"Seperti yang aku katakan, murah senyum tapi hati menghujat, iya seperti itu juga ada."
Sebuah jalan lurus dengan bernaung pohon rindang, bukankah ini menyegarkan? Kenapa wajahmu begitu pucat Nona? Tidak biasanya Nona seperti itu. Tawa ceriamu seperti permainan yang terpause oleh anak sekolah karena seorang guru datang.
Hahaha matamu itu, jangan takut melihatku, jangan menghindar. Jangan mengabaikan bola mataku Nona. Apa karena aku berusaha mencuri kekasihmu kau begitu menghindar?
Bukankah harusnya wanita jalang ini yang takut karena berusaha mengambil milik orang lain. Kekasihmu meilihmu Nona, jadi jangan seolah-olah beku jika bertemu denganku. Ini terlalu tampak, jadi aku bertanya karena tidak yakin.
"Apa kau tidak percaya diri? Apa kau takut aku tetap berusaha dengan keras untuk mencuri kekasihmu? Dia memilihmu, jadi tataplah aku dengan pandangan sombong. 'Dia milikku.' Katakan seperti itu, jadi aku akan malu."
Baiklah, anggap saja wanita jalang ini tidak punya malu.
Membenci diam-diam terkadang seperti lelucon, berusaha tersenyum, tapi hati tertekan, seperti itu benci diam-diam. Bagi wanita jalang ini, ia memilih menyukai sepihak, karena hatinya tidak akan pernah tertekan. Benci, wanita jalang ini begitu peka, meskipun diam-diam, aku akan tetap tahu.
Membenci sepihak, hal yang perlu dikasihani, karena hatinya seperti di neraka. Jangan hanya diam-diam, jangan lakukan itu, pada akhirnya hatimulah yang akan terluka.
Jika benar-benar membenciku, katakanlah. Jadi Nona tidak perlu berjuang sendirian dalam membenci. Mungkin, setidaknya kita akan seimbang; sama-sama membenci. Jangan hanya diam-diam, jangan lakukan itu, pada akhirnya hatimulah yang akan terluka.
"Ya, wanita jalang, aku membencimu."
Benar, katakan seperti itu, setidaknya aku tahu dengan pasti bahwa kau membenciku. Aku tidak perlu menebak-nebak sesuatu yang belum pasti. Jangan hanya diam-diam, jangan lakukan itu, pada akhirnya hatimulah yang akan terluka.
Meskipun kau mengatakannya, hatiku akan tetap sama. Aku tidak akan membencimu. Kau tahu kenapa, Nona? Iya, supaya hatimu tetap terluka, supaya hatimu seperti di neraka. Jadi jangan lakukan itu, jangan membenciku, karena pada akhirnya hatimulah yang akan terluka, bukan hatiku.
"Tiba-tiba bersikap aneh. Kita bukan keluarga ataupun teman dekat, jadi aku tidak punya alasan untuk sedih hanya karena hatimu yang berbeda."
Hentikan sekarang, jangan lakukan lagi, pada akhirnya hatimulah yang akan terluka, Nona.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar