Apapun jika ini tulus, kita akan bertemu lagi di masa depan

Jumat, 10 Oktober 2014

With(out) Love

Sesuai perjanjian kita, segalanya harus dibicarakan, saling keterbukaan dan saling memahami.

Aku sengaja menulis surat ini, nomor teleponmu juga kuhapus meskipun aku sudah menghapalnya di luar kepala dan alamat rumahmu masih tertempel di otak. Terasa sia-sia? Tak mengapa, jika aku menghubungimu nanti, itu benar saja sedang terpikirkanmu. Duhai kekasihku, mari kita saling berjauhan untuk beberapa saat. Satu setengah tahun hubungan kita, sekarang ini aku berada pada puncak terjenuhkan. Cara tertawamu, perhatianmu, keposesifanmu, selera humormu, dan pesonamu terasa begitu memuakkan. Aku ingin mencoba atmosfir baru rasaku.

Jika saja hari ulang tahun atau hari jadi kita terlewatkan, aku tidak akan mengucapkan selamat. Jadi kau jangan mengharapkannya. Tetap saja aku berdoa semoga kau bahagia, pun aku. Malam akan berlalu seperti biasa. Jangan menatap layar handphone terlalu lama, namun berdoalah semoga aku merindukanmu. Tetap saja kau harus berdiri di tempatmu. Sembunyikan sifat angkuhmu dari yang lain karena itu pesonamu, dan juga sifat sombongmu yang menggemaskan. Sesekali jangan mencoba-coba untuk mengeluarkan sedikit senyuman pelitmu kepada yang lain; hal yang membuatku jatuh hati padamu, mungkin mereka akan terbuai akan damainya senyummu juga.

Coba saja jika berani menggoda perempuan lain. Pada akhirnya kau akan tahu, “Ah kekasihku masih yang terbaik” atau “Oh dia sempurna untukku”. Kau pasti mengerti kan kenapa aku melakukan ini? Inilah pesonamu. Aku hanya memberi waktu untuk kita saling merindu. Bekerja keraslah untuk kestabilan ekonomi di kehidupan kelak, jadi aku akan lebih terpesona olehmu. Sama, aku juga sedang bekerja keras. Bukankah gen ibu lebih berperan pada kecerdasan anak? Benar saja, aku sempurna untukmu.

Kala aku menghubungimu, langsung jawab panggilanku. Jangan terpikir untuk membuatku menunggu atau sengaja memperlama-lamakan panggilan. Apalagi akan menjadikanku berdiri sendiri di depan pintu musim dingin. Mereka biasa menyebutnya jual mahal. Itu benar-benar buruk. Kemudian ajak aku ke suatu tempat yang kau tahu seperti apa. Aku masih dengan emosional dan simpati yang tinggi. Ajak aku sekali saja untuk mengulurkan jari, setidaknya sedikit saja bisa menyalurkan empati. Setelah itu ajak aku ke Yogyakarta, tak perlu lama, hanya sehari saja. Aku ingin mendengar alunan angklung sepanjang hari penuh, dari pagi sampai malam jenuh. Kau masih sempurna untukku. Lalu kita menjalani hari seperti biasa, hari tanpa tahu dimana mati tiba.

Biarkan saja jika mereka menyebut kita gila, karena Tuhan membiarkan kita selalu jatuh cinta setiap sepasang mata bergerilya.


With(out) love,


Kekasih terbosankanmu

Mlg, 10.10.2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar