Apapun jika ini tulus, kita akan bertemu lagi di masa depan

Jumat, 21 November 2014

Mau Bagaimana Lagi?

Sebab terkadang, seseorang menjalani garis edar karena terpaksa, sebab itu hanya satu-satunya jalan untuk bertahan.


Kuberitahu dulu, jika kamu tidak pernah seperti itu, berhentilah mengeja sampai di sini.

Ini mengenai tentangku. Bukan tentangmu, bukan tentangnya, bukan tentang mereka, apalagi tentang kita. Sebab kata-kata semangat atau tepukan pada bahu tidak berarti lagi, atau anggukan pasti dan senyuman tidak mampu terperikan, karena mereka semua tak ada apa-apanya dibandingkan ‘mau bagaimana lagi?’.

Pernah kukerjakan tugas dari pukul 08.00 pm sampai 01.30 am. Ini bukan mengenai kelalaian, akan tetapi mengenai kesombongan. Karena kukira laporan itu akan telah selesai hanya dengan waktu tiga jam. Nyatanya mereka memakan waktu  lebih banyak, jauh dari yang kuperkirakan. Ini mengenai kesombongan bukan? Aku kesulitan tidur dan merusak kesehatanku. Aku bangun dan tidur lagi. Lama, lalu terbangun pukul 07.40 am. Oh aku ada kelas 07.30 am. Mandi cepat dan melewatkan sarapan. Padahal biasanya aku tidak mau berangkat kalau belum sarapan, tapi mau bagaimana lagi? Kelas itu sudah kubayar dan hakku untuk datang.

Hidungku agak sensitif, penciumanku lebih tajam dari yang lain kurasa. Aku tidak tahan mencium sarung tangan atau benda asing yang masuk ke dalam mulutku dalam ruangan itu. Jadi mereka kesulitan memasukkan data dalam rekam medisku. Cara terakhir dilepaskannya sarung tangan itu. Tetap saja aku mual sampai mata berlinang. Terlebih Co-Ass itu kena marah atasannya, menyalahi prosedur. Katanya, lewati saja rekam medisnya, langsung saja ronsen. Kupikir aku sudah datang kemari dan terlewati begitu saja? Bahkan ini baru rekam medis, mau bagaimana lagi? Ditutupnya hidungku oleh temanku, kemudian diambil semua dataku. Tidak mudah, aku masih mual beberapa kali. Istirahat sebentar dan mulai lagi. Kutahan. Jika orang–orang disampingku berbaring dengan tenang, aku tidak. Aku kesulitan bernafas, karena aku tidak pandai bernafas dengan mulut dan air mataku tahu-tahu mengalir mencapai pipi.

Dalam ‘Playfull Kiss’ aku memaki Hani yang menangis karena tenggelam berusaha menolong adik temannya. Padahal hanya seperti itu, bagaimana bisa dia menangis di pelukan Sengjo? Jangan membuatku berpikir yang bukan-bukan tentangmu, Hani. Namun sekarang aku tahu, apa yang dirasakan Hani, apa yang dipikirkan Hani, apa yang ditakutkan Hani. Itu kali kedua aku merasa benar-benar ketakutan. Tidak bisa berenang dan bernafas. Mungkin hanya satu menit, tapi tidak ada lagi kata yang bisa menggambarkan bagaimana aku waktu itu. Untung saja aku masih hidup, menepi dan air mataku menetes. Tidak ada yang tahu, semua basah. Untunglah. Waktu itu aku ingin menangis, tidak tahu dimana dan seperti apa. Hanya marah. Jadi sewaktu sudah sampai depan pintu rumah aku menangis sejadi-jadinya. Berlebihan? Kau, tenggelamlah dulu dan sesak nafas, biar tahu rasanya jadi aku. Hingga ketika aku pertama melihat kolam setelah kejadian itu, perutku mual, kepalaku pusing dan lemas tidak mampu berdiri. Hanya terbayang bagaimana kakiku menjejak-jejak air dan mengacungkan tanganku dan meminta tolong dengan kesusahan. Ternyata benar bahwa trauma itu memang ada. Namun sepupuku bilang, “Jangan manja! Sebelum mengenai orang lain, setidaknya tolonglah dirimu sendiri”. Mau bagaimana lagi? Sebab aku memang bertekad untuk bisa, sebab menyentuh air satu-satunya jalan supaya aku bisa menolong diriku sendiri. Jadi selama tiga hari setiap sore aku berlatih. Sekarang belum pandai benar, tapi bisa.

Sekarang kamu tahu bagaimana takjubnya ‘mau bagaimana lagi?’. Seperti ini, karena aku mengingat kembali beberapa kenangan buruk, mau bagaimana lagi? Aku hanya ingin menangis dan terlelap tidur, malam ini.


Mlg. 21.11.14

Tidak ada komentar:

Posting Komentar