Pertama kalinya dalam perantauan aku merasa sedih saat akan meninggalkan rumah. Aku merasa tidak nyaman ketika akan pulang ke rumah esok hari usai ujian berlangsung.
Aku pulang satu semester sekali dengan jasa travel. Hari itu
sopir travel sudah menunggu lama karena travel tersebut tiba setengah jam lebih
cepat dari yang dijanjikan. Baru berjalan sebentar aku sudah mual. Aku meminum
air mineral yang kubawa. Bahkan air mataku menetes karena mual yang berlebihan.
Aku memilih kursi tepat dibelakang sopir, ini menyenangkan
dan kakiku bisa berselonjor. Aku menyamankan diri senyaman mungkin. Aku memang
tidak menyukai perjalanan dari tempat perantauan menuju rumah, oleh karena itu
aku jarang pulang.
Di travel ini sudah ada lima penumpang termasuk aku. Travel
sudah memasuki rute pegunungan dimana jalan berkelok tajam. Ini bahkan belum
keluar dari kabupaten tempatku merantau. Mualku tidak tertahan jadi aku meminta
plastik pada sopir travel. Karena plastik habis, pak sopir berhenti di warung,
dan pada saat itu aku sekalian membeli minuman rasa buah. Aku tidak menyukai
minuman bersoda, untuk minuman rasa buah aku juga selektif. Setelah muntah,
untuk membuang rasa mual aku meminum minuman tadi. Ini pertama kalinya aku
muntah saat perjalanan pulang. Baru beberapa detik aku merasa kakiku kesemutan.
Kupikir ini hal biasa karena aku terlalu lama duduk di dalam travel.
Lama-kelamaan kesemutan
tersebut menjalar di sekitar tanganku sampai tanganku menelungkup
sendiri dan kaku. Tidak mau digerakkan seperti orang lumpuh. Aku meminta tolong
orang disampingku untuk memijat tanganku. Sebenarnya dalam hati aku merasa ‘ah,
bagaimana bisa aku merepotkan orang lain, menyedihkan!’. Karena orang
disampingku juga merasa tidak sehat, aku memberitahu pak sopir kalau ada yang
salah denganku. Pak sopir langsung memberhentikan travel di pinggir jalan lalu
memijat tanganku dengan sebelumnya meminta ijin. Aku ketakutan.
Aku disuruh
menggerakkan tangan dan kakiku supaya tidak kaku. Sudah membaik dan travel
melaju melanjutkan perjalanan. Akan tetapi kesemutan tadi muncul lagi bahkan
sampai ke perut dan lidahku juga merasa kesemutan tapi tidak sehebat di bagian
kaki, tangan, ataupun perut. Sambil menangis aku meminta pak sopir untuk
memberhentikan di rumah sakit ataupun puskesmas terdekat. Lucunya aku menangis
sekeras mungkin tapi tidak ada air mataku yang keluar. Untungnya ada puskesmas
di kiri jalan, langsung saja aku dilarikan ke tempat tersebut.
“Aku tidak bisa turun, aku tidak bisa menggerakkan
badanku.”, teriakku sambil menangis. Akhirnya aku diangkat dan masuk dalam UGD
menggunakan kursi roda. Saat itu yang aku pikirkan adalah ‘Bagaimana jika aku
seperti ini sampai akhir? Bagaimana aku menajalani kuliah? Bagaimana nanti aku
kerja? Apa yang bisa kukerjakan? Lalu siapa nanti yang mau jadi suamiku?’ Bagaimana
aku?’
Pak sopir megatakan kepada dokter kalau memang tidak bisa
meneruskan perjalanan maka tinggal saja disini tapi jika bisa travel akan
menunggu.
‘Aku harus sembuh. Mana boleh aku merepotkaan orangtuaku.
Mereka bahkan tidak pernah menjuputku. Apalagi harus menyuruh mereka menjemput
di luar kota.’
Setelah diperiksa dan diberi penanganan tangan dan kakiku
tidak kesemutan lagi tapi masih bergerak sendiri seperti tidak terkontrol dan
mataku sudah bisa mengeluarkan air mata.
“Ah aku mulai hidup.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar