"Saat itu aku sepertinya masih mengutamakan perasaan. Tulisan ini kutulis hampir dua tahun yang lalu. Sebagai pengingat bahwa anak kecil di dalam diriku masih suka mengadu."
Ketika mereka terjepit dalam suatu pilihan, aku selalu bilang,
"Pergi saja, tak ada yang perlu dipertahankan."
Dan mereka akan selalu mengelak dengan berbagai cara karena mereka tahu mereka tak akan bisa terlepas semudah itu dari jaring-jaring yang memerangkap mereka selama bertahun-tahun ini; dan aku tak pernah ingin tahu itu.
Apa aku egois? Terlebih iya. Aku tahu aku egois tetapi di balik itu semua aku tak menghendaki jika kalian hidup bagai pecandu yang depresi karena tak bisa menghisap heroin. Hai, jauh di lubuk hatiku aku menyayangi kalian. Sekarang, mereka menghampiriku di palung lamunanku.
" Itu pembodohan seperti yang sering kamu ucapkan dulu kepadaku teman! Ayo lah.. Sadar o temanku tercinta.", ucap mereka.
Kalian tahu bagaimana usaha kerasku untuk mengutip kalimat tersebut. Pucat pasi, ya. Otakku dangkal, aku memang bodoh. Berucap memang mudah, seperti yang kulakukan dulu pada kalian, semudah aku melepaskan diri dari jaring-jaring beracun yang membelenggu. Tapi itu dulu teman, sekarang aku tak bisa. Aku tergerogoti oleh prinsip kehidupan yang kubuat sendiri. Aku tak bisa bangkit melawan pembodohan dan penindasan hati. Merapuh di antara gelak tawa kalian. Termenung di sela-sela canda ceria kalian. Sembari menatap kuku-kukuku yang kian memendek. Kalian pasti tahu sebabnya, tidak perlu kuceritakan di sini
Kita adalah bos dari apa yang ingin kita lakukan. Aku memegang kemudi atas kehendak langkahku. Dan aku lah yang telah memilih dan mempertahankannya. Aku selalu meyakinkan pada kalian,
"Dia baik untukku".
Namun terkadang aku berpikir, 'Iya kah dia memang benar-benar baik untukku?'. Dengan mantap hatiku menjawab,
"Tentu saja". Pembodohan!
Apa ini pantas disebut pembodohan? Kalau pun iya, ini lebih patut disebut kebodohan-ku. Hai, kenapa aku mengulang kesalahan yang sama?
"Karena ada sesuatu yang salah di dalam dirimu." ucapnya; aku mengingat setiap kata yang dia ucapkan.
Kosong, semua telah terhempas tapi tidak dengan jeratannya. Caranya yang unik masih menghipnotis otakku. Kini, aku benar-benar menjadi pecandu kasihnya, aku menggilainya.
Ngw,11.09.11
Tidak ada komentar:
Posting Komentar