Sesuai perjanjian kita, segalanya harus dibicarakan, saling keterbukaan dan saling memahami.
Aku sengaja menulis surat ini, nomor teleponmu juga kuhapus
meskipun aku sudah menghapalnya di luar kepala dan alamat rumahmu masih tertempel di otak. Terasa sia-sia? Tak mengapa,
jika aku menghubungimu nanti, itu benar saja sedang terpikirkanmu. Duhai
kekasihku, mari kita saling berjauhan untuk beberapa saat. Satu setengah tahun
hubungan kita, sekarang ini aku berada pada puncak terjenuhkan. Cara tertawamu,
perhatianmu, keposesifanmu, selera humormu, dan pesonamu terasa begitu
memuakkan. Aku ingin mencoba atmosfir baru rasaku.
Jika saja hari ulang tahun atau hari jadi kita terlewatkan,
aku tidak akan mengucapkan selamat. Jadi kau jangan mengharapkannya. Tetap saja
aku berdoa semoga kau bahagia, pun aku. Malam akan berlalu seperti biasa.
Jangan menatap layar handphone terlalu lama, namun berdoalah semoga aku
merindukanmu. Tetap saja kau harus berdiri di tempatmu. Sembunyikan sifat
angkuhmu dari yang lain karena itu pesonamu, dan juga sifat sombongmu yang
menggemaskan. Sesekali jangan mencoba-coba untuk mengeluarkan sedikit senyuman
pelitmu kepada yang lain; hal yang membuatku jatuh hati padamu, mungkin mereka
akan terbuai akan damainya senyummu juga.
Coba saja jika berani menggoda perempuan lain. Pada akhirnya
kau akan tahu, “Ah kekasihku masih yang terbaik” atau “Oh dia sempurna untukku”. Kau pasti mengerti kan kenapa aku
melakukan ini? Inilah pesonamu. Aku hanya memberi waktu untuk kita saling
merindu. Bekerja keraslah untuk kestabilan ekonomi di kehidupan kelak, jadi aku
akan lebih terpesona olehmu. Sama, aku juga sedang bekerja keras. Bukankah gen
ibu lebih berperan pada kecerdasan anak? Benar saja, aku sempurna untukmu.
Kala aku menghubungimu, langsung jawab panggilanku. Jangan
terpikir untuk membuatku menunggu atau sengaja memperlama-lamakan panggilan. Apalagi akan menjadikanku berdiri sendiri di depan pintu musim dingin. Mereka biasa menyebutnya jual mahal. Itu benar-benar buruk. Kemudian ajak aku
ke suatu tempat yang kau tahu seperti apa. Aku masih dengan emosional dan
simpati yang tinggi. Ajak aku sekali saja untuk mengulurkan jari, setidaknya
sedikit saja bisa menyalurkan empati. Setelah itu ajak aku ke Yogyakarta, tak
perlu lama, hanya sehari saja. Aku ingin mendengar alunan angklung sepanjang
hari penuh, dari pagi sampai malam jenuh. Kau masih sempurna untukku. Lalu kita menjalani hari seperti
biasa, hari tanpa tahu dimana mati tiba.
Biarkan saja jika mereka menyebut kita gila, karena Tuhan
membiarkan kita selalu jatuh cinta setiap sepasang mata bergerilya.
With(out) love,
Kekasih terbosankanmu
Mlg, 10.10.2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar