Apapun jika ini tulus, kita akan bertemu lagi di masa depan

Jumat, 28 November 2014

Biru

Terpaku diantara bola-bola mata saling menghanyut
Menyayat hati menembus deburan ombak di hadap raga
menghantam palung rasa tanpa jeda tanpa dekap
Bahkan jika angin kencang menjerap, kaki-kaki kecilmu memilih melekat menghujam tajamnya karang peraduan
Sebab katamu kau masih menyukai biru. Dari biru langit dan biru laut dan biru balon dan biru kebiruan

Katamu laut itu indah. Biru berkelip menyihir tanpa berkedip. Memandang burung-burung bebas melayang tepat pada rupa air, dan perahu-perahu nelayan terombang-ambing ombak lepas juga tak lupa mengikis cemas. Tatkala barang sejenak memandang lurus, ia terlihat jauh tanpa batas. Di sanakah ujung dunia? Atau pintu surga barang kali?

Lalu seketika laut yang kau pandang serupa semerah darah dan tak ada lagi burung, hanya kalong berkeliaran hilang arah. Lalu masihkah kau menyukai laut? Atau apakah kau akan lebih bersedih dari drama bodoh yang kutonton?

Katamu juga kau menyukai biru langit. Bersih tanpa dalih. Seluas kerendahan hati hingga mata mengentas. Namun jika sore menjemput, langit kan semerah senja. Senja tanpa reda. Semerah anggur gundhi penuh ambisi kian mengusik malam tanpa berbisik pada sinar hangat mentari. Jika seperti itu masihkah kau menyukai langit? Bahkan tak jarang awan-awan kian bersekongkol melepas rindu. Saling merangkul dan menangis. Diciptakannya bulir-bulir air dan dijadikannya langit sebuah sebab. Lalu menurutmu apakah awan pantas sebagai pajangan? Masihkah kau menyukai langit? Atau apakah kau akan marah dan mengutuk hujan?

Bahkan jika tidak biru lagi, masihkah kau menyukai mereka? Lalu masihkah aku mengaku menyukaimu?


Mlg. 28.11.14

Jumat, 21 November 2014

Mau Bagaimana Lagi?

Sebab terkadang, seseorang menjalani garis edar karena terpaksa, sebab itu hanya satu-satunya jalan untuk bertahan.


Kuberitahu dulu, jika kamu tidak pernah seperti itu, berhentilah mengeja sampai di sini.

Ini mengenai tentangku. Bukan tentangmu, bukan tentangnya, bukan tentang mereka, apalagi tentang kita. Sebab kata-kata semangat atau tepukan pada bahu tidak berarti lagi, atau anggukan pasti dan senyuman tidak mampu terperikan, karena mereka semua tak ada apa-apanya dibandingkan ‘mau bagaimana lagi?’.

Pernah kukerjakan tugas dari pukul 08.00 pm sampai 01.30 am. Ini bukan mengenai kelalaian, akan tetapi mengenai kesombongan. Karena kukira laporan itu akan telah selesai hanya dengan waktu tiga jam. Nyatanya mereka memakan waktu  lebih banyak, jauh dari yang kuperkirakan. Ini mengenai kesombongan bukan? Aku kesulitan tidur dan merusak kesehatanku. Aku bangun dan tidur lagi. Lama, lalu terbangun pukul 07.40 am. Oh aku ada kelas 07.30 am. Mandi cepat dan melewatkan sarapan. Padahal biasanya aku tidak mau berangkat kalau belum sarapan, tapi mau bagaimana lagi? Kelas itu sudah kubayar dan hakku untuk datang.

Hidungku agak sensitif, penciumanku lebih tajam dari yang lain kurasa. Aku tidak tahan mencium sarung tangan atau benda asing yang masuk ke dalam mulutku dalam ruangan itu. Jadi mereka kesulitan memasukkan data dalam rekam medisku. Cara terakhir dilepaskannya sarung tangan itu. Tetap saja aku mual sampai mata berlinang. Terlebih Co-Ass itu kena marah atasannya, menyalahi prosedur. Katanya, lewati saja rekam medisnya, langsung saja ronsen. Kupikir aku sudah datang kemari dan terlewati begitu saja? Bahkan ini baru rekam medis, mau bagaimana lagi? Ditutupnya hidungku oleh temanku, kemudian diambil semua dataku. Tidak mudah, aku masih mual beberapa kali. Istirahat sebentar dan mulai lagi. Kutahan. Jika orang–orang disampingku berbaring dengan tenang, aku tidak. Aku kesulitan bernafas, karena aku tidak pandai bernafas dengan mulut dan air mataku tahu-tahu mengalir mencapai pipi.

Dalam ‘Playfull Kiss’ aku memaki Hani yang menangis karena tenggelam berusaha menolong adik temannya. Padahal hanya seperti itu, bagaimana bisa dia menangis di pelukan Sengjo? Jangan membuatku berpikir yang bukan-bukan tentangmu, Hani. Namun sekarang aku tahu, apa yang dirasakan Hani, apa yang dipikirkan Hani, apa yang ditakutkan Hani. Itu kali kedua aku merasa benar-benar ketakutan. Tidak bisa berenang dan bernafas. Mungkin hanya satu menit, tapi tidak ada lagi kata yang bisa menggambarkan bagaimana aku waktu itu. Untung saja aku masih hidup, menepi dan air mataku menetes. Tidak ada yang tahu, semua basah. Untunglah. Waktu itu aku ingin menangis, tidak tahu dimana dan seperti apa. Hanya marah. Jadi sewaktu sudah sampai depan pintu rumah aku menangis sejadi-jadinya. Berlebihan? Kau, tenggelamlah dulu dan sesak nafas, biar tahu rasanya jadi aku. Hingga ketika aku pertama melihat kolam setelah kejadian itu, perutku mual, kepalaku pusing dan lemas tidak mampu berdiri. Hanya terbayang bagaimana kakiku menjejak-jejak air dan mengacungkan tanganku dan meminta tolong dengan kesusahan. Ternyata benar bahwa trauma itu memang ada. Namun sepupuku bilang, “Jangan manja! Sebelum mengenai orang lain, setidaknya tolonglah dirimu sendiri”. Mau bagaimana lagi? Sebab aku memang bertekad untuk bisa, sebab menyentuh air satu-satunya jalan supaya aku bisa menolong diriku sendiri. Jadi selama tiga hari setiap sore aku berlatih. Sekarang belum pandai benar, tapi bisa.

Sekarang kamu tahu bagaimana takjubnya ‘mau bagaimana lagi?’. Seperti ini, karena aku mengingat kembali beberapa kenangan buruk, mau bagaimana lagi? Aku hanya ingin menangis dan terlelap tidur, malam ini.


Mlg. 21.11.14

Minggu, 16 November 2014

Putri Malu: Aku Membencimu, Tuan.

Pada Tuan kumengadu
Aku membencimu terlalu

Aku sekadar tumbuhan liar penunggu. Tubuhku penuh duri menusuk apa saja didekatku. Aku sedikit pemalu. Namun begitu, syarat bunga sebutku. Bunga (liar)ku merah muda penuh haru. Indah katanya, meski lekat-lekat menatapku termangu hilang waktu. Orang-orang menyebutku putri malu, karena aku memang pemalu.

Aku sensitif pada barang apa seja lewat di dekatku. Rintik hujan dan semilir angin dan gugur daun dan hentakan dan sekelebatan, aku akan menelungkupkan daun mukaku berbarengan tanpa komando. Kerap kali anak-anak kecil akan sengaja menyentuhku dengan runcing kayu hanya untuk melihatku menyembunyikan kepak daun lebarku atau sengaja menjatuhiku dengan batu-batu besar tajam tanpa ampun. Tak mengapa karena aku hanya tumbuhan diantara semak belukar dan mereka tidak berani memetikku. Sebab duri tajamku melukai mereka, lalu menjauhiku cepat-cepat. Mereka sering menyebutku penggangu, entah, padahal aku tidak pernah merusak tanaman hias yang mereka rawat bak bayi lahir. Aku tidak akan muncul pada pekarangan ataupun pot-pot cantik di depan rumah. Kata mereka aku tak sedap dipandang mata. Sebut saja aku cukup tahu diri di mana aku harus berdiri.

Pagi itu sehabis embun merajuk sebab mentari bersinar lebih terik dari biasanya, seperti biasa aku melakukan rutinitasku. Menikmati semilir angin sambil sesekali meringkuk penuh takut pada gerakan cepat tanpa intruksi. Hari ini berbeda, kudengar derap gontai langkah kaki mendekati tubuhku. Tidak secepat itu aku menutup diri, sebab irama langkahnya seperti kode bahwa iya akan tiba.

Tuan tampan pemegang mawar
Aku tidak mengira, untuk pertama kalinya daun, batang, duri, dan bungaku terjepit diantara tanah dan kaki. Rasanya rempu redam menghujam. Duri-duriku menusuk pada kulit halus tepat diatasku. Masih bisa kucium semerbak anyir darah yang merembes dari kaki itu.
“Astaga, bunga pertamaku mati tanpa permisi.”

Kaki Tuan itu berlalu, terlebih pergi. Tunggu dulu, aku baru tahu, warna darah serekah merah pekat mawar yang dijatuhkannya pada sirip daun-daunku. Biasanya aku hanya melihat setetes darah yang keluar dari jemari anak kecil yang merengek karena tak sengaja tersentuh duriku. Tuan pemegang mawar kembali lagi, mengambil mawar. Tak sengaja tangannya menyentuhku, aku menutup diri lagi. Terpaku.

Kubilang pada rerumputan dan semak-semak dan ilalang, aku membenci Tuan pemegang mawar itu. Aku akan-akan berantakan dengan bau yang ditinggalkan. Untung saja langit berada dipihakku. Diturunkannya rintik-rintik hujan mengenai seluruh badanku. Menyapu segala anyir menempel. Tak kupedulikan, aku akan mekar lebih segar dari hari ini. Dengan daun lebih lebar dengan bunga lebih besar dan terang dari biasanya.

Esok hari wajahku sudah merona berhias bola-bola merah muda diantara tingginya ilalang menjulang. Aku siap menerpa hangat mentari ataupun kerikil-kerikil kecil menjahil.

Tak kusangka Tuan pemegang mawar kembali lagi, pun dengan cara yang sama masih dengan sekuntum bunga. Diinjaknya aku lagi, masih dengan kaki yang sama, masih dengan anyir yang sama, masih dengan hancur daun dan bunga-bunga.  Ini sedikit keterlaluan. Aku akan menanyainya.
“Tuan, apa yang kau lakukan dengan menginjakku yang rapuh ini?”
“Tuan, apa kau tidak melihat aku ada disini?”
“Tuan, aku juga butuh bernafas. Tidak bisakah kau tidak mencekik leherku?”
“Tuan, tidakkah kau melihat pesonaku hanya bunga merah mudaku? Jika kau hancurkan, apalagi yang kimiliki?”
“Tuan, kumohon…”

Aku berusaha sekuat tenaga menelungkup melindungi diri. Ini lebih anyir dari sebelumnya, bagaimana bisa Tuan itu tidak melepaskan cekikannya? Ilalang berteriak mengkhawatirkanku. Semak belukar menarik menyelamatkanku. Sia-sia. Kubilang aku membenci Tuan tak tahu diri ini.

Tuan pemegang mawar hanya membisu tanpa nafsu, tak bergerak seinchi dari tempatnya untuk menepi.
“Aku membencimu Tuan.”

Diam lagi. Tik tok tik tok tik tok..
Kurasakan air hujan menetes di dedaunan dan bunga-bungaku. Ah langit berpihak lagi padaku, pikirku. Bukan. Air ini, air hujan dari Tuan pemegang mawar. Dingin.

Pada Tuhan kumengadu
Aku terlalu malu untuk mengaku aku tidak butuh waktu lama untuk menyukaimu

Kau satu-satunya yang mau mendekatiku terlebih tak masalah dengan duri tajamku. Ini membuatku terasa istimewa. Kujatuhkan hatiku padamu tanpa perlu satu alasan. Aku tidak berani mengaku pada semak dan ilalang, sebab mereka akan mengejekku.

Pesona tampanmu, lebar dahimu, dan lembut telapak kakimu, mungkin tak masalah jika kubagi indah bungaku tanpa mahkota. Wajah risaumu tentu benar menggambarkan suasana hatimu. Aku tahu dari awal. Kubiarkan kau menginjak sesukamu. Sakit yang kau rasa, berbagilah denganku. Bagaimana bisa kau menginjakku tanpa alas kaki? Bagaimana bisa kau melukai dirimu sendiri? Agar kita impas? Sudahlah.

Bahwa sesakitan yang kurasa mungkin belum sebanding olehmu. Tetap saja aku mengharapkanmu kembali lagi. Kupersiapkan bunga dan daun terbaik untukmu. Namun tetap saja masih belum bisa menggantikan rasa sakitmu. Masih saja, hari ini kau lukai tubuhmu sendiri, Tuan. Memang seberapa besar kau bersalah sampai kau membalasnya dengan menyakiti dirimu sendiri? Ambillah duriku lebih banyak dan buanglah lukamu lebih cepat mengalir bersama merah darah dan serekah kelopak-kelopak mawar. Sehabis itu bersinarlah.

Air matamu yang dingin. Bagaimana bisa sebegitu dingin bak air hujan?  Orang lain akan terasa hangat. Bahkan menangis saja sudah begitu menyedihkan, bagaimana bisa air mata akan menghiburmu jika itu sebegitu dingin? Lalu sedingin apalagi hatimu?

Tanganmu tak sebanding dengan telapak kakimu. Juga sama, sedingin air mata. Bagaimana bisa kau menghangatkan air matamu dengan telapak yang dingin itu? Apa tercuri rekah mawar?

Sebenarnya, selain duri untuk membuang lukamu, tidak bisakah daun-daunku menghapus air matamu? Tidak bisakah bunga-bungaku kau rangkai untuk menghiburmu? Tidak bisakah aku, si Putri Malu ini mengganti Mawar Merah? Atau barang kali, tidak bisakah paling tidak aku menyamai Mawar Merah?

Datanglah lagi esok hari, lalu lusa, lalu kemudian hari selanjutnya dan selanjutnya. Biarkan terlebih dulu kau mengenal duriku, Tuan, lalu batangku, lalu daunku, lalu bungaku, lalu petik aku dan sempatkan aku berada disampingmu.
Selamanya, Tuan.


Mlg. 16.11.2014

Rabu, 05 November 2014

Menunggu

Riak-riak rumbai rambutmu berkelebat tertepa sepoi angin malu-malu
Menyapu kenangan yang barang tentu tak ingin kau palu
Aku masih di sini, termenung di bangku panjang
Diantara hijau pepohonan di bawah rindang
dan sejuk merah mega
dan kicauan burung gereja mencari mangsa
dan keramaian hiruk pikuk
dan gemericik air mancur merasuk
Kuberitahu..
Aku sedang menunggu

Bagaimanapun, tercekik jejeritan gelisah dan rindu
Aling-aling penghibur ragu
Menyatu merajut kalbu
Sesegera menyingkap kepahitan sesendu
Merapal doa demi berbagai temu
Kuberitahu..
Aku sedang menunggu

Tak pelak, memintal asa penuh lembut
Bayang jemu tak kuasa merenggut
Sebab malarindu menjemawa melanjut
Masih dengan hati yang sama terpaut
Kuberitahu..
Aku sedang menunggu

Menatap lurus kolong langit lalu
Masih dengan senja melulu
Kian mentari berani beradu
Sebab hangat bisa juga menyengat menderu
Sebab menunggu hanya bertandang lalu ditinggalkan; hanya sebatas tamu
Kuberitahu..
Aku sedang (melupa) menunggu



Ngw. 5.11.2014