Apapun jika ini tulus, kita akan bertemu lagi di masa depan

Selasa, 13 Januari 2015

Pintu

Jika jantung adalah serupa rumah, maka ia  satu-satunya tujuan untukku pulang.


Detik ini aku mengetuk pintumu. Namun tidak ada jawaban. Barang kali engkau sibuk. Akan kucoba lagi lain waktu.

Masih dalam menit yang sama, masih dengan tangan yang sama, aku mengetuknya lagi. Keras-keras. Tetap tertutup.Apa aku terlalu berisik hingga membuatmu enggan bergerak? Tak apa, akan kucoba lagi lebih lembut.

Detik berikutnya, sesuai janjiku, kuketuk lagi lebih lembut dengan irama lebih teratur. Apa rumahmu benar-benar luas hingga ketukanku tidak bisa terdengar?

Seperti ‘Filosofi Kopi’, semenjak pertemuan kita, kalikan dengan tiga puluh lalu kalikan dengan dua puluh empat lalu kalikan dengan enam puluh lalu kalikan lagi dengan enam puluh maka akan kau peroleh 52,576,000 sekon. Selama itu lah aku mengetuk pintumu, sebanyak angka itu darah keluar dari ruas jariku dan membiru pada musim dingin.

Karena kupikir mungkin aku telah melaju pada lima per delapan anak tangga menuju rumahmu, begitu mendebarkan, jadi kurasa aku tidak bisa berhenti.

Detik ini kuketuk lagi, kupanggil-panggil namamu, terasa aneh, tanganku terlepas begitu saja. Karena berdiri lama di depan pintu tertutupmu, aku mengabaikan tamu yang mengetuk pintuku. Aku pulang.


Mlg, 13.01.2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar