Apapun jika ini tulus, kita akan bertemu lagi di masa depan

Kamis, 23 Mei 2013

Aku Kira Kita Bersatu, teryata Hati Kita Terpecah-Belah

Hal yang paling membuat tersiksa ialah ketika hatimu tidak mau menuruti apa kata otakmu. Bagaimana bisa aku mengais-ais sosok yang bahkan tak ingin kulihat? Bagaimana bisa hatiku begitu kecewa ketika tidak bertemu? Bagaimana bisa hatiku tetap berdebar padahal ia begitu menjijikkan?
Hai, Tuan macam apa yang tidak menepati janjinya? Aku masih disini, menunggu. Memaafkanmu? Bukan, aku tidak menunggu untuk memaafkanmu. Bukan menunggu untuk kembali padamu. Juga bukan menunggu untuk mengubah pikiranmu. Aku menagih janji yang seolah-olah kau sanggup menepatinya. Nyatanya, janji itu hanya sekadar janji tanpa entah tau dimana letak tepatnya.
Kita dipisahkan oleh rasa. Bagaimana mengubah asin dari garam atau mengubah manis dari gula? Seperti itu lah rasa kita, rasa dengan pendirian yang begitu kuat. Barang kali rasa kita seperti minyak dan air yang tidak bersatu dalam suatu wadah. Aku kira kita bersatu, ternyata hati kita terpecah belah.
Diam tak berucap, kelam tak menguap. Tuan, tidak bisakah kediamanmu pergi dari hatiku? Bukankah otakku selalu mengusirmu? Bahkan otakku bilang kau itu parasit Tuan. Enyahlah seperti buih, terbang lalu menghilang dan jangan kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar