Sebab berbagi hanyalah mengenai keikhlasan
Kala senja menyapa birunya tahta, tak tersemai kata, tak ada lagi mata,
pun sapa enggan menyapa. Karena sepasang mata memanja bertaburkan air mata.
Kian jingga rona langit muka, gelap, hanya gulita. Karena kita tak lagi
mengarti sua. Bagaimanapun kita tak ma(mp)u lagi bertatap suka, bukan?
Apa yang mesti kita cari? Tak jemu menunggumu di dermaga kala senja tiba atau kau yang berkelana tanpa rasa iba?
Kutukan-kutukan manis terumpat dari bibir mungilmu tentu tak mengapa,
lantaran binar matamu mampu menggema, tak perlu lama, asal mampu membuat duduk
setia. Hingga jika nanti senja tiba, hanya seutas senyum kan meraya. Meski senja tiba, lantaran setia alih-alih
serupa musabab, biarpun mata kian sembab, wewangian kenanga tertinggal kenangan.
Sebab tangan-tangan lihaimu sudah barang tak sudi lagi menyentuh cantiknya
pekarangan ataupun membuka gorden di pagi buta. Lihatlah, merah mawar yang kita
tanam sebulan lalu di taman tak seberapa luas ini, tidak serekah kita yang dulu.
Barang kali aku duri dan engkau kelopak atau sebaliknya? Siapa yang peduli?
Bukankan mawar hanya akan menarik karena keberadaan duri? Tak elak, pulanglah
kalau-kalau ingin melihat mereka merajuk melayu.
Apa yang mesti kita curi? Hangat mentari pagi bertabur nyeri atau perhatian hangat terlilit kesumat?
Menjelang petang kala senja riang datang diantara penantian lamaku sebab
satu bulan selekas satu windu. Senja bilang, “Jangan menatapku selalu
seolah-olah kita akan bertemu sedapat penantian panjangmu. Lelaplah sebelum
malam gelap!”
Rindu mengangkuh tak karuan, “Bukankah menunggu hanya masalah waktu? Bagaimana
jika dia datang ketika tak siapapun memandang? Padamulah senja kukanmeradang.
Kuciptakan mendung biar-biar siluet membendung pesona jingga anggur merahmu.
Kuciptakan derau-derau gemuruh di sore peluh jauh dari teduh.” Maka sabar
membuncah tanpa gusar ataupun pudar. Sebab kenanga bermekaran lagi. Pagi hari
kurawat mereka; kenanga, matahari, mawar, krisan, kamboja, kaktus, jaga-jaga
kau kan pulang bersamaan sedap segar aroma tanah habis disiram. Sore hari
kutemui senja lagi. Senja terdiam, merekam ingatan tentang kita, tentang
kemarahan memakan keramahan atau tentang kau yang kabur bersama pria barumu.
Apa yang mesti kita cuci? Kesalahan tak termaafkan atau ingatan menjenuhkan?
Katamu bosan bertandang, termenung, lalu menyibak rajutan benang janji sehidup
semati dan benang kasih sayang. Koyak tak tersisa, melebur bersatu ruwetnya
problema. Jenuh serupa segelas susu penuh di atas meja, kian hari kian basi. Katamu aku
salah, aku tanya kau berkilah. Entah. Kau suruh aku menerka-nerka. Bagimu kita
serupa pinang dibelah dua, sama. Sama-sama membosankan. Teriakan tunggu ataupun
diam di situ masih tak bisa menghalau derap lincah langkah kakimu keluar pintu.
Melewati pekarangan, menggilas rerumputan, menendang selang air dan beberapa
pot kosong, dan menerkam sebagian kaktus dengan heels tinggimu. Jangankan menetap, menatap pun segan.
Apa yang mesti kita caci? Penyesalan memati atau pengertian berhenti atau kekasihmu?
Kelepak-kelepak keraguan memuncak. Kesibukanmu melukis mampu melupakanku, katamu. Berang di tepi jurang, melenggang dari ruang. Apa kau tidak tahu apa yang
kulukis? Wajah bangun tidurmu, wajah letihmu sehabis memasak, wajah marahmu
saat aku lupa mandi, wajah cemberutmu saat bercerita dan aku merespon hanya
dengan tersenyum, wajah malu-malu tersenyummu saat aku menggodamu, wajah
takjubmu memandang bunga bermekeran, wajah segarmu menghirup pagi udara atau
menyiram bunga-bunga pekarangan, wajah meringismu terkena duri mawar ataupun
kaktus. Semua tentangmu. Kutinggalkan kanvas dan kuasku di gudang bawah tanah,
lalu menunggu senja ditemani debur ombak, lagi, menunggumu termangu.
Apa yang mesti kita bagi?
Untukmu yang acap kali melupa kembali. Untukku yang kerap kali merasa
berduri. Doa. Hanya doa. Ini tidak seperti kita bisa mengungkapkan rasa cinta
kita dengan tubuh, perhatian, ataupun penantian. Kuberdoa, “Untukku lekas
melupakanmu lebih cepat dari hatimu jatuh pada kekasihmu.” Kau berdoa, “Untukmu
jangan menunggu senja tiba.”
Mlg. 04.10.2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar