Apapun jika ini tulus, kita akan bertemu lagi di masa depan

Jumat, 11 Oktober 2013

Aku Benalu tanpa Harga Diri

Untuk beberapa saat kita akan saling menggedor pintu di pagi buta. Kemudian kita akan begadang sampai adzan subuh berkumandang. Karena ketika itu, kita baru merasa aman. Aku berbeda dengan kita, meskipun aku bagian dari kita. Mengenai ini atau itu aku tidak suka bergabung dengan kita.

Aku tahu, kita akan terpacah menjadi aku, kamu, atau, mereka. Saat ini musim panas sedang berlangsung. Aku memakai untaian bunga dileherku dengan selendang biru tipis melilit badanku. Kemudian aku berjalan di pinggir pantai, menyusuri deburan manja ombak-ombak, begitu pula denganmu atau dengan mereka.

Aku tertidur lalu bangun dan berada di musim dingin. Begitu dingin sampai menggigil, bahkan tak sanggup memanggil. Aku yang terbiasa di musim panas tiba-tiba berada di tempat ini. Tidak ada yang kukenal kemudian aku menangis sesenggukan. Aku tersadar, untuk beberapa alasan aku harus bertahan.

"Bukankah setidaknya kau harus meninggalkan satu saja kenangan indah supaya aku bisa memaafkanmu?" Menempellah padaku sesekali, apa bagusnya punya harga diri?"

"Seperti yang kita tahu, kalau kita beda selera, kalau kau sudah berbicara seperti itu, apa lagi yang bisa kulakukan?"
"Mari kita berkencan, makan di restoran, lalu berjalan-jalan di taman sambil berpegangan tangan. Hanya sekali, jika suatu ketika kau lari, jadi aku tidak akan menyesal."
"Lakukan saja sesukamu. Tetap saja, aku tidak akan membiarkanmu memaafkanku."

Tempat yang dingin ini, dengan selendang biru yang tipis, aku terserang hipotermia. Beberapa kali aku menjadi pengemis, meminta bantuan sambil mengais. Aku butuh penghangat agar sehat kemudian aku menjadi benalu dan menempel. Seperti biasa, saat aku harus berpura-pura baik agar tidak terlibat 'hutang', hatiku terluka. Ketika orang lain datang memanfaatkan lalu pergi sesuka hati, aku merasa dipecundangi. Lalu bagaimana aku bisa menempel padamu?

Musim panas dengan pancaran sinar matahari, ketika waktu kita sebelum menjadi aku, kamu, atau mereka, aku terluka melewatkannya. Saat aku dengan leluasa memancarkan sinar pada bola matamu, aku terluka mengabaikannya. Saat aku dengan bebas menempel seperti benalu dalam hatimu, aku terluka menjatuhkannya. Saat aku bisa menggenggam erat kedua tanganmu, aku terluka mencampakkannya.

Jadi jemputlah aku sekarang, jangan hanya menunggu. Karena aku meninggalkan kenangan buruk, aku tahu, hatimu akan terluka dan tidak memafkanku. Saat itu, bukan hanya di hatimu, tetapi di otakmu akan hanya ada aku. Bawa aku ke tempat yang hangat dan aku akan menjadi benalu tanpa harga diri.


"Meskipun kau berlari, meskipun aku tidak akan menyesal, tapi aku akan tetap menangkapmu."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar