Apapun jika ini tulus, kita akan bertemu lagi di masa depan

Rabu, 18 Desember 2013

Terganggu, Masih Ada?

 “Untuk beberapa alasan, aku melupakan bahwa kata terganggu itu masih ada.”
Aku pernah membaca tulisan seorang teman yang tertulis seperti ini,
“Memandangmu dari zona nyamanku, sekitar 5 meter tiap kali kita bertemu di tempat ini. 5 meter ini zona amanku, paling tidak aku masih bisa melihat paras indahmu, senyum manismu, bahkan gelak tawamu terkadang masih bisa kudengar”

Jika sebuah zona diartikan nyaman dan aman ketika tidak ketahuan dalam menyukai seseorang, bukankah itu hanya memperhatikan perasaan secara sepihak? Menggelikan memang, tapi aku melakukannya. Dalam waktu yang lama, memandang secara diam-diam memang menyenangkan. Namun aku melupakan bagaimana perasaan seseorang yang selalu diamati secara diam-diam.


Aku tahu, bahkan sepandai apapun seseorang memandang secara diam-diam, seseorang itu akan merasa bahwa dirinya sedang diintai. “Apakah dia senang? Apakah dia lebih percaya diri? Apakah dia akan berpura-pura tidak peduli? Apakah dia merasa tidak nyaman? Atau apakah dia akan merasa terganggu dan risih? Apakah dia muak dan sesak?” Aku melupakan bagaimana perasaan seseorang yang dipandang secara diam-diam. Bahkan ketika ketahuan, bukankah aku harusnya sadar diri? Jika tidak ada respon bukankah seharusnya aku berpikir, “Ah.. dia merasa terganggu dan mulai risih” lalu aku menyingkir dari hadapannya, bukankah seperti itu?

Ketika hatiku selalu mengatakan, berhentilah sekarang bahkan hati dan harga dirimu sudah terluka. Aku mampu berhenti. Tapi respon dari tubuhku selalu menolak. Aku masih bahagia ketika memandangnya. Bahkan radar untuk mencarinya masih kuat.
“Kalau aku menyukainya aku bisa apa? Bahwa rasa suka juga bukan pilihanku. Ini hanya pemberian yang aku hanya bisa mensyukurinya.” elakku dalam hati.
Kemarin saat langit mendung, saat memandang matanya yang penuh kejengkelan. Ah bukan memandang, bahkan untuk saling mempertemukan mata aku tidak berani. Sebenarnya untuk sesekali aku ingin melihat apa yang ada dalam matanya. Karena kejujuran akan terlihat. Terkadang aku benar-benar penasaran, sikap perhatiannya yang kutangkap dengan salah membuat imajinasiku meliar. Tetap saja aku ingin tahu, tidakkah ada  sepercik aku dalam matamu? Aku ingin tahu.
“Jika belum mampu membahagiakan orang lain, setidaknya jangan membuatnya sedih.”
Aku sadar bahwa kata terganggu masih ada. Mari buang radarnya. Mari jangan mamandangnya secara berlebihan. Mari jangan bahagia hanya melihatnya. Merasa bersalahlah ketika radarmu aktif, ketika memandangnya, ketika bahagia melihatnya, karena orang yang kau pandang akan terganggu lalu merasa risih dan sesak.

Berhenti dari zona nyaman dan aman. Meskipun merindukannya sampai merasa ingin pingsan, tetaplah merasa bersalah karena mengusik kehidupan orang lain, dengan begitu rasa suka sepihak akan berhenti.


Mlg, 18 Des 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar