Sebab terkadang, seseorang menjalani garis edar karena terpaksa, sebab itu hanya satu-satunya jalan untuk bertahan.
Kuberitahu dulu, jika kamu tidak pernah seperti itu,
berhentilah mengeja sampai di sini.
Ini mengenai tentangku. Bukan tentangmu, bukan tentangnya,
bukan tentang mereka, apalagi tentang kita. Sebab kata-kata semangat atau
tepukan pada bahu tidak berarti lagi, atau anggukan pasti dan senyuman tidak
mampu terperikan, karena mereka semua tak ada apa-apanya dibandingkan ‘mau
bagaimana lagi?’.
Pernah kukerjakan tugas dari pukul 08.00 pm sampai
01.30 am. Ini bukan mengenai kelalaian, akan tetapi mengenai kesombongan. Karena
kukira laporan itu akan telah selesai hanya dengan waktu tiga jam. Nyatanya
mereka memakan waktu lebih banyak, jauh
dari yang kuperkirakan. Ini mengenai kesombongan bukan? Aku kesulitan tidur dan
merusak kesehatanku. Aku bangun dan tidur lagi. Lama, lalu terbangun pukul
07.40 am. Oh aku ada kelas 07.30 am. Mandi cepat dan melewatkan sarapan.
Padahal biasanya aku tidak mau berangkat kalau belum sarapan, tapi mau
bagaimana lagi? Kelas itu sudah kubayar dan hakku untuk datang.
Hidungku agak sensitif, penciumanku lebih tajam dari
yang lain kurasa. Aku tidak tahan mencium sarung tangan atau benda asing yang
masuk ke dalam mulutku dalam ruangan itu. Jadi mereka kesulitan memasukkan data
dalam rekam medisku. Cara terakhir dilepaskannya sarung tangan itu. Tetap saja
aku mual sampai mata berlinang. Terlebih Co-Ass itu kena marah atasannya,
menyalahi prosedur. Katanya, lewati saja rekam medisnya, langsung saja ronsen.
Kupikir aku sudah datang kemari dan terlewati begitu saja? Bahkan ini baru
rekam medis, mau bagaimana lagi? Ditutupnya hidungku oleh temanku, kemudian
diambil semua dataku. Tidak mudah, aku masih mual beberapa kali. Istirahat
sebentar dan mulai lagi. Kutahan. Jika orang–orang disampingku berbaring dengan
tenang, aku tidak. Aku kesulitan bernafas, karena aku tidak pandai bernafas
dengan mulut dan air mataku tahu-tahu mengalir mencapai pipi.
Dalam ‘Playfull Kiss’ aku memaki Hani yang menangis
karena tenggelam berusaha menolong adik temannya. Padahal hanya seperti itu,
bagaimana bisa dia menangis di pelukan Sengjo? Jangan membuatku berpikir yang
bukan-bukan tentangmu, Hani. Namun sekarang aku tahu, apa yang dirasakan Hani,
apa yang dipikirkan Hani, apa yang ditakutkan Hani. Itu kali kedua aku merasa
benar-benar ketakutan. Tidak bisa berenang dan bernafas. Mungkin hanya satu
menit, tapi tidak ada lagi kata yang bisa menggambarkan bagaimana aku waktu
itu. Untung saja aku masih hidup, menepi dan air mataku menetes. Tidak ada yang
tahu, semua basah. Untunglah. Waktu itu aku ingin menangis, tidak tahu dimana
dan seperti apa. Hanya marah. Jadi sewaktu sudah sampai depan pintu rumah aku
menangis sejadi-jadinya. Berlebihan? Kau, tenggelamlah dulu dan sesak nafas,
biar tahu rasanya jadi aku. Hingga ketika aku pertama melihat kolam setelah
kejadian itu, perutku mual, kepalaku pusing dan lemas tidak mampu berdiri.
Hanya terbayang bagaimana kakiku menjejak-jejak air dan mengacungkan tanganku
dan meminta tolong dengan kesusahan. Ternyata benar bahwa trauma itu memang
ada. Namun sepupuku bilang, “Jangan manja! Sebelum mengenai orang lain, setidaknya
tolonglah dirimu sendiri”. Mau bagaimana lagi? Sebab aku memang bertekad untuk
bisa, sebab menyentuh air satu-satunya jalan supaya aku bisa menolong diriku sendiri.
Jadi selama tiga hari setiap sore aku berlatih. Sekarang belum pandai benar,
tapi bisa.
Sekarang kamu tahu bagaimana takjubnya ‘mau bagaimana
lagi?’. Seperti ini, karena aku mengingat kembali beberapa kenangan buruk, mau
bagaimana lagi? Aku hanya ingin menangis dan terlelap tidur, malam ini.
Mlg. 21.11.14
Tidak ada komentar:
Posting Komentar