Apapun jika ini tulus, kita akan bertemu lagi di masa depan

Sabtu, 07 Desember 2013

Lara Suatu Hati, Siapa yang Bisa Menyembuhkan?

Terluka lalu merengek-rengek, balas dendam, kemudian terluka lagi, dan dia akan menangis untuk kesekian kali.
“Bagaimana lenganmu?” 
“Masih sama." 
“Belum sembuh? Apa kau masih membencinya?”
“Tentu saja. Apa kami dalam hubungan untuk saling memaafkan?” 
“Berhentilah, dan coba maafkan dia.” 
“Itu pasti, tapi tidak sekarang.” 
“Lalu kapan lagi? Bukankah akan terlihat canggung?” 
“Manusia seperti apa yang meletakkan sendok panas hingga membuat lengan seseorang terkelupas dan meninggalkan bekas?” 
“Aku minta maaf..” 
“Hanya karena kau temanku dan dia kekasihmu, aku akan tetap membencinya sampai bekas ini benar-benar hilang. Berhentilah merasa bersalah di saat kekasihmu  tidak merasa” 
Bagaimanapun sebuah lara akan berbekas. Hanya karena diam bukan berarti dia akan melupakannya. Dia selalu berharap hatinya seperti orang lain yang begitu baik, namun ketika dia terluka, dia menangis lalu membencinya.

Menjadi berbeda dan aneh, tidak berarti dia adalah monster. Jika kehidupan dikatakan seimbang, ketika orang lain menyakiti maka akan ada orang lain  balik menyakitinya. Dia berpikir, “Ah, setidaknya biar aku yang melakukannya. Karena aku tahu seberapa porsi dia melukaiku. Aku selalu siap orang lain menyakiti lalu aku akan membencinya.”

Meminta ini meminta itu, dia akan dikatai serakah. Biarkan orang lain menilainya seperti apa, karena mereka menyebutnya gadis jahat. Dia selalu mengaku, “Akulah gadis jahat dan sombong, lalu mereka meninggalkanku. Orang yang dipercaya? Tidak ada seperti itu. Tunggulah sampai kita sama-sama tenggelam, kau akan baru mengetahui siapa sebenarnya yang berada dipihakmu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar