Apapun jika ini tulus, kita akan bertemu lagi di masa depan

Senin, 01 Desember 2014

Hujan Desember

Angin Desember berdesau menggelitik gelegak hatinya. Ialah ia yang memiliki ruang dan waktu yang sering manusia sebut sebagai penantian. Juga mengenai kebohongan dan sanggahan yang biasa mereka sebut sebagai penyesalan, kepadanya gadis bermata sayu tak sengaja bersirobok di tikungan kala hujan deras bersahutan, rentang hawa dingin tahun lalu. Beku hatinya, sebab hujan Desember menghujam tanpa kelu.

Kala kecil ia selalu mencibir awan hitam, dan jika rinai hujan jatuh ia akan mengutuk langit lalu mengunci pintu dan menutup gorden dan menarik selimut bersembunyi diri. Berbaring meringkuk seperti bayi dalam rahim menuntut kenyamanan dari kilat menjulur siap menyambar. Menyumbat telinga harap cemas tak mendengar petir berkelakar. Katanya ia membenci hujan. Tak bisa untuk sakadar bermain petak umpet atau bola kasti bersama kawan di lapangan dekat perempatan. Ia membenci genangan air kotor yang menciprat pada alas kaki dan baju yang dipakainya. Juga percikan dari tanah di teras rumah yang hanya bisa ia pandang dari balik jendela selekas hujan reda.

Tidakkah ia tahu bahwa ucap mereka, ialah sebanyak rintik pertama hujan terjatuh serupa keajaiban yang dihadiahkan kepada ia yang memohon? Dan kilat berupa senyuman para pemberi wahyu, sedang petir sebagai lonceng waktu berharapmu mulai di dengar.
Hujan Desember kian berlalu, makin ranum makin harum ia selalu. Sebab ia mulai tahu, karena hujan pemberi kehidupan. Ia menghidupkan apa saja yang hendak mati dan menyegarkan apa saja yang sedang layu. Menyedapkan aroma tanah kering sisa-sisa kemarau bulan lalu dan memenuhi solum demi kemarau tahun depan. Lagi  ia menyisakan titik-titik embun pada pucuk dedaunan dan genangan air sisa hujan semalam untuk mereka berkaca mengenai keserakahan di masa silam.

Ketika gemuruh petir mengaduh, ia berdoa, ‘Tuhan, aku rindu dan ingin bertemu dengannya, setidaknya sekali lagi’.


Mlg. 1.12.14

Tidak ada komentar:

Posting Komentar