Terpaku diantara bola-bola mata saling
menghanyut
Menyayat hati menembus deburan ombak di
hadap raga
menghantam palung rasa tanpa jeda tanpa
dekap
Bahkan jika angin kencang menjerap,
kaki-kaki kecilmu memilih melekat menghujam tajamnya karang peraduan
Sebab katamu kau masih menyukai biru. Dari
biru langit dan biru laut dan biru balon dan biru kebiruan
Katamu laut itu indah. Biru berkelip
menyihir tanpa berkedip. Memandang burung-burung bebas melayang tepat pada rupa
air, dan perahu-perahu nelayan terombang-ambing ombak lepas juga tak lupa
mengikis cemas. Tatkala barang sejenak memandang lurus, ia terlihat jauh tanpa
batas. Di sanakah ujung dunia? Atau pintu surga barang kali?
Lalu seketika laut yang kau pandang serupa
semerah darah dan tak ada lagi burung, hanya kalong berkeliaran hilang arah.
Lalu masihkah kau menyukai laut? Atau apakah kau akan lebih bersedih dari drama
bodoh yang kutonton?
Katamu juga kau menyukai biru langit.
Bersih tanpa dalih. Seluas kerendahan hati hingga mata mengentas. Namun jika
sore menjemput, langit kan semerah senja. Senja tanpa reda. Semerah anggur
gundhi penuh ambisi kian mengusik malam tanpa berbisik pada sinar hangat
mentari. Jika seperti itu masihkah kau menyukai langit? Bahkan tak jarang
awan-awan kian bersekongkol melepas rindu. Saling merangkul dan menangis.
Diciptakannya bulir-bulir air dan dijadikannya langit sebuah sebab. Lalu
menurutmu apakah awan pantas sebagai pajangan? Masihkah kau menyukai langit?
Atau apakah kau akan marah dan mengutuk hujan?
Bahkan jika tidak biru lagi, masihkah kau
menyukai mereka? Lalu masihkah aku mengaku menyukaimu?
Mlg. 28.11.14
Tidak ada komentar:
Posting Komentar