Sepuluh tahun yang akan datang, meskipun menjadi wanita karier, pada dasarnya wanita akan menjadi ibu. Haha, tulisan ini hanya untuk mengingatkan untuk menjadi ibu yang seperti apa aku kelak.
Saat kecil, bayi akan dekat dengan ibunya, ketika itu aku
akan sabar menghadapinya. Beranjak dewasa, anak akan membangkang. Aku tahu itu, karena aku
melakukannya. Dimulai dari hal sepele, meskipun kelak aku tidak pandai memasak,
ataupun masakanku kurang enak, aku akan tetap memasak untuk mereka. Jadi mereka
tidak punya alasan untuk makan diluar. Ah, mungkin masakan yang tidak enak bisa
menjadi alasan, tapi aku yakin, ketika aku dengan tulus memasak untuk mereka,
mereka akan tetap makan dirumah.
Hal yang menyakitkan ialah, ketika mereka makan di tempat
saudara yang masakannya lebih enak, lalu mencela masakanku, aku tidak akan
marah ataupun terluka. Aku tahu itu akan terjadi, karena aku melakukannya.
Aku hanya membimbingnya belajar sampai tingkat sekolah dasar,
setelah itu aku akan menyerahkan semua tanggung jawab sekolahnya untuknya
sendiri, karena dulu aku suka yang seperti itu. Jadi dia bisa sadar diri
terhadap tanggung jawab. Untuk sesekali aku akan menanyakan, “Bagaimana
tugasmu? Teman-temanmu seperti apa? Sekolahmu menyenangkan?” sehingga aku
merasa tidak terlalu jauh darinya.
Meskipun sudah melepas mengenai urusan sekolah, aku harus
mengotrol mengenai lingkungannya, jadi aku punya banyak bahasan yang diperbincangkan
dengan mereka. Namun ketika dia membangkang dan tidak bisa menjaga sopan
santunnya, aku akan menghukumnya sesuai yang dilakukannya. Bisa jadi mereka
akan kuancam untuk dikunci diluar rumah.
Saat mereka ijin bermain sepeda dengan teman-temannya dengan
lantang aku akan mengatakan, “Iya, jangan ada bagian tubuhmu yang terluka.”
Aku akan bersikap hangat meskipun musim hujan telah tiba.
Sesekali kami akan berjalan menggunakan payung dan belanja bersama-sama. Aku
tidak ingin hanya memberinya uang jajan lalu menyuruhnya membeli sendiri. Itu
terlalu menyedihkan untuk membuatnya berjalan sendirian di pusat perbelanjaan.
Saat mereka kukirim belajar ke kota yang jauh, saat mereka
sudah tidak ada di rumah, aku tidak akan menyentuh barang-barang dikamarnya.
Aku hanya akan membersihkan kamar dan menatanya, tidak akan pernah
mengotak-atik benda-benda yang sudah dikoleksinya. Seminggu sekali mungkin
mereka akan menelponku, kita akan berbicara panjang lebar sampai tidak terasa
bahwa hari sudah sore. Aku akan bersikap
seperti teman kepda mereka, karena itu menyenangkan. Aku tidak akan membiarkan mereka menelpon
hanya untuk mengatakan,
“ -Ibu sehat? Sedang apa?..........Bu aku tutup ya-.... Aku
tidak tahu harus menanyakan apa lagi.”
Beberapa lama, mungkin saat itu aku sudah jarang memasak,
karena dirumah juga sepi. Akan tetapi, saat mereka pulang ke rumah, aku akan
memasak makanan yang mereka sukai. Saat aku terbiasa membeli makanan, dan tidak
juga memasak saat mereka pulang, lalu tiba-tiba memasak di pagi buta saat
saudara datang, mereka akan sedih, jadi aku tidak akan melakukannya.
Yang terpenting aku tidak akan membuat mereka merasa iri
kepada perlakuanku terhadap orang lain atau saudara dekat. Aku tidak akan
mengutamakan orang lain atau memberikan porsi yang lebih besar kepada keponakan
dibanding kepada mereka. Aku tahu mereka akan membenciku saat aku tidak adil
kepada mereka. Bahkan saat bersikap adil, aku tahu mereka juga akan tetap iri.
Jadi, aku tidak akan bersikap adil antara anak dengan keponakanku. Bahwa mereka
ialah yang utama, lalu mereka tidak pernah menangis dan bertanya-tanya, “Siapa
yang sebenarnya anak kandung?”
Saat mereka sakit, dari mereka akan ada yang menyembunyikan,
tujuannya hanya agar tidak membuat khawatir. Mereka tidak tahu bahwa seperti
itu akan menjadikanku lebih khawatir lagi. Aku akan merawat dengan telaten.
Sikap sabarku saat merawat mereka, tidak akan terbandingi dengan sikapku jika
merawat anak lain. Jadi tersenyumlah.
Aku tidak ingin membuat mereka berpikir bahwa hidup di
tempat lain yang jauh lebih menyenangkan. Akan kupastikan mereka tidak punya
alasan untuk tidak merindukanku, ayah, dan rumah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar