Jika jantung adalah serupa rumah, maka ia satu-satunya tujuan untukku pulang.
Detik ini aku mengetuk pintumu. Namun tidak ada jawaban.
Barang kali engkau sibuk. Akan kucoba lagi lain waktu.
Masih dalam menit yang sama, masih dengan tangan yang sama,
aku mengetuknya lagi. Keras-keras. Tetap tertutup.Apa aku terlalu berisik
hingga membuatmu enggan bergerak? Tak apa, akan kucoba lagi lebih lembut.
Detik berikutnya, sesuai janjiku, kuketuk lagi lebih lembut
dengan irama lebih teratur. Apa rumahmu benar-benar luas hingga ketukanku tidak
bisa terdengar?
Seperti ‘Filosofi Kopi’, semenjak pertemuan kita, kalikan
dengan tiga puluh lalu kalikan dengan dua puluh empat lalu kalikan dengan enam
puluh lalu kalikan lagi dengan enam puluh maka akan kau peroleh 52,576,000
sekon. Selama itu lah aku mengetuk pintumu, sebanyak angka itu darah keluar
dari ruas jariku dan membiru pada musim dingin.
Karena kupikir mungkin aku telah melaju pada lima per
delapan anak tangga menuju rumahmu, begitu mendebarkan, jadi kurasa aku tidak
bisa berhenti.
Detik ini kuketuk lagi, kupanggil-panggil namamu, terasa
aneh, tanganku terlepas begitu saja. Karena berdiri lama di depan pintu
tertutupmu, aku mengabaikan tamu yang mengetuk pintuku. Aku pulang.
Mlg, 13.01.2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar