Teruntuk engkau,
Pemilik tahi
lalat di bawah mata kanan
Mengenai topeng wajah terpasang di antara kedua paha
Melayu sebagaimana bunga matahari pulang ke
peraduannya
Hanya jika kedua mata ini terletak di belakang kepala
Mengenai ia, pengukir sejarah, telah lelah muka
Pada kuas, ia rekatkan kanvas dengan berbagai gradasi
warna
Belum berarti, kuas tak berlapang menempa lebar
kanvas
Masih serupa kapur pada selembar kertas putih di
ruang kerja
Sebab ia, pengukir sejarah, masih mencari makna
Bahwa pagi menjelang hingga malam menghadang raya
Bersama batu ia berkarya, bersama kekayuan ia percaya
Pada batu ia memahat, dengan kayu dorongan terbuat
tercipta
Hanya peroleh asa pada ia, pengukir sejarah, penanti batu
berupa
Ia..
Menginjak langit menatap bumi
Ia..
Pengukir sejarah pada hati tak berhati
Mlg, 8.01.2015
I write this
down. Sadness will yawn as fast as you will finish this word.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar