“To you who eat a lot of rice because you are lonely,To you who sleep a lot because you are bored,To you who cry a lot because you are sad,I write this down.Chew on your feelings that are cornerned like you would chewe on rice.Anyway, life is something that you need to digest.” – Let’s Eat
Dalam
kegamangan yang mengusik tidurmu di pertengahan malam, mengenai loncatan
pikiran tak tentu arah yang kerap kali membuang waktu berhargamu. Bagaimanapun mentari
akan tenggelam dan terbit lagi. Masih lagi kau pasungkan dalam ingatan, untukmu
yang pernah tinggal dan tak pernah tanggal. Yang menjadi sebab pagi buta seakan
terlelap.
Tak
ada lagi senyuman pagi peneduh untuk sehari, yang terbiasa ada untuk hari
berikutnya. Bibirmu sesedap aroma nasi selekas masak di pagi hari, percuma, tak
dinanak lagi. Sepercuma semangkuk sayur mendampingi nasi. Tidak tahu lagi apa
yang ada di balik tudung saji di atas meja, apakah sup hangat atau hanya
tertinggal secawan pare? Setidaknya kau harus mau membukanya untuk memastikan.
Mungkin kau juga harus mencoba kerang atau udang, biar tahu apakah lembut atau
justru mendapat alergi. Sebab terkadang seseorang terlalu malas untuk memastikan,
apakah ia terluka karena kehilangan atau tidak terbiasa untuk sendiri dalam
perjalanan. Apakah menyukainya karena paras rupawan atau sekadar penasaran? Atau apakah kau bersedih karena makan sendirian atau sendiri mulai membosankan? Seperti kau pandai menentukan apakah ini pedas cabai atau merica, apakah ini
sedap rempah atau hanya penyedap rasa. Kau hanya harus terbiasa memastikan.
Mereka
yang enggan menyelusur lebih dalam ialah mereka yang takut akan rasa sakit
kebenaran. Bahwa kebenaran itulah yang dianggap luka paling mengecewakan.
Terkadang kau bisa takut bahwa ternyata kehadirannya hanya sebagai perisai
kesepianmu dalam melewati keseharian dalam beberapa bulan. Bisa juga kau takut karena baru menyadari
bahwa kau menyukainya setelah dia kembali dengan enggan. Atau barang kali
suka-tidak suka yang berlebihan, serasa terlalu banyak garam dan kunyit dalam
nasi kuning, pahit benar. Mengunyah penyesalan yang memerangkapmu dalam
kesendirian serupa terlanjur menuang banyak air dalam menanak nasi, biarpun
menjadi bubur, bukankah kau hanya perlu memastikan bahwa bubur yang kau buat
ialah bubur terlezat yang mudah dicerna dan menyembuhkan rasa sakit?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar