Apapun jika ini tulus, kita akan bertemu lagi di masa depan

Minggu, 16 November 2014

Putri Malu: Aku Membencimu, Tuan.

Pada Tuan kumengadu
Aku membencimu terlalu

Aku sekadar tumbuhan liar penunggu. Tubuhku penuh duri menusuk apa saja didekatku. Aku sedikit pemalu. Namun begitu, syarat bunga sebutku. Bunga (liar)ku merah muda penuh haru. Indah katanya, meski lekat-lekat menatapku termangu hilang waktu. Orang-orang menyebutku putri malu, karena aku memang pemalu.

Aku sensitif pada barang apa seja lewat di dekatku. Rintik hujan dan semilir angin dan gugur daun dan hentakan dan sekelebatan, aku akan menelungkupkan daun mukaku berbarengan tanpa komando. Kerap kali anak-anak kecil akan sengaja menyentuhku dengan runcing kayu hanya untuk melihatku menyembunyikan kepak daun lebarku atau sengaja menjatuhiku dengan batu-batu besar tajam tanpa ampun. Tak mengapa karena aku hanya tumbuhan diantara semak belukar dan mereka tidak berani memetikku. Sebab duri tajamku melukai mereka, lalu menjauhiku cepat-cepat. Mereka sering menyebutku penggangu, entah, padahal aku tidak pernah merusak tanaman hias yang mereka rawat bak bayi lahir. Aku tidak akan muncul pada pekarangan ataupun pot-pot cantik di depan rumah. Kata mereka aku tak sedap dipandang mata. Sebut saja aku cukup tahu diri di mana aku harus berdiri.

Pagi itu sehabis embun merajuk sebab mentari bersinar lebih terik dari biasanya, seperti biasa aku melakukan rutinitasku. Menikmati semilir angin sambil sesekali meringkuk penuh takut pada gerakan cepat tanpa intruksi. Hari ini berbeda, kudengar derap gontai langkah kaki mendekati tubuhku. Tidak secepat itu aku menutup diri, sebab irama langkahnya seperti kode bahwa iya akan tiba.

Tuan tampan pemegang mawar
Aku tidak mengira, untuk pertama kalinya daun, batang, duri, dan bungaku terjepit diantara tanah dan kaki. Rasanya rempu redam menghujam. Duri-duriku menusuk pada kulit halus tepat diatasku. Masih bisa kucium semerbak anyir darah yang merembes dari kaki itu.
“Astaga, bunga pertamaku mati tanpa permisi.”

Kaki Tuan itu berlalu, terlebih pergi. Tunggu dulu, aku baru tahu, warna darah serekah merah pekat mawar yang dijatuhkannya pada sirip daun-daunku. Biasanya aku hanya melihat setetes darah yang keluar dari jemari anak kecil yang merengek karena tak sengaja tersentuh duriku. Tuan pemegang mawar kembali lagi, mengambil mawar. Tak sengaja tangannya menyentuhku, aku menutup diri lagi. Terpaku.

Kubilang pada rerumputan dan semak-semak dan ilalang, aku membenci Tuan pemegang mawar itu. Aku akan-akan berantakan dengan bau yang ditinggalkan. Untung saja langit berada dipihakku. Diturunkannya rintik-rintik hujan mengenai seluruh badanku. Menyapu segala anyir menempel. Tak kupedulikan, aku akan mekar lebih segar dari hari ini. Dengan daun lebih lebar dengan bunga lebih besar dan terang dari biasanya.

Esok hari wajahku sudah merona berhias bola-bola merah muda diantara tingginya ilalang menjulang. Aku siap menerpa hangat mentari ataupun kerikil-kerikil kecil menjahil.

Tak kusangka Tuan pemegang mawar kembali lagi, pun dengan cara yang sama masih dengan sekuntum bunga. Diinjaknya aku lagi, masih dengan kaki yang sama, masih dengan anyir yang sama, masih dengan hancur daun dan bunga-bunga.  Ini sedikit keterlaluan. Aku akan menanyainya.
“Tuan, apa yang kau lakukan dengan menginjakku yang rapuh ini?”
“Tuan, apa kau tidak melihat aku ada disini?”
“Tuan, aku juga butuh bernafas. Tidak bisakah kau tidak mencekik leherku?”
“Tuan, tidakkah kau melihat pesonaku hanya bunga merah mudaku? Jika kau hancurkan, apalagi yang kimiliki?”
“Tuan, kumohon…”

Aku berusaha sekuat tenaga menelungkup melindungi diri. Ini lebih anyir dari sebelumnya, bagaimana bisa Tuan itu tidak melepaskan cekikannya? Ilalang berteriak mengkhawatirkanku. Semak belukar menarik menyelamatkanku. Sia-sia. Kubilang aku membenci Tuan tak tahu diri ini.

Tuan pemegang mawar hanya membisu tanpa nafsu, tak bergerak seinchi dari tempatnya untuk menepi.
“Aku membencimu Tuan.”

Diam lagi. Tik tok tik tok tik tok..
Kurasakan air hujan menetes di dedaunan dan bunga-bungaku. Ah langit berpihak lagi padaku, pikirku. Bukan. Air ini, air hujan dari Tuan pemegang mawar. Dingin.

Pada Tuhan kumengadu
Aku terlalu malu untuk mengaku aku tidak butuh waktu lama untuk menyukaimu

Kau satu-satunya yang mau mendekatiku terlebih tak masalah dengan duri tajamku. Ini membuatku terasa istimewa. Kujatuhkan hatiku padamu tanpa perlu satu alasan. Aku tidak berani mengaku pada semak dan ilalang, sebab mereka akan mengejekku.

Pesona tampanmu, lebar dahimu, dan lembut telapak kakimu, mungkin tak masalah jika kubagi indah bungaku tanpa mahkota. Wajah risaumu tentu benar menggambarkan suasana hatimu. Aku tahu dari awal. Kubiarkan kau menginjak sesukamu. Sakit yang kau rasa, berbagilah denganku. Bagaimana bisa kau menginjakku tanpa alas kaki? Bagaimana bisa kau melukai dirimu sendiri? Agar kita impas? Sudahlah.

Bahwa sesakitan yang kurasa mungkin belum sebanding olehmu. Tetap saja aku mengharapkanmu kembali lagi. Kupersiapkan bunga dan daun terbaik untukmu. Namun tetap saja masih belum bisa menggantikan rasa sakitmu. Masih saja, hari ini kau lukai tubuhmu sendiri, Tuan. Memang seberapa besar kau bersalah sampai kau membalasnya dengan menyakiti dirimu sendiri? Ambillah duriku lebih banyak dan buanglah lukamu lebih cepat mengalir bersama merah darah dan serekah kelopak-kelopak mawar. Sehabis itu bersinarlah.

Air matamu yang dingin. Bagaimana bisa sebegitu dingin bak air hujan?  Orang lain akan terasa hangat. Bahkan menangis saja sudah begitu menyedihkan, bagaimana bisa air mata akan menghiburmu jika itu sebegitu dingin? Lalu sedingin apalagi hatimu?

Tanganmu tak sebanding dengan telapak kakimu. Juga sama, sedingin air mata. Bagaimana bisa kau menghangatkan air matamu dengan telapak yang dingin itu? Apa tercuri rekah mawar?

Sebenarnya, selain duri untuk membuang lukamu, tidak bisakah daun-daunku menghapus air matamu? Tidak bisakah bunga-bungaku kau rangkai untuk menghiburmu? Tidak bisakah aku, si Putri Malu ini mengganti Mawar Merah? Atau barang kali, tidak bisakah paling tidak aku menyamai Mawar Merah?

Datanglah lagi esok hari, lalu lusa, lalu kemudian hari selanjutnya dan selanjutnya. Biarkan terlebih dulu kau mengenal duriku, Tuan, lalu batangku, lalu daunku, lalu bungaku, lalu petik aku dan sempatkan aku berada disampingmu.
Selamanya, Tuan.


Mlg. 16.11.2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar