mana yang tulus dan mana yang berpura-pura.
Berawal dari celoteh seorang teman, sebenarnya kisah kita sudah ada yang mengatur, kamu aktornya dan aku aktris serta sutradaranya. Lambat laun drama itu tidak ber-ending, karena hati selalu berubah setiap saat.
Berakhir, tanpa alasan yang pasti. Aku memutuskan berlari. Saat itu aku tahu aku sudah benar-benar menyakitimu, tapi kamu masih memberi semangat untuk ujian terakhirku. Aku masih ingat ketika kelas kami berolahraga di lapangan tengah, aku tahu kamu memperhatikanku dari depan kelasmu, gedung atas. minuman yang kamu beri saat itu, sebenarnya aku sedikit sedih karena mereka menghabiskannya.
Teman-teman satu club bolamu, mereka benar-benar menjengkelkan. Cacian karena aku melakukan hal seperti ini kepada anak kecil sepertimu, aku tertekan. Yang mereka tahu, aku hanya bermain-main , mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, begitu juga kamu.
Saat itu aku memang tidak stabil, selalu lebih mendengar pendapat orang, memang seperti itulah. Aku orang yang jahat? Mungkin. Bahkan saat aku pergi, pintumu tetap terbuka lebar. Bulan lalu saat kita bertemu, disini masih berdebar. Berdebar karena bersalah. Kupikir, dengan kamu tidak mengetahui yang sebenarnya, kamu sakit, dan kamu akan lupa.
Tetaplah seperti ini. Sampai akhir, kenanglah aku sebagai orang jahat, agar tidak ada alasan lagi untuk mengingatku.

Sabtu, 23 Maret 2013

Aku Minta Maaf

"Kalau ingin berbohong lakukan dengan apik, kalau ini rahasia pastikan aku tidak akan mengetahuinya sampai aku mati."


Aku tidak tahu bagaimana bisa memulainya, tapi yang pasti ini adalah kesalahanku yang paling buruk. Melupakannya, atau menyembunyikannya membuat hati sesak. Namun kalau ini terbongkar, aku tidak akan baik-baik saja.

Teman macam apa aku ini? Meskipun tanganku tidak turut campur dalam pembentukan takdirmu, meskipun aku hanya penonton panggung sandiwara mereka, tapi aku tetaplah penonton yang menertawakan Hye Mi ketika temannya mulai menjauhinya.
Ini hampir dua tahun dan aku masih rapat-rapat meyembunyikannya, hanya saja aku tidak ingin kehilangan teman sepertimu. Rasa bersalah selalu mengejar ketika senyummu selalu tersungging saat bertemu. Karena anak kecil dalam diriku yang tidak tumbuh, aku melakukan hal kekanak-kanakan.
Aku hanya ingin minta maaf, tetapi tidak tahu dengan cara seperti apa dan apa yang perlu kukatakan saat meminta maaf. Karena selama ini aku berbohong dengan sangat rapi. Terkadang bebannya lebih berat dari sebongkah batu yang sering kita lihat di aliran sungai itu, jadi kurasa hanya ini tempat yang bisa untuk meminta maaf. Aku selalu berdoa untuk kebahagiaan dan kesehatanmu. Melihatmu yang sekarang bahagia, aku begitu tenang.
Aku pengecut, hanya saja aku tidak ingin dikenang sebagai teman jahatmu.

Senin, 18 Maret 2013

Aku Mengakhirinya Sebelum Duapertiga Maret

Katanya, "Mengagumi seseorang tidak akan lebih dari 4 bulan"
Baiklah, aku mengaku, aku hanya mengagumimu. Menjadikan harga diri terluka, itu sebenarnya bukan tipeku, karena harga diriku terlalu tinggi, untuk sesaat aku mengabaikannya. Menyesal? Pasti. Tapi hanya ini satu-satunya cara agar aku tidak mengagumimu lagi. Akhir November sampai sekarang, ini belum sampai 4 bulan, tapi aku benar-benar sudah berhenti. Aku tidak benar-benar berhenti, aku sengaja menghentikannya. Menekan perasaan, memulai dan mengakhirinya sendiri, ini hanya membutuhkan waktu untuk sembuh.
Ada beberapa alasan kenapa aku menyukaimu. Tempat ini terasa asing dan menyedihkan, bahkan aku sampai bingung, kau terlalu pendiam jadi aku memperhatikanmu. Kau bukan tipe idealku, tapi tidak ada alasan lain untuk merasa betah di kelas, selain memandangmu. Sejak itu aku mulai tergantung, jadi terimakasih karena kamu sudah menjadi lukisan bisu yang membantuku menyelesaikan setengah dari tingkat pertamaku.
Libur panjang, mungkin aku akan lupa, tapi sebaliknya. Perasaanku sudah tidak terkontrol lagi. Jadi aku membuka pintuku sendiri supaya aku bisa lari. Aku melukai pintu itu, sengaja. Sejak awal aku sudah tahu bahwa kau juga tidak sespesial seperti yang aku agung-agungkan selama ini. Sepertinya ada kesalahpahaman di sini. Aku tidak ada niat untuk membuka pintumu, bermain kata denganmu lebih mengasyikkan ketimbang berbicara hal romantis. Aku memiliki batas, bahwa peranku hanya membuka pintuku sendiri. Karena aku terluka, aku punya banyak alasan untuk melupakanmu.

"Aku memosting ini, ketika orang tahu, mereka akan menghentikanku saat sebelum aku akan berlari ke tempatmu. Jika aku berlari, hentikan aku, segera."