Nyatanya aku tidak pandai dalam melupa, berbuat kejam mungkin aku akan mampu.
Kubilang aku suka sekali
merasakan denyut nadiku berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Aku terpana
takjub ketika kurebahkan tanganku pada jantung yang berdebar hebat seirama
dengan langkah kakimu. Terasa panas dan berbeda. Berdesir bagai ular siap
menerkam.
Selalu kukatakan, “Iya aku
seperti lupa ingatan.” Nyatanya, “Iya kau selalu di ingatan.” lalu mereka hanya
mengiyakan. Tetap saja jantungku berdebar hebat meski hanya melihat wajah
dinginmu. Benar bukan aku tidak pandai dalam melupa? Aku pandai dalam
berbohong. Ini hanya rahasia antara kita. Seseorang pernah berkata, “Yang
terberat dari kebenaran adalah saat dia terungkap.” Ah aku tertangkap. Tak ada
lagi lagi rahasia, karena rahasia hanya akan menjadi rahasia jika dia tetap
terjaga.
Untuk pertama kalinya aku
juga harus seperti itu, karena yang kuingat hanya jantungku yang berdebar,
hanya aku yang tersenyum terlebih dahulu. Jadi aku tidak akan membiarkannya
begitu saja. Memberikan reaksi terhadap aksi yang kau berikan adalah pilihan. Aku
akan terus seperti itu, menyembunyikan debar jantungku dan merasakannya
sendiri. Meskipun di balik punggungmu aku menyuruh mereka berhenti. “Mari
berbalik, aku tidak dapat berkonsentrasi bekerja jika kulihat wajahnya.”
Bukan, yang kuceritakan
padamu hanya semacam kebohongan. Sudah kubilang, aku pandai dalam berbohong.
Mlg.14.10.2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar