Angin Desember berdesau menggelitik
gelegak hatinya. Ialah ia yang memiliki ruang dan waktu yang sering manusia
sebut sebagai penantian. Juga mengenai kebohongan dan sanggahan yang biasa
mereka sebut sebagai penyesalan, kepadanya gadis bermata sayu tak sengaja
bersirobok di tikungan kala hujan deras bersahutan, rentang hawa dingin tahun
lalu. Beku hatinya, sebab hujan Desember menghujam tanpa kelu.
Kala kecil ia selalu mencibir awan
hitam, dan jika rinai hujan jatuh ia akan mengutuk langit lalu mengunci pintu dan
menutup gorden dan menarik selimut bersembunyi diri. Berbaring meringkuk
seperti bayi dalam rahim menuntut kenyamanan dari kilat menjulur siap menyambar.
Menyumbat telinga harap cemas tak mendengar petir berkelakar. Katanya ia
membenci hujan. Tak bisa untuk sakadar bermain petak umpet atau bola kasti
bersama kawan di lapangan dekat perempatan. Ia membenci genangan air kotor yang
menciprat pada alas kaki dan baju yang dipakainya. Juga percikan dari tanah di
teras rumah yang hanya bisa ia pandang dari balik jendela selekas hujan reda.
Tidakkah ia tahu bahwa ucap mereka, ialah
sebanyak rintik pertama hujan terjatuh serupa keajaiban yang dihadiahkan kepada
ia yang memohon? Dan kilat berupa senyuman para pemberi wahyu, sedang petir
sebagai lonceng waktu berharapmu mulai di dengar.
Hujan Desember kian berlalu, makin
ranum makin harum ia selalu. Sebab ia mulai tahu, karena hujan pemberi kehidupan.
Ia menghidupkan apa saja yang hendak mati dan menyegarkan apa saja yang sedang
layu. Menyedapkan aroma tanah kering sisa-sisa kemarau bulan lalu dan memenuhi
solum demi kemarau tahun depan. Lagi ia menyisakan
titik-titik embun pada pucuk dedaunan dan genangan air sisa hujan semalam untuk
mereka berkaca mengenai keserakahan di masa silam.
Ketika gemuruh petir mengaduh, ia
berdoa, ‘Tuhan, aku rindu dan ingin bertemu dengannya, setidaknya sekali lagi’.
Mlg. 1.12.14
Tidak ada komentar:
Posting Komentar